
"Wah, putri Ayah cantik sekali" puji Ayah Aditya menatap ke arah tangga.
Bunda Maryam dan Kai mengikuti pandang sang Ayah. Tampak Jennie menuruni anak tangga dengan pelan. Tak hanya Ayah Aditya yang terpesona dengan kecantikan Jennie, Bunda Maryam pun sama halnya. Lalu bagaimana dengan Kai ?... Kalau itu mah nggak usah ditanya lagi. Pria itu bahkan merasa ingin mengurung istrinya agar hanya Dia yang bisa menikmati kecantikan milik Jennie.
"Putra Bunda memang tidak salah jatuh cinta dengan kamu sayang" ujar Bunda Maryam menghampiri Jennie yang sudah berada di ujung anak tangga.
Jennie tersenyum mendengar pujian dari sang Ayah dan ucapan dari sang Bunda. Dalam benaknya cukup bersyukur karena Ia tidak menikahi pria lain, meskipun di awal menyakitkan dan belum ada perasaan dengan sang suami. Lalu mengapa Ia bersyukur ?, jawabnya karena Ia bisa terus bersama dengan kedua orang tua angkatnya dan juga jika menikahi pria lain mungkin saja Ia tidak akan mendapatkan mertua sebaik mereka.
"Bunda, apa Ibu kandung Jennie juga cantik ?" tanya Jennie penasaran. Wanita itu penasaran dengan wajah kedua orang tuanya namun masih enggan melihat foto mereka.
"Cantik... Cantik sekali sayang. Dan kecantikannya kini menurun kepada putrinya" ucap Bunda memuji kecantikan Bunda Desi. Tak bisa Ia pungkiri kecantikan wanita itu, bahkan Ayah Aditya sebelum mengenal Bunda Maryam bisa jatuh hati dengan Bunda Desi.
"Nanti jika kamu sudah siap melihat wajah mereka, Bunda dengan senang hati memperlihatkannya untuk kamu sayang" lanjut Bunda Maryam.
Jennie mengangguk pelan dan tersenyum manis kepada sang Bunda.
"Ayo berangkat !" ajak Kai yang ternyata sudah berdiri di samping sang istri. Pria itu tak mengulurkan tangan lagi melainkan langsung memeluk posesif pinggang sang istri.
Bunda Maryam tersenyum melihat tingkah putranya dan Ayah Aditya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Putramu itu mengapa bisa posesif sekali dengan menantu kita ?" tanya Ayah Aditya setelah Jennie dan Kai pergi.
"Mengapa bertanya pada Bunda ? Coba tanya pada diri sendiri !"
"Masa iya Ayah bertanya pada diri sendiri terus jawab untuk pertanyaan dari diri sendiri. Kan ribet" ucap Ayah Aditya.
Bunda Maryam memutar bola matanya dengan malas mendengar ucapan sang suami. Jika Ayah Aditya bertanya mengapa putranya bisa posesif ya jawabannya ada pada Ayah Aditya sendiri.
🌹🌹🌹
"Akhirnya kamu datang juga" Joshua segera menghampiri Kai dan Jennie saat melihatnya masuk ke dalam ballroom.
"Hai Jennie" sapa Riko hendak melakukan ritual cipika-cipiki dengan Jennie.
Dengan cepat Kai menampar wajah Riko saat pria itu memajukan wajahnya ke arah sang istri. Riko mengelus wajahnya yang terasa perih lalu hendak memaki Kai namun niatnya Ia urungkan saat melihat Kai menatapnya dengan tatapan pembunuh.
"Berani kau menyentuh istriku akan ku buat wajah tampan milikmu hancur !" ancam Kai yang masih terlihat kesal.
"Hehehe... Aku hanya bercanda, aku hanya ingin mengetes dirimu saja" jawab Riko dengan asal.
__ADS_1
Kai menatap malas dengan temannya itu. Ini yang membuat dirinya jarang berkumpul dengan temannya lagi, mereka selalu menggodanya dan menguji kesabarannya.
"Cari wanita lain saja Rik !" saran Dokter Ricard terkekeh.
"Iya, masih ada Meli kok" sambung Joshua.
"Ck... Kayak dirimu sudah dapat wanita saja sih" ucapnya kesal kepada Dokter Ricard.
"Eiit... Ricard tak perlu mencari wanita karena sudah ada wanita yang selalu setia menunggunya" goda Joshua.
"Berhentilah ! Apa kalian lupa jika istriku sedang hamil ? Kalian malah membiarkan Jennieku berdiri begitu lama" ucap Kai kesal.
"Ya Tuhan, mengapa kami bisa lupa jika ada keponakan kami disi-" ucap Riko hendak mengelus perut rata milik Jennie namun lagi-lagi dengan sigap Kai menepis tangan pria itu.
"Sudah ku katakan jangan berani menyentuhnya !"
"Iya... Dasar pria bucin, suami posesif" ledek Riko namun tak digubris lagi oleh Kai.
Mereka akhirnya cucuk di sebuah meja bagian depan. Kai terus menempeli istrinya sehingga membuat sang istri merasa risih. Bagaimana tidak risih jika beberapa orang menatap ke arah mereka.
"Berhentilah menempeli ku !" pinta Jennie mendorong tubuh Kai agar sedikit menjauh.
"Apa kamu tidak malu ? Lihatlah, banyak orang memandang ke arah kita !"
"Justru karena mereka melihat ke arah kita, aku harus terus menempel denganmu agar mereka tau jika kamu sudah bersuami"
"Terserah" jawab Jennie dengan malas.
Riko dan Dokter Ricard hanya jadi penonton perdebatan dari pasutri tersebut. Mereka merasa hanya jadi pengusir nyamuk saja.
"Kai..."
Kai memutar kepalanya ke arah pemilik suara yang memanggilnya.
"Valen..." balasnya.
Valen segera menghampirinya dan memeluk pria itu. Kai mematung saat wanita itu memeluknya, perasaannya mendadak tidak enak saat melihat Jennie membuang muka. Riko dan Dokter Ricard tak kalah terkejutnya saat melihat seorang perempuan berani memeluk Kai di depan Jennie.
"Sepertinya akan ada perang antara pasutri nih" bisik Riko kepada Dokter Ricard.
__ADS_1
"Kai, aku begitu merindukan mu. Mengapa kamu pergi begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu denganku !" ucap Valen dengan wajah sedih.
"Aku..."
Saat Kai hendak menjawab tiba-tiba saja Tuan Sean menarik Valen dengan kasar. Kai yang melihat itu merasa geram.
"Mengapa kamu menariknya dengan kasar ?" Kai menatap tajam Tuan Sean.
"Bukan urusanmu !" balas Tuan Sean, "Dan kamu, jangan bikin malu !" ucapnya kepada Valen.
Jennie yang tadinya membuang wajah ke arah lain kini kembali menatap Kai, Valen dan Tuan Sean secara bergantian. Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
"Memang salah jika aku memeluk pacarku ?"
Pertanyaan Valen sontak membuat keempat pria itu melotot tak percaya, mereka terkejut dengan ucapan Valen terutama Kai dan Tuan Sean. Lalu Jennie ?... Wanita itu tak berekspresi sama sekali namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam ada rasa nyeri begitu mendengar suaminya memiliki kekasih selain Arumi.
"Valen kamu ini ngomong apa sih ?" bentak Kai. Pria itu tampak emosi dan ketakutan. Ia emosi dengan kebohongan Valen dan Ia merasa takut jika istrinya marah.
"Kai... Kamu tidak ingat kita pernah..."
"Cukup Valen ! Sekarang ikut denganku !" Tuan Sean menarik Valen dengan kasar. Pria itu emosi tapi bukan karena Ia merasa cemburu melainkan Ia emosi karena Ia yakin ucapan Valen tadi telah menyakiti perasaan wanitanya.
"Lepaskan ! Kamu ini apa-apaan sih, sakit tau"
Tuan Sean mengehentikan langkahnya saat keluar dari ballroom. Ia menatap Valen dengan tatapan tajam membuat Valen seketika ketakutan. Valen bisa merasakan kemarahan yang ditahan Tuan Sean. Wanita itu berpikir apakah pria di depannya marah karena cemburu atau karena hal lain ?
"Selain pegawai mini market itu dan Kai, siapa lagi pria yang akan kamu akui sebagai kekasihmu ?" tanya Tuan Sean dengan tegas.
"Em... Itu..." Valen tampak semakin ketakutan melihat kemarahan Tuan Sean. Ia tidak menyangka jika pria itu akan merasa cemburu.
"Kali ini kamu sangat keterlaluan Valen"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai Readers 👋 sambil nungguin Up, yuk mampir di novel karya teman Sa 🤗
Judul : Berbahagia Setelah Berpisah Denganmu
__ADS_1
Napen : Rara69