Bad Love With My Brother

Bad Love With My Brother
Kecopetan


__ADS_3

"Raffa duduk disini !" Valen menepuk kursi di sampingnya.


"Tidak bisa !" celetuk Tuan Sean tidak terima, "Jangan duduk di samping istriku !" lanjutnya dengan tegas.


"Lalu dia harus duduk dimana ?" tanya Kai yang merasa kasihan dengan Raffa yang terus berdiri.


"Begini saja, Meli pindah duduk di samping istriku. Jennie pindah ke kursi Meli, terus kamu pindah ke kursi milik Jennie dan pria itu duduk di sampingmu. Lebih tepatnya di hadapanku !" Jelas Tuan Sean panjang kali lebar.


"Ck... Memang pria bucin itu sangat ribet. Aku tidak mau !" tolak Kai.


"Jika tidak mau, biarkan pria itu duduk di samping Jennie saja !"


"Ck... Bicaramu itu..." kesal Kai, mau tidak mau akhirnya pria itu melakukan yang diperintahkan Tuan Sean.


Ketiga wanita itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua calon Ayah yang begitu posesif dan cemburuan. Sementara Raffa bernafas lega setelah melihat sifat posesif dari Tuan Sean. Awalnya Ia pikir pernikahan Valen dan Tuan Sean akan sulit membuat mereka jatuh cinta. Namun ternyata dugaannya salah, Ia bersyukur karena Valen bisa begitu dicintai oleh suaminya.


"Oh Iya, bagaimana bisa Raffa mengantarkan kami kesini ?" tanya Jennie setelah Raffa duduk di kursi samping Kai.


"Nggak tau tuh, tiba-tiba aja muncul nawarin bantuan" jawab Meli sambil menyantap makanannya.


"Bisa kebetulan gitu ya ?" tanya Jennie melirik ke arah Raffa dengan tatapan menyelidik.


"Sayang, jaga mata !" tegur Kai yang membuat Jennie kesal.


"Benar kata kamu Jen, kok bisa kebetulan gitu sih ? Kebetulan ban mobil pecah, kebetulan nggak ada taxi, kebetulan Raffa lewat. Apa jangan-jangan ini cara Tuhan buat mendekatkan kalian ?" tebak Valen menggoda Meli dan Raffa.


Meli tak menggubris perkataan Valen, sebisa mungkin wanita itu menampilkan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja. Padahal dalam hatinya berharap memang ini adalah cara Tuhan buat persatukan dirinya dan Raffa.


Diam-diam Raffa memperhatikan raut wajah Meli, ada yang aneh dari raut wajah Meli, pikirnya. Jika biasanya wanita yang suka sama cowok pasti saat digoda maka akan menunjukkan wajah memerah karena malu-malu tapi mau atau salah tingkah. Tapi yang didapat Raffa hanyalah raut wajah datar dan biasa saja.


"Apa Dia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padaku ?" batinnya bertanya.

__ADS_1


"Sudahlah ! Berhenti menggoda mereka ! Sebaiknya kita makan karena sebentar lagi jam istirahat habis" ucap Kai.


Akhirnya semua kembali fokus pada makanannya. Kai dan Jennie sesekali saling menyuapi begitu juga dengan Valen dan Tuan Sean. Sementara Meli merasa gondok melihat kemesraan kedua pasutri tersebut. Sesekali wanita itu melirik ke arah Raffa, begitu juga dengan pria itu yang ternyata sering mencuri pandang ke arah Meli.


"Mengapa aku merasa kecewa karena wanita itu sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padaku ?" tanya Raffa dalam hati. Ia bingung mengapa hatinya terasa sesak saat tahu Meli sudah tidak menyukainya.


Setelah selesai makan siang akhirnya mereka saling berpamitan.


"Meli kamu pulang dengan Raffa ?" tanya Jennie pada Meli.


"Terus pulang sama siapa kalau nggak bareng dia ?" bukannya menjawab Meli justru balik bertanya dengan ketus. Bagaimana Ia tidak ketus jika sedari tadi dirinya dan Raffa terus-terusan digoda oleh Jennie dan Valen.


"Sudah capek-capek tahan perasaan, eh... malah diledekin terus" gerutu Meli dalam hati.


"Tidak perlu malu-malu kucing gitu dong Mel !" ledek Jennie semakin membuat Meli kesal.


"Udah sana pulang ! Tuh suami bucinmu sudah menunggu di parkiran"


Wanita itu mulai menjauh dari Meli dan Raffa. Saat Jennie sudah semakin dekat dengan mobil suaminya tiba-tiba saja dua orang laki-laki yang mengendarai sepeda motor menarik tas milik Jennie. Jennie yang sadar tasnya ditarik seseorang mencoba melawan. Wanita itu mencoba menarik kembali tasnya hingga terjadilah aksi tarik menarik. Namun pria itu mendorong tubuh Jennie dengan keras hingga terjatuh dan pria tersebut berhasil membawa tas milik Jennie.


Kai yang melihat kejadian itu segera keluar dari mobil dengan panik. Begitu juga dengan Meli dan Raffa yang melihat Jennie tergeletak di tanah dengan cepat menghampiri wanita hamil itu. Beberapa orang yang melihat kejadian itu mengerumuni Jennie dan sebagian mengejar pengendara sepeda motor tersebut.


"Sa-yang... Sa-kit..." ucap Jennie terbata. Wanita itu memengang perutnya yang terasa sakit karena terbentur di tanah. Keringat dingin memenuhi kening wanita itu.


"Sayang..." ucap Kai lirih. Ia sangat ketakutan saat melihat wajah pucat istrinya dan mendengar istrinya terus meringis kesakitan.


"Jennie..." ucap Meli pelan, matanya kini tertuju pada bagian paha Jennie yang terlihat dialiri sebuah cairan bercampur darah yang Ia yakini adalah air ketuban.


"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit sekarang !"


Tanpa menunggu lama lagi Kai mengangkat tubuh istrinya, "Mel, kamu bawa mobilnya !" perintah pria itu.

__ADS_1


Meli menarik tangan Raffa agar ikut dengan mereka mengantar Jennie ke rumah sakit. Di dalam mobil Jennie terus merintih kesakitan. Bahkan wanita itu mencengkeram erat tangan suaminya saat merasakan sakit di perutnya. Sementara Kai hanya bisa menguatkan sang istri agar bisa bertahan hingga rumah sakit.


"Tahan sayang ! Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" ucapnya.


Setelah sampai di rumah sakit Kai segera membawa istrinya masuk UGD.


"Sebaiknya Bapak tunggu di luar !" ucap seorang perawat.


Kai menurut meskipun Ia tidak rela meninggalkan istrinya yang terus merintih kesakitan. Kai bersandar di dinding dengan tubuh yang terasa lemas. Pria itu terisak saat rintihan istrinya terus terngiang-ngiang di telinganya. Ketakutannya selama ini tentang mimpi buruk itu kini menjadi kenyataan. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Jennie dengan baik.


Sementara di dalam Jennie terus menjerit kesakitan, "Dok... Sakit... Perutku sakit... Dok... Tolong aku..." ucap Jennie.


"Sabar ya ibu ! Jangan menjerit-jerit agar Dokternya bisa konsentrasi !" ucap seorang perawat.


"Kita harus segera mengeluarkan bayinya ! Masih ada kesempatan untuk bayi ini lahir dengan selamat" ucap sang Dokter, "Cepat sediakan ruang operasi ! Dan minta persetujuan dari keluarganya !"


Pintu ruang UGd terbuka, Kai segera berdiri dan mendekati perawat yang baru saja keluar.


"Bagaimana Sus keadaan istri dan calon anak saya ?" tanya Kai dengan suara serak.


"Bayinya masih bisa diselamatkan dengan cara melakukan operasi. Kai hanya butuh persetujuan Bapak agar kami bisa melakukan operasi tersebut !" Jelas sang Suster.


"Tolong selamatkan istri dan calon anakku dengan cara apapun !" pinta Kai.


"Baik, silahkan tanda tandatangani surat ini pak !"


Tanpa pikir panjang Kai mengambil ballpoint dan menandatangani surat tersebut. Setelah itu, pintu UGD kembali tertutup.


Kai kembali duduk di kursi bersama Raffa dan Meli. Ia tak hentinya berdoa agar sang istri bisa terselamatkan dan bayinya lahir dengan selamat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2