
Hari berganti hari, bulan begitu cepat berlalu. Tidak terasa kehamilan Jennie kini memasuki Tujuh bulan. Kai semakin posesif terhadap istrinya. Tak jarang Kai bolos kerja hanya karena sang istri mengalami sakit punggung ataupun keram perut. Mau tidak mau Ayah Aditya harus turun tangan membantu perkejaan kantor yang seharusnya dikerjakan olah putra semata wayangnya.
Pagi hari ini Kai berangkat ke kantor di dampingi oleh Jennie. Hal ini memang tak jarang terjadi karena permintaan sang suami.
"Padahal hari ini aku ada janji temu dengan Meli" gerutu wanita itu.
Lagi-lagi pertemuannya dengan sahabatnya haru tertunda karena permintaan suami posesifnya. Ini bukanlah kali pertama atau kali keduanya Ia harus membatalkan janji dengan Meli.
"Kamu atur saja janji untuk bertemu saat jam makan siang nanti !" ucap Pria itu dengan santai. Tangan kanannya sibuk mengendalikan setir mobil sementara tangan kirinya sibuk mengelus perut istrinya.
"Tapi aku mau pergi berdua saja bersama Meli, kalau mas ikut waktuku bergosip dengan dia hanya sebentar"
"Tapi setidaknya kalian bertemu sayang"
Jennie yang tidak ingin berdebat dengan Kai hanya menghembuskan nafas dengan kasar. Sungguh sejak kehamilannya memasuki usia lima bulan hingga sekarang suaminya begitu membatasi ruang geraknya. Terkadang Jennie merasa kesal namun Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Kai memiliki seribu alasan agar wanita itu menurut.
"Jangan cemberut seperti itu sayang ! Mas bukannya ingin membatasi ruang gerak kamu, hanya saja mas begitu banyak rasa kekhawatiran terhadap kamu dan calon bayi kita. Mas harap kamu bisa paham dengan semua perasaan mas"
Kai tahu istrinya pasti merasa sulit bergerak bebas karena sikap posesif dan egois darinya. Bukan tanpa alasan Kai memiliki rasa khawatir yang begitu besar pada sang istri. Mimpi buruk tentang kehilangan calon anaknya selalu menghantui malam Kai. Bahkan pria itu terkadang tidak bisa tidur nyenyak karena mimpi tersebut. Maka dari itu, Kai memilki ketakutan yang tinggi.
"Maaf jika aku keras kepala" ucap Jennie pelan.
"Bukan kamu yang harus minta maaf sama mas. Tapi mas yang harus minta maaf karena bersikap egois padamu" ucapnya mengelus lembut pucuk kepala sang istri.
"Aku mengerti dengan sikap mas. Terima kasih karena terus memikirkan keadaanku dengan calon anak kita"
"Itu sudah menjadi tugasku karena begitu mencintaimu"
Di balik rasa kesalnya dengan sikap posesif sang suami ada rasa bersyukur karena dirinya begitu dicintai dan prioritaskan oleh suaminya. Jennie benar-benar beruntung karena selalu di-ratukan oleh suaminya.
Saat sampai di perusahaan Kai langsung disuguhkan dengan tumpukan berkas di atas mejanya. Pria itu fokus dengan dokumen-dokumen tersebut sementara Jennie duduk di sofa sambil memainkan handphone miliknya.
"Mas kata Meli nggak apa-apa kita ketemu nanti saat jam makan siang"
"Baik sayang. Kamu sudah pilih tempatnya ?"
"Kita ke restoran yang baru itu saja mas ! Aku penasaran dengan makanan disana soalnya selalu ramai" jawab Jennie antusias.
__ADS_1
"Oh iya, aku juga ngajak Valen sama Tuan Sean nggak apa-apa kan mas ?"
"Tidak masalah sayang, selama kamu masih keluar bersama mas" jawab Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.
...
"Sudah lama menunggu ?" tanya Jennie pada Valen dan Tuan Sean.
"Tidak juga, kami baru saja sampai" jawab Valen.
"Oh iya aku lupa, selamat ya atas kehamilannya" ucap Jennie tulus. Wanita hamil itu turut bahagia atas kabar kehamilan Valen.
"Ah terima kasih. Aku juga tidak percaya Tuhan begitu cepat memberikan kami kepercayaan"
Valen memang sedang hamil saat ini dan usia kandungannya sudah memasuki satu bulan. Tentu saja wanita itu merasa bahagia karena itu adalah buah cintanya bersama suaminya.
"Apa kabar ?" tanya Tuan Sean pada Kai.
"Jika aku sedang tidak baik-baik saja mana mungkin aku berada disini" jawab Kai ketus.
"Masih dendam padaku ?" tanya Tuan Sean terkekeh.
Ya, Kai sudah tahu arti nama dari JS Boutique. Dan tentu saja fakta tersebut membuat Kai kesal. Ia tidak akan rela membagi nama istrinya pada pria lain.
"Aku akan mengganti saat anakku lahir, jadi kamu tenang saja ! Aku juga sudah tidak menyukai istrimu karena istriku lebih cantik darinya"
"Beraninya kamu mengejek istriku. Ingat ya Sean ! Tidak ada wanita yang paling cantik di dunia ini selain ibu dan istriku !" pekik Kai.
Kedua pria bucin itu saling melempar tatapan permusuhan. Sementara Jennie dan Valen hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Sudahlah ! Kami berdua sama-sama cantik" ucap Valen menjadi penengah.
"Benar itu. Jika kami tidak cantik mana mungkin kalian bisa jatuh cinta" sambung Jennie percaya diri.
"Ingat, jika kamu belum mengganti nama butik itu maka aku yang akan membakarnya !" ancam Kai.
"Jika kamu membakar butik ku maka aku akan membakar perusahaan milikmu" balas Tuan Sean tak mau kalah.
__ADS_1
"Sudahlah ! Kita ini sudah lama tidak bertemu, mengapa kalian berantem seperti anak kecil begini sih ?" kesal Jennie.
"Benar kata Jennie, kalian sangat kekanak-kanakan padahal sudah jadi calon Daddy"
Mendengar teguran dari sang istri, kedua pria itu saling diam. Sebenarnya hubungan mereka sudah membaik hanya saja kalian tahu kan kalau Kai itu sangat pecemburu, jadi pertengkaran seperti ini akan selalu ada menghiasi pertemuan mereka.
...
Meli berdiri di trotoar sambil mengangkat tasnya di atas kepala sebagai alat pelindung dari terik sinar matahari. Wanita itu tak hentinya mendumel karena merasa kesal saat ban mobilnya pecah.
"Ck... Kenapa pakai pecah segala sih ini ban mobil" teriaknya kesal sambil menendang ban mobilnya.
"Aw sakit juga" pekiknya kesakitan, "mana sinar matahari panas banget, trus ini lagi taxi kenapa nggak ada satupun yang lewat ? Tidak mungkinkan aku naik ojek panas-panas begini ?" lanjutnya mendumel.
Meli terus mengipas tangannya karena kegerahan. Kening wanita itu juga tampak berkeringat bahkan wajahnya sudah memerah karena terkena sinar matahari.
"Mau kemana ?" tanya seseorang dari arah belakang.
Meli tertegun saat mendengar suara itu. Suara yang sudah sangat lam tidak Ia dengarkan. Tiba-tiba jantungnya berdetak begitu kencang, perasaan rindu yang selam ini Ia simpan rasanya ingin Ia luapkan. Namun dengan cepat wanita itu menyadarkan diri agar tidak bersikap bodoh lagi.
"Apa kamu tidak mendengarkan aku ?" tanya pria itu lagi yang tak lain adalah Raffa.
Meli membalik tubuhnya dan melihat ke arah Raffa. Pria yang mampu membuatnya jatuh hati dan sakit hati dalam waktu yang bersamaan. Selama empat bulan terakhir Meli benar-benar tidak pernah muncul lagi di hadapan Raffa. Wanita itu menjauh bukan karena tidak mau berjuang lagi, hanya saja Ia mencoba untuk melindungi hatinya agar tak semakin hancur karena penolakan Raffa.
"Aku mendengarkan mu. Ada urusan apa kamu kemari ?"
Mendengar ucapan Meli yang ketus membuat Raffa hanya bisa menarik senyum tipis. Ia tahu wanita itu sudah kecewa padanya.
"Ah... Kebetulan aku lewat sini dan melihatmu seperti sedang kesulitan" jawab Raffa.
"Oh seperti itu ? Jika tidak ada urusan apa-apa disini sebaiknya kamu menjauh dariku !"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai Readers 👋 Sa kembali memberikan rekomendasi novel terbaik untuk kalian🤗 jangan lupa untuk mampir ya😘
__ADS_1
Judul : My Beautiful Venus
Napen : MinNami