
Jennie tentu geram dengan tindakan Kai yang menurutnya mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Ck... Beraninya kamu menyentuhku" pekik Jennie yang tidak terima Kai menyentuhnya dalam keadaan polos. Wanita itu melempar sebuah bantal ke arah Kai, Ia lupa jika saat ini pria itu sudah resmi menjadi suaminya.
"Jennie... Jennie sayang, tenanglah !" ucap Bunda Maryam mencoba menenangkan Jennie.
Wanita itu terlihat sangat marah terbukti dengan dada yang tampak naik turun dan hembusan nafas kasar dari Jennie. Matanya menatap tajam ke arah Kai seolah dirinya ingin menerkam pria yang berada di hadapannya.
"Dengarkan penjelasan ku dulu !" pinta Kai dengan suara lembut.
"Apa yang ingin kamu jelaskan ? Kamu ingin mengatakan jika dirimu sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan ?" cibir Jennie.
"Bukan begitu" elak Kai.
"Lalu apa hah ?" tekan Jennie.
"Itu tadi... Aku mengangkat tubuhmu karena kamu pingsan dalam bathtub" jelas Kai.
"Siapa yang pingsan ? Apa kamu sudah mencoba membangunkan ku sehingga menyimpulkan aku sedang pingsan ?" tanya Jennie masih menatap kesal ke arah Kai.
Kai berpikir sejenak. Memang dirinya tidak mencoba membangunkan Jennie. Kenapa Ia bisa melupakan hal itu ? Apa karena rasa khawatir sehingga membuatnya tak bisa berpikir jernih ?, batin Kai bertanya dengan dirinya sendiri.
"A-aku... Lupa akan hal itu" jawab Kai dengan pelan, "itu semua karena aku begitu khawatir dengan ku dan calon bayi kita" sedetik kemudian Kai menjawab dengan tegas.
Jennie menatap mata Kai dalam-dalam, Ia dapat merasakan kekhawatiran yang dirasakan pria itu. Tapi tetap saja Ia tidak terima karena Kai telah lancang mengangkat tubuhnya tanpa sehelai benangpun.
"Asal kamu tau ya, aku tidak pingsan. Aku hanya ketiduran karena merasa lelah" jawab Jennie kemudian membuang wajahnya ke arah lain.
Kai dan Bunda Maryam membulatkan matanya. Mereka terkejut dengan ungkapan Jennie.
"Jadi kamu hanya tertidur sayang ?" tanya Bunda Maryam.
"Iya Bunda" jawab Jennie singkat.
__ADS_1
Bunda Maryam melirik ke arah Kai. Sementara pria itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh pria itu begitu malu dengan tindakannya.
"Syukurlah jika kamu tidak apa-apa sayang. Bunda tadi sempat ketakutan saat suamimu menelpon Bunda dan memberikan kabar jika dirimu sedang pingsan" ungkap Bunda Maryam.
Bunda Maryam mendekati Jennie dan mengelus lembut kepalanya, "kalau begitu kamu istirahat ya ! Bunda pamit dulu, Bunda takut Ayah kamu nyariin" ucap Bunda Maryam pamit.
"Lain kali sebelum memberikan informasi sebaiknya pastikan dulu kebenarannya !" pesan Bunda Maryam yang dibalas senyum lebar dari Kai.
Selepas kepergian Bunda Maryam. Kai melihat ke arah Jennie yang berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, hanya bagian wajahnya saja yang kelihatan sedikit.
"Maaf !" ucap Kai dengan tulus. Sungguh Ia tidak ada maksud sama sekali untuk mengambil kesempatan.
Jennie tak menggubris permintaan maaf Kai. Ia masih kesal dengan tindakan Kai yang begitu lancang.
Kai yang melihat Jennie masih terdiam tanpa mengalihkan pandangannya ke arahnya hanya bisa mengelus dada.
"Sabar Kai !!! Kamu harus siap fisik dan mental untuk memperjuangkan istrimu ini !!!" guman Kai menyemangati dirinya sendiri.
Jennie yang ditinggalkan segera bergegas mengambil bathrobe dan memakainya. Hanya itu pilihan satu-satunya karena sebelum mandi tadi wanita itu sempat mencari pakaiannya namun hasilnya nihil. Sepertinya Ayah dan Bunda sengaja tak memberikan pakaian.
"Huh... Memangnya apa yang mereka pikirkan ? Apa mereka mengira jika tak memberikan kami pakaian maka kami akan melakukan seperti yang mereka rencanakan ? Lagian apa lagi sih yang mereka harapkan dari malam pengantin ini ? Bukannya saat ini sudah tumbuh calon cucu mereka dalam rahimku ?" Jennie bermonolog dengan batinnya sendiri.
Jennie duduk di ranjang dan membuka handphonenya. Ia mengerutkan keningnya saat mendapatkan chat dari Tuan Sean.
"Mengapa Dia mengirim chat ? Bukannya tadi Ia hadir dalam pernikahanku ?"
Jennie ingat dengan betul jika pria itu duduk di antara tamu undangan. Tadi Ia sempat melihat kehadiran pria itu meskipun pria itu tak menghampirinya dan memberikan ucapan selamat.
Karena lelah akhirnya Jennie membaringkan tubuhnya tanpa membuka pesan dari Tuan Sean. Nanti saja, pikirnya.
Wanita itu mencoba memejamkan matanya dan kembali ke alam mimpi yang sempat terjeda. Tak butuh waktu lama akhirnya Jennie tertidur pulas, dengkuran halus terdengar merdu di telinga seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kai baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Ia berjalan ke arah ranjang menggunakan handuk. Saat tubuhnya sudah menyentuh ranjang Ia menatap wajah Jennie yang begitu teduh.
__ADS_1
Dengan kesadaran penuh Kai mengulurkan tangannya untuk membelai lembut wajah istrinya itu. Jarinya kemudian menyentuh ujung bibir Jennie yang berwarna pink alami. Jika Ia tidak mengingat wanita itu masih membencinya mungkin Ia akan menggigit bibir manis itu sekarang juga. Tapi Kai cukup sadar diri untuk bisa menahan keinginannya.
"Aku harap kamu bisa membalas cintaku dalam waktu yang cepat meskipun itu mungkin akan sulit. Tapi aku sangat berharap waktu itu tiba, dimana kamu bisa mengatakan aku mencintaimu suamiku" ucap Kai tersenyum sendiri membayangkan Jennie bersikap manis kepadanya.
"Satu hal yang harus kamu tahu, aku begitu mencintaimu. Hanya saja caraku salah dalam memperjuangkan cintamu sehingga menciptakan jarak dan rasa benci di hatimu. Maafkan Aku" lanjut Kai dengan suara lirih.
"Dan terima kasih sudah mempertahankan calon bayi kita" lanjut Kai.
Pandangan pria itu turun ke arah perut rata istrinya. Ia menyentuh dan mengelus perut rata itu dengan lembut dan pelan, Ia tidak ingin istrinya terbangun karena ulahnya. Rasanya begitu hangat ketika tangannya berada di atas perut sang istri. Ia begitu tidak sabar melihat perut istrinya membuncit dan merasakan pergerakan bayinya.
Kak mengehentikan aktifitas barunya. Kai mengecup kening Jennie dengan pelan, lalu membawa istrinya masuk kedalam pelukannya.
"Semoga kamu mimpi indah istriku" batin Kai sebelum ikut masuk ke alam mimpi menyusul sang istri.
🌹🌹🌹
Sementara di sebuah kamar tampak sepasang suami istri yang sedang terbahak-bahak.
"Beneran Bun ?" tanya Ayah Aditya. Ia tidak menyangka jika putranya se-posesif itu dengan istrinya.
"Iya, tadi Bunda lihat dengan mata kepala Bunda sendiri. Kai menepis tangan Joshua karena pria itu hendak menjabat tangan menantu kita" jawab bunda terkekeh geli dengan tindakan putranya.
"Ayah harus tau satu hal lagi ! Tadi Kai sempat mengira Jennie pingsan dan merasa panik" ucap Bunda Maryam.
"Kenapa bisa ?" tanya Ayah Aditya pemasaran.
Akhirnya Bunda Maryam menceritakan kejadian yang baru saja Ia alami. Dan Ayah Aditya kembali tertawa terbahak-bahak mengetahui ternyata menantunya hanya ketiduran tapi mampu membuat Kai terlihat bodoh karena khawatir.
Namun dibalik semua kejadian tadi, mereka bersyukur putranya bisa mencintai Jennie dengan cinta yang besar. Itu artinya mereka tidak salah memilih jalan ini meskipun Jennie belum bisa membalas perasaan putra mereka. Tapi mereka yakin cepat atau lambat menantunya bisa mebalas cinta putranya dengan tulus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*HAI👋 JANGAN LUPA DUKUNG NOVEL INI DENGAN CARA MEMBERIKAN HADIAH, KOMEN DAN LIKE🙏❤️*
__ADS_1