
Raffa melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang menuju taman kota. Tanpa mereka sadari dua mobil sedang mengikutinya dari belakang.
"Dengan siapa gadis brutal itu berboncengan ? Trus kenapa bisa Ia memakai baju kerja karyawan mini market ?" guman seorang pria yang menguntit Valen dan Raffa.
Sementara di mobil yang lain tampak seorang perempuan mencoba menenangkan hatinya yang terbakar cemburu.
"Tenang Meli ! Itu masih pacaran belum status nikah jadi nggak usah panik, ok ! Kamu masih bisa berjuang sebelum janur kuning melengkung... Semangat Mel !" guman Jennie mencoba menenangkan perasaannya yang kepanasan.
Saat sampai di taman kota, Raffa membantu Valen membuka helmnya, "sini aku bantuin buat rapihin rambut kamu !"
Tangan Raffa merapikan rambut Valen dengan jantung yang berdetak kencang. Tanpa sadar tangan Raffa beralih menyentuh pipi Valen, tatapan kedua manusia itu saling bertabrakan dengan waktu yang cukup lama sampai pada akhirnya keduanya disadarkan oleh seseorang.
"Loh Raffa kamu juga disini ?" tanya Meli pura-pura kaget saat menghampiri Raffa dan Valen. Perasaan wanita itu sungguh semakin panas ketika melihat Raffa begitu lembut dan manis dengan wanita yang Ia yakini sebagai kekasih pria itu.
"Eh... Meli... Kamu ngapain disini ?" tanya Raffa.
"Biasalah... Lagi jalan-jalan..." jawabnya dengan bohong, "Kamu sendiri lagi ngapain ? Eh... Ini pacar kamu ?" lanjut Meli bertanya. Meskipun hati wanita itu sedang tidak baik-baik saja tapi sebisa mungkin Ia menyembunyikan perasaannya itu.
"Hem..." jawab Raffa dengan singkat, pria itu tampak memeluk pinggang Valen sehingga membuat wanita itu kebingungan terlebih lagi mendengar pertanyaan Meli.
"Maaf, sepertinya mbak salah-"
"Ayo sayang !" potong Raffa dengan cepat. Ia mengedipkan matanya sebagai kode agar wanita itu menurut.
"Oh ya Mel, kami duluan ya... Ayo sayang !"
Saat Raffa menarik tangan Valen dan hendak meninggalkan Meli tiba-tiba saja mereka kembali dihentikan oleh seorang pria.
"Tunggu !" ucap pria yang baru saja tiba, pria itu tak lain adalah Tuan Sean.
"Tuan Sean" ucap Meli membuat pria yang Ia sebut menatapnya.
"Meli kamu juga disini ?" tanya Tuan Sean mendapat anggukan oleh Meli.
Valen yang melihat kedatangan Tuan Sean memutar bola matanya dengan malas. Ia begitu tidak senang bertemu dengan pria itu. Sementara Raffa yang belum mengenal Tuan Sean hanya terdiam, Ia bingung mengapa pria itu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Valen kenapa kamu bisa berada disini ? Dan mengapa kamu menggunakan pakaian seperti itu ?" tanya Raffa penasaran mengapa bisa seorang Valen bisa berpakaian karyawan mini market.
"Kamu sendiri ngapain disini ?" tanya Valen dengan ketus. Ia masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu saat dirinya hampir ditabrak oleh Tuan Sean.
"Ck... Kamu selalu saja seperti itu, selain tidak bisa mengalah kamu juga suka menjawab pertanyaan orang lain dengan sebuah pertanyaan" gerutu Tuan Sean.
"Ya terserah aku dong, ngapain juga kamu yang sewot ? Mending kamu pergi deh dari sini ! Sumpah aku tuh muak banget lihat wajah kamu" balas Valen semakin ketus.
"Kemarin aku ke rumah mu tapi kamu nggak ada di rumah utama, apa benar kamu diusir ?" tanya Tuan Sean penuh selidik.
"Ais... Kamu ini kepo sekali, mulutmu itu ngalahin wartawan saja. Sudah sana pergi !" Valen mendorong tubuh Tuan Sean saking kesalnya wanita itu.
Sementara Meli dan Raffa menjadi penonton dari perdebatan antara Tuan Sean dan Valen.
"Gadis brutal mengapa kamu mengusirku sementara ini tempat umum ?" Tuan Sean berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh karena dorongan dari Valen.
Valen mengehentikan aksinya dan menatap tajam Tuan Sean. Wanita itu segera berbalik dan menarik tangan Raffa untuk pergi.
"Ayo sayang kita pergi cari tempat yang aman dari para pengganggu !" ucap Valen membuat Raffa ingin meloncat karena kegirangan.
"Iya, Dia itu adalah sepupu dua kali ku" jawab Tuan Sean, "oh ya, kamu ngapain disini ?" kali ini Tuan Sean yang bertanya kepada Meli.
"Eh... Aku... Tadi... Itu... Aku nggak sengaja melihat temanku" ucap wanita itu terbata.
"Teman yang kamu maksud pria yang bersama Valen ?" tanya Tuan Sean dan Meli hanya menjawab dengan anggukan.
Meli dan Tuan Sean kembali memandang kepergian Valen dan Raffa yang semakin menjauh.
🌹🌹🌹
Keesokan harinya sesuai dengan keputusan Ayah Aditya, acara konferensi pers akan diadakan hari ini tepatnya di perusahaan milik keluarga Aditya sendiri. Ruangan yang telah dipersiapkan untuk acara konferensi pers sudah dipadati oleh karyawan perusahaan dan beberapa reporter yang akan meliput secara langsung acara tersebut.
Ayah Aditya tak pernah menjauh dari putri angkatnya itu, Ia tak ingin meninggalkan Jennie sejengkal saja. Ayah Aditya berusaha meyakinkan Jennie jika semua akan baik-baik saja. Bunda Maryam pun melakukan hal yang sama, mereka tahu perasaan putri angkatnya itu sedang kacau.
"Sayang, kamu percaya sama Ayah kan ?" tanya Bunda Maryam yang setia menggenggam tangan Jennie yang berkeringat dingin.
__ADS_1
Jennie hanya mengangguk, Ia tak sanggup lagi berbicara. Sungguh Ia merasa takut dan cemas sekaligus merasa sedih. Tapi Ia tidak bisa memilih pilihannya sendiri karena Ia pun tidak tahu pilihan apa yang akan Ia ambil.
Sementara Kai hanya bisa menatap kearah Jennie dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tak lama kemudian acara pun dimulai. Ayah Aditya dan Bunda Maryam menarik tangan Jennie menaiki podium sementara Kai memilih untuk duduk bersama asisten Jhon.
"Baik, selamat siang semuanya... Sebelum saya menyampaikan berita ini saya ingin berterima kasih kepada semua yang hadir disini" ucap Ayah Aditya, "Sekarang kita mulai inti dari acar konferensi pers ini, pasti kalian bertanya-tanya berita apa yang akan saya sampaikan bukan ?" lanjut Ayah Aditya, Ia menatap putri angkatnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Jadi saya mengadakan konferensi pers ini ingin menyampaikan suatu fakta tentang putri saya Jennie Clarissa"
Sontak saja ucapan Ayah Aditya membuat ruangan yang tadinya sunyi mendadak riuh. Berbagai pertanyaan keluar dari orang-orang yang hadir dalam konferensi pers tersebut. Banyak yang berspekulasi jika berita yang akan disampaikan oleh Ayah Aditya mengenai Jennie yang akan menikah.
"Saya harap semuanya kembali diam agar saya bisa melanjutkan acara ini !"
Semuanya kembali terdiam dan kembali serius saat mendengar ucapan Ayah Aditya.
"Jadi ini mengenai identitas putri saya Jennie yang sebenarnya... Gadis cantik yang berdiri ditengah-tengah kami ini sebenarnya bukan anak kandung kami. Jennie adalah putri angkat kami namun kami sudah sangat menyayanginya melebihi anak kami sendiri..."
Ruangan kembali ricuh saat Ayah Aditya berhasil mengungkap fakta tentang Jennie. Bunda Maryam membawa putrinya itu dalam pelukannya. Tubuh wanita itu kembali bergetar karena manangis namun tak mengeluarkan suara.
Bersambung...
Bonus Visual
🌹Jennie Clarissa
🌹Kaindra Akhdan Aditya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
__ADS_1