
Setelah percakapannya dengan sang ayah akhirnya Kai kembali ke rumah utama. Sementara ayah Aditya masih berada di rumah sakit menjaga Jennie.
"Ayah tidak pulang ?" tanya Jennie saat melihat ayahnya masuk.
"Kenapa belum tidur sayang ?" tanya ayah Aditya saat melihat putrinya masih terjaga.
Jennie tak menjawab dan hanya menatap kosong ke arah pintu, entah apa yang dipikirkan wanita itu sehingga tiba-tiba saja menangis. Ayah Aditya yang melihat putrinya menangis tentu saja panik.
"Ada apa sayang ? Apa ada yang sakit ?" tanya ayah Aditya khawatir melihat Jennie yang tiba-tiba menangis.
"Jennie juga tidak tau kenapa bisa menangis" jawab wanita itu yang masih terisak, Ia memeluk ayah Aditya dengan erat.
"Berhentilah menangis ! Jika kamu menangis seperti ini maka Ayah dan Bunda juga ikut bersedih" ucap ayah Aditya mengelus lembut punggung Jennie.
Meskipun hanya anak angkat tapi ayah Aditya sangat menyayangi Jennie seperti kasih sayang seorang ayah kepada putri kandungnya.
"Yah, Jennie mau pulang !" Jennie melepas pelukannya lalu menatap ayah Aditya dengan tatapan memelas.
"Kamu belum bisa pulang, kita tunggu Dokter dulu ya !" ucap ayah Aditya merapikan rambut Jennie.
"Tapi Jennie mau pulang sekarang !" ucap Jennie kekeh ingin kembali ke rumah.
"Nggak bisa gitu dong Nak, kita tunggu Dokter dulu ya ! Habis itu kita akan pulang" bujuk Ayah Aditya, "sekarang kamu tidur ya !" lanjut ayah Aditya.
Jennie mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya, sementara ayah Aditya duduk di kursi samping brankar. Pria paruh baya itu menatap putri angkatnya yang kini sudah tertidur pulas, melihat wajah Jennie yang tenang membuatnya tersenyum tipis.
'Apa yang harus aku lakukan Bram ?' guman ayah Aditya dalam hati. Saat ini Ia bingung langkah apa yang harus Ia ambil untuk mengatasi masalah ini.
.
.
.
Menjelang siang hari Jennie kembali ke rumah bersama ayah Aditya dan bunda Maryam. Kai yang sedang duduk di ruang tengah melihat kedatangan mereka mencoba melempar senyum kepada Jennie namun wanita itu tampak cuek dan membuang muka.
Kai yang melihat respon Jennie mencoba tetap tersenyum, Ia tahu perasaan Jennie yang kini membencinya atas apa yang telah Ia perbuat.
"Jennie mau istirahat" ucap Jennie meninggalkan kedua orang tuanya dan Kai yang masih berdiri di ruang tengah, wanita itu berlari masuk kamarnya dan menutup pintu.
'Maaf' guman Kai, Ia sangat menyesal telah melakukan hal kotor itu dengan adik angkatnya.
Bunda Maryam menatap putranya yang tampak sedih, Ia merasa kasihan dengan Kai tapi Ia juga tidak bisa membelanya karena memang putranya itu salah.
"Berjuanglah ! Tapi jangan telalu memaksannya !" ucap ayah Aditya.
__ADS_1
Ayah Aditya telah memutuskan untuk mendukung putranya jika Jennie mau menerima kenyataan ini, Ia akan mencoba menjelaskannya secara pelan-pelan agar Jennie tidak kecewa dan terluka.
"Apa Ayah mendukung Kai ?" tanya Kai yang mendapat anggukan kepala dari sang Ayah.
"Ayah mendukungmu dan Ayah akan mencoba menjelaskannya secara pelan-pelan" jawab ayah Aditya.
Kai yang mendengar ucapan sang ayah segera berlari dan memeluk tubuh pria paruh baya itu, "terima kasih Ayah" ucap Kai merasa senang.
Kai melepaskan pelukannya lalu beralih kepada sang bunda, "Bunda bantu Kai dengan doa ya !" pinta Kai lalu memeluk bunda Maryam.
Bunda Maryam yang tidak mengerti apa-apa mencoba bertanya, "Bunda tidak mengerti ucapan kalian" jawab bunda Maryam dengan jujur.
"Sudahlah, nanti Ayah jelaskan dalam kamar" ucap ayah Aditya menarik tangan istrinya masuk ke kamar mereka.
.
.
.
Sudah seminggu Kai memcoba mendekati Jennie tapi wanita itu selalu menghindar. Bahkan jika Kai berada di meja makan wanita itu tidak akan keluar dari kamarnya, Jennie benar-benar menutup diri setelah pulang dari rumah sakit.
"Sayang, buka pintunya !" teriak bunda Maryam dari luar kamar.
Jennie yang baru saja mandi segera membuka pintu saat mendengar teriakan Bundanya.
"Ada yang cariin kamu sayang" jawab bunda Maryam.
Jennie bingung dengan jawaban bundanya, "siapa Bun ?" tanyanya.
"Nggak tau tuh, tadi cuma bilang kalau mau ketemu kamu buat bahas kerjaan" jawab bunda Maryam.
"Jennie pakai baju dulu ya habis itu keluar" Jennie berjalan masuk ke ruangan pakaian, setelah sepuluh menit wanita itu keluar
"Tuan Sean" ucap Jennie terkejut saat melihat siapa yang bertamu di rumahnya.
"Hai, apa kabar ?" tanya Sean kepada Jennie sambil melempar senyum manis.
"Kenapa Tuan bisa tau rumah saya ?" bukannya menjawab Jennie justru bertanya balik.
"Aku tau dari Meli" jawab pria yang berumur dua puluh tuju tahun itu.
Jennie mengangguk paham, "kalau boleh tau tujuan Tuan Sean kemari untuk apa ya ?" tanya Jennie penasaran.
"Jangan panggil Tuan ! Bukannya kita sudah menjadi teman ?"
__ADS_1
"Oh maaf ! Aku lupa" jawab Jennie menggaruk kepalanya.
"Tidak masalah" jawab Tuan Sean, "oh ya kedatanganku kemari untuk bertanya tentang kontrak kerja kita, apakah kamu sudah mengambil keputusan ?" lanjut Tuan Sean bertanya.
"Oh ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa kontra itu ?" Jennie menepuk jidatnya saat Ia ingat tentang kontrak kerja sama itu.
"Maafka aku, tapi sepertinya aku belum bisa menerima kontrak kerja itu, aku ingin fokus menyelesaikan kuliahku dulu yang tinggal setahun lagi" jawab Jennie tidak enak.
"Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang ?" tanya Tuan Sean yang kecewa dengan jawaban Jennie.
"Ya, mungkin tahun depan kita bisa bekerja sama untuk kontak yang lebih lama" jawab Jennie yakin.
"Baiklah jika itu pilihanmu, aku tidak akan memaksa" ucap Tuan Sean mengerti, "tapi apa masih bisa kita bertemu ?" tanya Tuan Sean penuh harap.
"Bisa, kan kita sudah berteman" jawab Jennie tersenyum manis.
"Kamu punya penyakit diabetes ?" tanya Tuan Sean.
Jennie yang bingung dengan pertanyaan Tuan Sean menggeleng pelan, "Ti-dak" jawab Jennie singkat.
"Aku pikir kamu punya penyakit diabetes"
"Memangnya kenapa ?" tanya Jennie penasaran.
"Soalnya kamu punya senyum manis, aku aja yang baru sekali lihat senyum manis milikmu takut diabetes masa kamu yang punya tidak takut diabetes" jawab Tuan Sean menggombal Jennie.
Wajah Jennie memerah saat mendengar ucapan Tuan Sean, rasanya begitu malu saat mendengar gombalan receh dari pria itu.
"Kamu bisa aja" ucap Jennie berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
Tuan Sean terkekeh saat melihat wajah Jennie yang kemerahan, 'Jika dia salah tingkah seperti ini terlihat sangat menggemaskan' tutur batin Tuan Sean.
.
.
.
"Siapa dia ?" ucap pria itu dengan suara lirih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
__ADS_1
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~