
"Karena putramu telah merenggut kesucian adiknya sendiri"
Bagai tersambar petir di siang bolong, Bunda Maryam begitu terkejut dengan jawaban sang suami, Ia tak menyangka jika sang putra tega melakukan hal se-bejat itu kepada putrinya.
"Apa itu benar ?" tanya Bunda Maryam dengan nada suara bergetar, Ia menatap Kai dengan tatapan penuh kekecewaan. Selama ini Bunda Maryam memang tau jika sang putra begitu membenci adiknya padahal, mereka pernah berbaikan dan dekat tapi entah mengapa Kai berubah kembali.
Kai yang melihat kekecewaan yang terpancar dari wajah sang Bunda tidak bisa menjelaskan apa-apa, mulutnya terasa terkunci.
"Katakan ini tidak benar Nak !" lanjut Bunda Maryam menggeleng tidak percaya, "Kai, coba bilang sama Bunda jika ini tidak benar !" pinta Bunda Maryam sekali lagi, Ia masih berharap kejadian ini tidaklah benar.
"Maafkan Kai Bunda !" ucap Kai dengan meminta maaf dengan suara lirih dan bergetar, Ia menundukkan kepalanya karena tidak ingin melihat kekecewaan sang Bunda.
"Tidak,,, ini tidak benar Kai," ucap Bunda Maryam terus menggelengkan kepalanya menolak percaya dengan kebenaran ini, "kenapa ? kenapa kamu tega melakukan itu Kai ?" tangisan Bunda Maryam kini pecah. Ia tidak menyangka masalah seperti ini akan menimpa keluarganya, entah dosa apa yang telah Ia perbuat di masa lalu sehingga mendapatkan musibah seperti ini.
"Jennie itu adikmu, kau tidak sepantasnya melakukan itu Kai !" melihat sang Istri menangis histeris, Ayah Aditya segera memeluknya.
"Sekarang kau puas membuat keluarga kita hancur hanya karena rasa benci mu dengan sang adik ?" Ayah Aditya menatap Kai dengan tatapan penuh kebencian, "sekarang kamu pilih, angkat kaki dari rumah ini tanpa membawa sepeserpun uang atau menyerahkan diri ke kantor polisi ?"
Kai membulatkan matanya saat mendengarkan ucapan sang Ayah, "Yah, bagaimana bisa Ayah mengusir Kak dari rumah ini ? Kai itu anak Ayah, seharusnya Ayah tak perlu menghukum Kai seperti ini !" tentu saja Ia tidak terima.
"Itu cukup pantas untuk penjahat seperti mu, bahkan jika Ayah mau, Ayah akan mencoret kamu dari keluarga Aditya" ucap Ayah Aditya dengan tegas. Ia tidak peduli apa itu anaknya atau bukan, Ayah Aditya akan memberikan hukuman yang setimpal untuk orang-orang yang berani melakukan kejahatan.
"Nggak, Kai tidak akan memilih keduanya, silahkan saja Ayah hukum Kai tapi tidak dengan dua hukuman tadi." Kai masih terus menolak keputusan sang Ayah, bukankah Ayahnya bisa saja memberikan hukuman lain ?
"Hanya ada dua pilihan itu saja"
"Ini hanya masalah kecil Ayah, tak perlu dibesar-besarkan!"
"Masalah kecil katamu ? Kai, kamu itu sudah dewasa, seharusnya kamu bisa tau mana yang salah dan mana yang benar !" Ayah Wijaya berusaha menahan diri agar tidak memukul anaknya lagi.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah dengan apa yang Kai lakukan, karena kita memang tidak-"
"CUKUP KAI !!!" Sebelum Kai menyelesaikan kalimatnya Ayah Aditya sudah memotongnya, "Ayah berikan waktu sepuluh menit sebelum Ayah melaporkan ke pihak yang berwajib." Ayah Wijaya sudah tidak ingin mendengar atau menerima alasan apapun lagi.
"Kai pastikan Ayah akan menyesal telah membuang Kai demi wanita itu !" ucap Kai sebelum meninggalkan kediaman Wijaya.
"Tunggu dulu !"
Ayah Aditya menahan langkah Kai membuat pria itu tersenyum tipis, Ia yakin sang ayah tidak mungkin tega melakukan ini dengan putranya.
"Ada apa lagi ? Bukannya Ayah sudah mengusir Kai ?"
"Kembalikan semua kartu kredit dan debit yang Ayah berikan, kunci mobil, dan semua aset yang kamu miliki !" ucap Ayah Aditya, Kai tentu ingin protes tapi lagi-lagi sang ayah mengancamnya.
"Waktumu tinggal lima menit, kamu tau sendiri kalau Ayah tidak pernah main-main dengan ancaman Ayah."
Mau tidak mau Kai menuruti ayahnya daripada masuk penjara lebih baik keluarga tanpa membawa apa-apa, Ia masih bisa meminta bantuan dengan teman-temannya atau dengan kekasihnya.
"Mengerti Om" jawab mereka serempak, tentu saja mendengar ancaman dari Ayah Aditya membuat mereka tidak berani melawan.
"Sekarang tinggalkan rumah ini !" usir Ayah Aditya.
.
.
.
Saat mereka sampai di luar rumah, Kai segera mencengkeram kerah baju Dokter Ricard. Ia sangat marah dengan temannya ini, jika saja Dokter Richard tidak mengadu makan semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Sekarang kamu puas bangsat, HAA ?"
Sementara Dokter Ricard yang diteriaki tidak merasa takut denga Kai, Ia justru tersenyum mengejek. Bukannya Ia tidak memiliki hati untuk merasa kasihan dengan keadaan temannya tapi, ini semua memang pantas untuk orang bejat seperti Kai.
"Bersyukurlah karena Ayahmu memberikan pilihan seperti ini !" ucap Dokter Ricard menepuk pundak temannya lalu melepaskan cengkraman tangan Kai di bajunya, "setidaknya Ayahmu masih punya hati nurani agar tidak membuat anaknya mendekam di penjara dan merusak reputasi keluarga Aditya." Dokter Ricard meninggalkan Kai dan kedua temannya.
"Arggghhh... Sialan, semua gara-gara wanita itu !"
Kai berteriak dan mengumpat Jennie membuat kedua temannya hanya geleng-geleng kepala. Mereka benar-benar tidak habis pikir dengan Kai yang jelas-jelas sudah melakukan kesalahan tapi Ia justru melimpahkan semua kesalahan itu dengan adiknya.
"Berhentilah menyalahkan adikmu Kau, cobalah belajar untuk mengakui kesalahan sendiri dan jangan terlalu egois !" ucap Joshua memberikan nasehat.
"Benar sekali, seharusnya kamu sudah berfikir dan bersikap dewasa ! Jangan hanya karena rasa iri hatimu dengan sang adik membuatmu menjadi iblis seperti ini !" sambung Riko yang membenarkan ucapan Joshua.
"Kalian sama saja dengan Ricard membela wanita itu" tutur Kai yang merasa semua teman dan keluarganya berpihak dengan Jennie.
"Kami tidak membela Jennie. Hanya saja, perbuatanmu kali ini benar-benar di luar nalar." balas Riko dengan tatapan sinis.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini !" teriak Kai mengusir kedua temannya, toh mereka berada disini juga tidak akan bisa membantu karena mereka sudah mendapatkan ancaman dari Ayahnya.
"Tanpa kamu suruh pun kami akan pergi."
Riko menarik tangan Joshua dan meninggalkan Kai berdiri dengan penuh kebingungan. Pria itu bingung kemana Dia harus meminta bantuan, sementara semua temannya telah diberi peringatan dari Ayah Aditya untuk tidak membantunya.
"Satu-satunya jalan adalah bertemu dengan Arumi untuk meminta bantuan." Kai segera meninggalkan rumah utama dan berjalan kaki menuju apartemen kekasihhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
__ADS_1
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~