
"Siapa wanita yang kamu rusak ?" tanya Joshua penasaran.
"Jennie"
Jawaban Kai tentu membuat Joshua dan Riko terkejut, apa mereka tidak salah dengar ?
"Coba katakan sekali lagi !" pinta Riko yang berharap jika Kai salah sebut atau dirinya yang salah dengar.
"Jennie, wanita yang menjadi adikku."
Bug. Satu bogeman mentah mendarat lagi di wajah Kai. Kali ini Riko yang berhasil memberikan satu tinjuan yang keras sehingga membuat wajah tampan Kai semakin memar.
"Kai sudah gila ?" Riko benar-benar tidak percaya dengan masalah ini. Seorang kakak tega memperkosa adik kandungnya sendiri, apa sebegitu bencinya Kai dengan adiknya hingga tega menghancurkan adiknya sendiri dengan cara keji seperti ini.
"Apa masalah ini yang membuatmu buntu ?" tanya Joshua yang diangguki oleh Kai, "apa masalah ini juga yang membuat Ricard begitu marah denganmu ?" tanyanya lagi.
"Ya, wanita itu pasti sudah mengadu dengannya." Jawab Kai yang seolah-olah menyalahkan Jennie karna telah memberitahu Dokter Ricard.
"Ck... Kau ini memang pantas dibunuh, dasar biadab !" Riko bergerak lagi dan memberikan beberapa pukulan di wajah Kai dan di bagian perutnya. Riko terus menghajarnya dan tidak memberi Kai kesempatan untuk melawan.
"Berhentilah Rik ! Kau bisa membunuhnya." Joshua segera menghentikan aksi Riko. Jika pukulan yang Riko berikan bertubi-tubi seperti itu, Kai beneran bisa mati.
"Lepaskan Jo ! Biarkan aku membunuh pria sialan itu !" Riko terus memberontak agar Joshua melepaskannya.
"Rik, menyelesaikan masalah tidak harus seperti ini ! Aku tau Kai salah, tapi sebaiknya kita dengarkan kronologinya dulu !" Joshua berusaha memberikan penjelasan dengan Riko agar pria itu sedikit tenang.
Akhirnya Riko berhenti melawan dan duduk sambil menatap tajam Kai yang terbaring lemah di lantai. Joshua segera membantu temannya itu berdiri dan mendudukkannya di sofa. Jika boleh jujur Joshua juga merasa marah dan kecewa temannya melakukan kejahatan seperti ini.
"Sebaiknya kamu jelaskan sekarang juga sebelum aku kembali memukulmu !"
__ADS_1
Mendengar ancaman Riko, Kai mau tidak mau memaksakan diri menjelaskan kronologi kejadian tadi malam. Dengan suara terbata dan lemah, Kai terus berbicara dengan jujur, "seperti itu." Kai kembali terdiam saat selesai menjelaskan semuanya.
Riko berusaha menahan emosi agar tidak meledak setelah mendengarkan cerita Kai. Meskipun, Kai melakukan itu dalam keadaan tidak sadar namun, tetap saja pria itu sudah melakukan kesalahan. Lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing hingga tak lama kemudian Kak sudah tak sadarkan diri.
Riko dan Joshua tentu saja merasa cemas saat pria itu sudah tidak sadarkan diri. Kedua segera mengangkat tubuh Kai dan membaringkannya di sofa.
"Kai bangun !" Joshua berusaha menyadarkan Kai dengan cara menepuk-nepuk wajahnya yang sudah memiliki banyak memar namun, Kak belum sadar juga.
"Ck... Kau ini bodoh ya ? Dia sudah tidak sadarkan diri, untuk apa kamu menepuk wajahnya yang sudah hancur itu ?" Riko menepuk jidatnya melihat kebodohan Joshua.
"Ya, siapa tau aja kan bisa hidup lagi" jawab Joshua menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau ini sudah menganggap temanmu mati ?" tanya Riko merasa kesal, "dia hanya pingsan, sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit !"
Joshua mengangguk setuju dan akhirnya mereka segera melarikan Kai ke rumah sakit. Saat di depan pintu UGD Riko dan Joshua bertemu dengan Dokter Ricard.
"Kenapa si bajingan itu ?" tanya Dokter Ricard penasaran, "apa dia sudah mati ?" lanjutnya bertanya tanpa beban.
"Sudahlah! Sebaiknya kamu periksa dia sekarang juga ! Jika kau terlambat bisa-bisa dia beneran mati" ucap Riko.
Dokter Ricard mengangguk dan masuk memeriksa keadaan Kai. Meskipun, Ia masih marah dengan Kai namun, Ia tidak bisa menghakimi temannya.
Sementara di ruangan Dokter Siska, Jennie sudah mulai tenang namun wanita itu masih menatap kosong.
"Apa kau ingin makan ?" tanya Dokter Siska kepada Jennie.
Jennie menggelengkan kepalanya. Wanita itu sama sekali tidak merasakan lapar. Bayangin aja kita berada di posisinya ! Apa masih ada selera makan sementara kita merasa dunia kita sudah hancur ?
Wanita itu kembali melamun, yang ada dalam pikirannya saat ini bagaimana menjelaskan masalah ini dengan kedua orang tuanya. Pasti berita buruk ini membuat keduanya akan merasa kecewa dan sedih, terlebih lagi saat orang tuanya tau siapa yang telah merenggut kesuciannya.
__ADS_1
Tanpa Jennie ketahui, Dokter Ricard telah menghubungi orang tuanya dan mengatakan jika Jennie telah mengalami pemerkosaan namun, Dokter Ricard belum mengatakan siapa yang telah melakukan kejahatan ini.
✨✨✨
"Kau sudah sadar ?" tanya Joshua saat melihat mata Kai terbuka pelan.
Kai tidak menjawab, Ia merasa kepalanya sangat berat dan bagian wajahnya terasa perih. Saat ini pikiran Kai terbagi-bagi, Ia memikirkan bagaimana raut wajah kecewa bundanya, Ia memikirkan bagaimana kemarahan dan kebencian ayahnya, dan sempat juga terlintas di pikirannya bagaimana keadaan wanita itu. Meskipun, Kai sangat membenci Jennie tapi, dalam hati kecilnya juga merasa kasihan dengan wanita itu namun, perasaan itu berusaha Ia hilangkan karena rasa bencinya terlalu besar.
"Ku panggil Ricard ya" melihat Kai sesekali meringis kesakitan membuat Joshua merasa tidak tega dan memutuskan untuk memanggil Dokter Ricard.
"Tak perlu !" balas Kai dengan suara begitu dingin, Ia tidak mungkin membiarkan laki-laki yang sudah memukulnya untuk memeriksa keadaannya.
"Ck... Kau itu sudah dewasa jadi, hilangkan sifat egois mu itu !" celetuk Riko.
Akhirnya Joshua memutuskan memanggil Dokter Ricard dan meninggalkan kedua orang yang tampak saling melempar tatapan tajam.
"Kenapa menatapku seperti itu ?" tanya Riko menatap sinis Kai. Namun Kai enggang menjawab, pria itu malah memutuskan tatapannya dan melihat ke arah lain.
"Apa Om dan Tante sudah tahu masalah ini ?" lanjut Riko bertanya yang dijawab sebuah gelengan oleh Kai.
"Tentu saja mereka tahu" sebuah jawaban yang keluar dari mulut Dokter Ricard membuat Kai dan Riko menoleh, terlihat jelas raut wajah Kai yang terkejut.
"Apa maksudmu ?" tanya Kai dengan tatapan yang penuh intimidasi.
"Kurang jelas ya ?" tanya Dokter Ricard membalas tatapan Kai, "kedua Orang tuamu sudah tau masalah ini. Tapi-"
"Tapi apa ?" Potong Kai dengan cepat, tentu saja pria itu merasa takut dan cemas. Jika orang tuanya tau berarti tamat sudah riwayatnya. Ia tau hanya ada dua kemungkinan yang akan dilakukan ayahnya untuk memberikannya hukuman yaitu, pilihan pertama Ia akan di usir dari rumah atau yang kedua dirinya akan berurusan dengan hukum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~