
"Maaf.... Aku... Aku... Tidak bisa lagi... Sungguh... Bisakah kamu membantuku !" ucap Jennie terbata.
Bunda Maryam dapat merasakan betapa dinginnya tangan menantunya itu.
"Kakiku gemetar... Rasanya aku tidak sanggup berjalan..." lanjut Jennie menunduk.
Kai yang awalnya kebingungan dan sempat kecewa kini tersenyum paham. Ia mendekat dan segera mengangkat tubuh Jennie ala-ala bridal style. Perlakuan Kai tentu membuat suasana semakin riuh. Tak jarang tamu undangan memuji Kai sebagai suami yang romantis.
"Ah... Rasanya aku ingin menjadi Jennie..."
"Romantis sekali...."
"Bolehkah Aku iri ?"
"Mereka romantis sekali"
Seperti itulah ucapan yang keluar dari beberapa wanita yang masih singel.
Jennie yang yang berada dalam gendongan Kai segera menyembunyikan wajahnya karena merasa malu. Sungguh jika bukan karena tidak sanggup lagi berjalan Ia tidak akan meminta Kai untuk mengangkat tubuhnya.
Diantara banyaknya hati yang ikut melting dengan perlakuan Kai ada hati yang merasa sesak karena tak bisa memiliki Jennie.
Pria itu mengepalkan tangannya mencoba menahan api cemburu yang ada dalam hatinya. Ia mencoba berpikir jernih agar Ia bisa menerima takdirnya jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun tetap saja Tuan Sean tidak bisa mengontrol rasa cemburunya. Akhirnya Tuan Sean memilih untuk meninggalkan ballroom. Ia memilih pergi sebelum acara selesai.
Kai begitu senang karena Jennie berinisiatif untuk meminta bantuan kepadanya. Kai terus tersenyum sepanjang Ia menggendong Jennie menuju pelaminan. Terlebih saat wanita itu merapatkan wajahnya tepat di dadanya, sungguh itu semakin membuat jantungnya berdetak tak menentu.
Kai segera menurunkan Jennie pelan² dan membantunya duduk dengan benar. Kai lalu menatap ke arah perut Jennie yang masih rata, rasanya Ia begitu ingin menyentuh tempat dimana calon bayinya sedang tumbuh.
"Apa aku boleh menyentuhnya ?" tanya Kai menatap Jennie dengan tatapan penuh harapan.
Jennie seolah terhipnotis dengan tatapan Kai spontan mengangguk. Dan dengan senang hati Kai menyentuh dengan lembut perut Jennie.
"Jangan bikin Mommy kesulitan ya Nak !" ucapnya pelan, tanpa terasa setitik air matanya berhasil keluar. Kai dan Jennie dapat merasakan sebuah getaran dan perasaan menghangat menjalar di hati mereka.
Kai menarik uluran tangannya dan segera duduk di samping istrinya. Senyuman manis terus menghiasi wajah pria itu namun berbeda dengan Jennie yang menunjukkan wajah datar. Wanita itu hanya akan tersenyum saat para tamu menghampiri mereka dan memberikan ucapan selamat.
Kini giliran ketiga sahabat Kai yang menghampiri mereka dan memberikan ucapan selamat.
__ADS_1
"Hai Jennie, Kamu sungguh cantik hari ini" puji Joshua hendak menjabat tangan Jennie namun dengan cepat Kai menepis tangan temannya itu.
"Ck... Kak pelit sekali" umpat Joshua kesal.
"Tentu saja. Dia adalah milikku dan aku pelit soal dirinya kepada orang lain !" tegas Kai.
"Wah... Tak ku sangka dirimu sebucin ini" ejek Riko.
"Terserah aku lah" jawab Kai tak peduli dengan ejekan Riko.
Jennie yang melihat perdebatan Kai dan temannya hanya terdiam. Wanita itu masih menampilkan wajah datarnya. Dan semua itu tak luput dari penglihatan Dokter Ricard.
Tak lama Meli datang dan langsung memeluk tubuh Jennie.
"Selamat ya atas pernikahan kamu yang dadakan ini. Semoga kamu bahagia selalu, segera dapat momongan..." ucap Meli mendoakan Jennie, "nanti bikin banyak-banyak ya !" bisik Meli di telinga Jennie.
Jennie hanya tersenyum tipis mendengar ucapan temannya itu. Apa Iya dirinya akan bahagia dengan pernikahan ini ?, pikir Jennie.
"Hai Meli" sapa Riko kepada Meli.
"Hai kak Riko" balas Meli melempar senyum manis.
"Belum tau. Tapi ini lagi berjuang buat ngerebut calon suamiku dari pacarnya"
Jawaban Meli tentu membuat mereka kebingungan.
"Maksudmu ingin merebut pacar orang ?" tanya Joshua mendapatkan anggukan kepala oleh Meli, "kenapa harus merebut pacar orang jika masih ada pria yang jomblo ?" mata Joshua melirik ke arah Riko.
"Lebih suka punya orang soalnya lebih menantang" jawab Meli.
"Memangnya kamu tidak takut jika suatu saat kekasihmu atau suamimu direbut oleh wanita lain ?" tanya Joshua lagi.
"Tidak. Karena Meli sangat yakin kalau pria itu adalah jodohku dan wanita yang menjadi kekasihnya sekarang hanyalah tempat titipan sementara" jawab Meli dengan yakin.
"Kayak barang saja pakai dititip" ejek Joshua.
"Ck... Kenapa kalian malah berdebat disini ? Cepat kalian turun ! Masih banyak tamu yang ingin memberikan kami ucapan selamat" kesal Kai.
__ADS_1
Akhirnya teman-teman Kai dan Jennie turun dari pelaminan. Kai melirik Jennie yang tampak tidak menikmati acara mereka. Kai bisa memahami itu. Jika bukan karena hamil anaknya mungkin Jennie tidak akan menerima pernikahan ini.
"Apa kamu lelah ?" tanya Kai.
Jennie yang mendengar pertanyaan Kai hanya menggeleng. Wanita itu enggan menjawab dan menatap ke arah pria yang kini menjadi suaminya.
"Apa kamu kelaparan ?" tanya Kai lagi. Ia takut wanita di sampingnya kelaparan terlebih lagi Ia teringat wanita itu sedang mengandung anaknya.
"Tidak" jawab Jennie singkat tanpa mengalihkan pandangannya.
"Baiklah. Jika kamu lelah atau kelaparan kamu bisa mengatakannya kepadaku !" ucap Kai tersenyum tipis.
Jennie tak merespon lagi ucapan Kai. Ia hanya fokus ke arah depan melihat para tamu yang tampak ikut berbahagia dengan pernikahannya.
"Apakah aku bisa melewati semua ini, hidup bersama lelaki yang selama ini aku anggap saudaraku sendiri dalam status yang berbeda ? Mengapa rasanya begitu konyol ? Menikah dengan saudara angkat sendiri dalam keadaan mengandung darah dagingnya... Apakah aku harus pasrah dan menerima takdirku ini ? Apa aku harus menerima dirinya menjadi suamiku meskipun tidak akan mudah ?" guman Jennie.
Rasanya begitu sulit mengubah perasaan dengan orang yang selama ini kita anggap sebagai saudara. Terlebih lagi ada perasaan benci yang tumbuh dalam hatinya setelah menerima perlakuan tidak mengenakkan dari Kai.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima belas sore yang artinya sudah jam tiga. Bunda Maryam segera meminta Kai membawa Jennie untuk istirahat.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu ! Bunda tidak ingin putri Bunda terlalu lelah..." ucap Bunda Maryam khawatir jika Jennie Kelelahan.
"Kai sebaiknya kamu bawa istrimu istirahat !" lanjut Bunda Maryam memberikan perintah kepada putranya.
"Baik Bunda" jawab Kai.
"Apa kamu sanggup berjalan ?" tanya Kai kepada Jennie.
"Hm..."
Kai mengangguk paham saat mendengar jawaban Jennie. Akhirnya Kai memilih berjalan di belakang Jennie dengan memegang ekor gaunnya agar sang istri bisa berjalan dengan benar.
Melihat Jennie dan Kai berjalan meninggalkan pelaminan, Bunda Maryam menatap sendu ke arah mereka. Ada rasa bersalah karena telah memaksakan kehendaknya dan sang suami untuk menikahkan Jennie dengan putranya.
Ia hanya bisa berharap semoga pernikahan mereka bisa mendatangkan kebahagiaan, dan semoga saja Jennie bisa mencintai Kai seiring berjalannya waktu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
*HAI👋 JANGAN LUPA DUKUNG NOVEL INI DENGAN CARA MEMBERIKAN HADIAH, KOMEN DAN LIKE🙏❤️*