
*Delapan tahun yang lalu*
POV Kaindra
Setelah kejadian dimana aku mengetahui jika Jennie bukanlah adikku, aku tak pernah lagi menganggap Jennie sebagai seorang adik, aku selalu menanamkan dalam pikiranku jika Jennie hanyalah orang asing yang tidak memiliki ikatan darah denganku.
Dan entah mengapa saat pertama kali Jennie memakai seragam putih biru tiba-tiba saja membuatku merasakan perasaan berbeda. Aku seperti tertarik dengan pesona adik angkatku itu namun sebisa mungkin aku menepis perasaan itu.
'Tidak, ini tidak benar !' batinku yang terus mencoba menutupi perasaan aneh itu.
Setelah menyadari ada yang aneh dengan perasaanku ini terhadap Jennie, aku berusaha untuk menghindarinya. Tapi wanita itu terus-menerus meneror ku agar bisa berlaku baik dengannya.
"Kak Kai, kenapa sih Kakak nggak pernah baik sama Jennie ?" ucap wanita itu dengan wajah sedihnya.
'Ah... Sungguh menggemaskan' batinku memuji adik angkatku itu, 'aiss ada apa denganku ini ? Ck... Buang jauh-jauh pikiranmu ini Kau ! Dia itu hanya anak pungut yang berhasil merebut tahtamu sebagai anak kandung' sebisa mungkin aku menghilangkan pikiran dan perasaan aneh ini.
"Kak Kai nggak pernah sayang sama Jennie, padahal Jennie ini adik Kakak, harusnya Kakak memperlakukan Jennie selayaknya seorang kakak memperlakukan adiknya !" lagi-lagi wanita itu mengeluarkan semua isi hatinya dan kini bukan hanya raut wajah sedih yang aku lihat tapi wanita itu sudah mengeluarkan air matanya.
'Apa sebegitu inginnya Ia aku perhatikan ?' tanyaku dalam hati yang entah mengapa tiba-tiba saja ikut sedih melihat wanita itu terisak.
"Berhentilah !" pintaku yang tampa sadar menghapus air matanya, "baiklah, mulai sekarang aku akan bersikap baik denganmu" lanjutku sambil memeluk Jennie yang masih terisak.
'Ya ampun, ada apa dengan diriku ini ? Mengapa aku melakukan hal konyol seperti ini' tiba-tiba saja aku tersadar dengan perbuatanku, aku yang hendak melepaskan pelukanku tiba-tiba saja mengurungkan niat saat wanita itu mebalas pelukanku.
"Benarkah kakak akan bersikap baik denganku ?" tanya wanita itu menenggelamkan wajahnya di dadaku sambil memelukku dengan erat, mungkin wanita itu teramat bahagia.
Sementara aku yang mendapatkan pelukan erat dari wanita itu tiba-tiba saja merasakan jantungku berdetak kencang, aku merasa ada sebuah getaran aneh di hatiku yang akupun tak tau apa artinya.
'Ya Tuhan, jika seperti ini terus jantungku bisa meledak'
Aku mencoba menyadarkan diriku dan segera melepaskan pelukan wanita yang menjadi adik angkatku. Ku lihat wajah wanita itu memerah, mungkin Ia merasakan sesak karena menenggelamkan wajahnya di dadaku terlalu lama.
"Kembalilah ke kamarmu !" ucapku yang berusaha menutupi rasa gugupku, "aku juga ingin kembali ke kamar untuk istirahat" lanjutku lalu memutar badan berjalan menuju kamar milikku.
Namun apa yang wanita itu lakukan benar-benar membuat jantungku ingin meledak.
*Cup*
__ADS_1
"Selamat malam kakakku yang tampan" ucap wanita itu setelah berhasil memberikan kecupan di pipiku secara tiba-tiba.
Aku mematung merasakan bibir mungil wanita itu mendaratkan kecupan di wajahku, 'kenapa bibirnya terasa kenyal dan lembut ?' tanyaku dalam hati.
Oh tidak... Kenapa pikiranku tiba-tiba jorok seperti ini ? Aku lalu mengacak-ngacak rambutku dan menatap ke arah pintu kamar Jennie.
'Akh... Gadis itu bisa membuatku gila jika seperti ini'
Aku berusaha mengatur nafas kemudian kembali berjalan memasuki kamarku. Saat aku berhasil masuk dan menutup pintu, aku segera berlari dan membaringkan tubuhku di kasur empuk milikku.
"Akh... Ini tidak benar !" aku menggelengkan kepalaku berusaha menepis perasaan itu namun tetap saja tidak bisa.
Aku mencoba menyentuh dadaku dan ku rasakan detak jantungku yang masih berdetak kencang, aku menutup mata dan meresapi detak jantung ini lebih dalam dan tiba-tiba hatiku kembali bergetar saat mengingat kejadian barusan.
" Ya Tuhan, ini benar-benar gila... Perasaan ini benar-benar konyol..." Aku berteriak frustasi saat menyadari diriku telah jatuh hati dengan wanita yang menjadi adik angkatku.
"Aku harus bagaimana ? Ini adalah yang pertama kalinya bagiku, dia adalah wanita pertama yang mebuatku jatuh hati" aku mengacak rambutku frustasi.
Setelah kejadian dimana aku memutuskan untuk bersikap baik dengan Jennie, semakin hari hubunganku dengannya semakin dekat. Aku sangat bahagia dan nyaman berada di dekat wanita yang memiliki sifat ceria itu namun berbeda dengan Jennie yang merasa bahagia karena bisa akrab dengaku sebagai kakak beradik.
Tiga tahun aku memendam perasaanku ini akhirnya, aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya jika aku dan Jennie bukanlah saudara kandung, dan aku akan mengungkapkan perasaan ini kepada gadis cantik itu. Namun ekpektasi ku tak seindah realita.
*Plak*
Wanita itu mendaratkan tamparan di wajahku setelah mengatakan jika dia bukanlah anak dari Ayah dan Bunda. Wanita itu marah dan menangis karena merasa jika aku kembali membencinya.
"Kenapa kakak mengatakan hal seperti itu ? Apa kakak sebenarnya pura-pura baik dengan Jennie ? Apa sebegitu tidak inginnya kakak memiliki seorang adik hingga dengan mudahnya kakak mengatakan jika aku bukanlah anak kandung Ayah dan Bunda ? Apa kakak menganggap Jennie sebagai anak pungut ?"
Pertanyaan beruntun dikeluarkan wanita itu dengan suara berteriak dan sesekali terisak. Hatiku kembali merasa sakit saat melihat wanita yang aku cintai menangis. Tidak, bukan ini yang aku inginkan.
"Jennie dengarkan aku baik-baik !" ucapku dengan lembut berusaha menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
"Tidak, Jennie tidak ingin mendengar apa-apa dari mulut kakak lagi" ucapnya menepis tanganku yang hendak menyentuh pipinya
"Kakak jahat, kakak tidak sayang sama Jennie" lanjutnya berteriak dan memukuli dadaku secara brutal.
Aku berusaha memengang tangannya agar Ia berhenti memukuliku, setelah berhasil memengang kedua tangannya aku segera memeluknya dengan erat dan mengelus punggungnya agar lebih tenang.
__ADS_1
"Tenanglah !" ucapku yang masih berusaha menenangkan Jennie yang memberontak ingin lepas dari pelukanku.
"Ku mohon dengarkan aku ! Aku sangat menyayangimu Jen" ucapku berterus terang. Dan wanita itu terdiam saat mendengarkan kalimat yang baru saja keluar dari mulutku.
"Aku menyayangimu tapi bukan sayang seorang kakak melainkan sayang seorang pria terhadap wanita yang Ia cintai"
Setelah berhasil mengeluarkan kalimat itu, aku melonggarkan pelukanku lalu menatap wajah Jennie yang saat itu mendongak menatapku dengan tatapan bingung.
"Ma-maksudnya ?" tanyanya kebingungan.
"Aku mencintaimu" jawabku dengan lantang.
Jennie menggelengkan kepalanya saat mendengarkan ungkapan perasaanku terhadapnya, "ini tidak benar" wanita itu tampak shok.
"Apanya yang tidak benar ?" tanyaku menatap matanya dengan lembut.
"Kakak, kita itu sudara dan tidak boleh saling mencintai !" ucapnya lalu mendorong tubuhku ke belakang alhasil pelukan terlepas dari tubuh mungilnya.
"Sudah berapa kali kakak katakan jika kita bukanlah saudara" ucapku lagi, aku sudah tidak tau lagi bagaimana caranya agar wanita ini mengerti jika kami tidak sedarah.
"Ok, kalaupun kita tidak sedarah Jennie tetap tidak bisa mencintai kakak" Jawabnya menolak perasaanku.
"Apa alasanmu menolak perasaanku jika kita memang benar tidak sedarah ?" tanyaku dengan nada kecewa.
"Karena Jennie akan menganggap kak Kai sebagai kakak Jennie selamanya dan tak akan berubah"
Mendengar alasan Jennie, aku pun mengangguk paham lalu meninggalkan wanita itu yang masih terdiam seperti patung.
Sejak saat itu hubunganku dengannya kembali renggang, dan rasa benci yang sudah hilang kini muncul lagi dalam hatiku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*SILAHKAN BERIKAN SARAN DAN KRITIKANNYA DI KOLOM KOMENTAR!*
Hiii selamat bergabung di karya keduaku🤗 Jangan lupa jadikan novel ini novel favorit kalian ! Berikan dukungan dengan cara like dan komen ! Kirim-kirim juga hadiah untuk novel ini supaya Author tambah semangat 💪❤️❤️❤️
~Salam dari Merauke - Bugis❤️~
__ADS_1