
Tiba di dalam rumah, Emil mengayunkan langkahnya menuju kamar Sheva yang berada tepat di depan kamarnya. Tangan Emil lekas mendorong pintu kayu di depannya. Saat pintu terbuka lebar, pemandangan indah menyapa penglihatannya saat ini. Sosok Kania sedang membaca cerita untuk putranya yang sudah terlelap di atas ranjang.
Melihat Kania menyadari kedatangannya, Emil lantas berjalan memasuki kamar, membalas senyum yang sama ramahnya dengan Kania.
"Sudah makan, Nia?" tanya Emil, berbasa-basi.
"Udah kok, Pak!" Lantas Kania bangkit dari bangku kayu, seakan tahu ke mana tuan rumahnya itu akan duduk. "Bapak belum makan? Nia bisa kok buatkan makan malam untuk Pak Emil," tawarnya.
Emil berdehem pelan, "tidak perlu. Aku sudah makan malam kok. Aku belikan kamu nasi padang. Aku tak sengaja baca statusmu, jadi ya sekalian mumpung ingat." Emil tersenyum tipis saat melihat ekspresi terkejut yang ditampilkan.
"Ah maaf, Pak Emil. Kalau begini, Nia jadi kan sungkan sama Bapak."
"Anggap saja ini bonus." Emil tersenyum miring, sembari memalingkan wajahnya ke arah Sheva. "Tadi Sheva tidur jam berapa?" sambungnya, bertanya pada Kania yang bersiap keluar kamar.
__ADS_1
"Belum lama, kok, Pak. Baru aja Sheva tertidur. Tadi niatnya mau nungguin pak Emil. Katanya mau minta maaf."
Mendengar kalimat itu saja membuat dada Emil berdesir perih. Seharusnya Sheva tidak perlu meminta maaf padanya. "Keluarlah, malam ini aku akan tidur dengannya!" perintah Emil.
"Baik, Pak."
Setelah melihat pintu kamar tertutup rapat, Emil lekas menghampiri ranjang yang ditempati Sheva. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat tubuh putranya meringkuk memeluk guling.
Tangan Emil terulur menyentuh rambut Sheva, lalu membelainya dengan penuh kasih sayang. Tak lama ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi Sheva. "Seharusnya papa yang minta maaf sama kamu, Nak. Papa belum bisa menjadi papa yang baik untukmu. Papa belum bisa memenuhi kebutuhan belajarmu." Tatapan Emil semakin lekat ke arah putranya. "Sheva … papa janji, akan memberikan pendidikan yang layak untukmu," gumamnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Sheva.
Emil memejamkan mata, berusaha membuang semua pikiran buruk tentang Chika. Sudah enam tahun dia berada di titik, seharusnya dia sadar kalau masih ada Sheva yang butuh perhatian extra darinya.
Malam ini, Emil tidak mengetikan pesan teks maupun pesan suara. Hatinya terdorong untuk mengirimkan video singkat ke nomor Chika. Bukan gambar dirinya, melainkan video Sheva yang begitu lelap tidur di atas ranjang.
__ADS_1
"Apa kamu masih menganggap kehadirannya adalah sebuah kesalahan? Kita berdua yang salah. Kita sendiri yang membuat dia ada, tapi kenapa kamu menghukumnya seperti ini! Kamu boleh membenciku, tapi jangan Sheva!" Emil mengarahkan lensanya lebih dekat lagi ke wajah Sheva.
"Chika … dia nak yang manis. Sheva akan tumbuh menjadi pria kuat. Jadi, kamu pulanglah! Kita mulai lagi dari awal. Bukan kesalahan tapi aku janji akan mencintaimu dari awal lagi."
Emil tak lepas menatap wajah tak berdosa putranya, rasanya begitu meneduhkan. Setelah yakin video itu akan dikirimkan, Emil segera mengirimkan video singkat tersebut ke room chat Chika. Beberapa detik ia menatap layar ponselnya. Berharap ada centang dua, lalu centang biru di video tersebut. Sayangnya, itu tidak terjadi. Pesan itu tidak pernah sampai kepada istrinya.
Emil memejamkan matanya rapat, seolah menghalau air matanya yang siap keluar. Tapi, tetap saja air mata keluar melalui celah kelopak mata. Ternyata benar kata orang di luar sana. Kita akan merasa begitu kehilangan setelah orang yang tidak pernah kita anggap itu pergi.
Setelah sedikit tenang, Emil menatap wajah Sheva yang tertidur begitu nyenyak. Ia yang merasa lelah, mulai menyusul tidur di samping Sheva. Sayangnya hingga jarum jam berada di angka 11 malam. Emil masih saja kesulitan menutup matanya. Ia pun memilih beranjak dari ranjang Sheva. Berjalan menuju meja belajar putranya.
Daripada ia diam di atas ranjang, Emil memilih mengambil kertas untuk membentuk alur kemana ia akan membesarkan toko furniture-nya.
Emil memang minim perihal dunia perkayuan, dan ini adalah pengalaman pertamanya tapi untuk bidang promosi dia mempunyai banyak pengalaman soal itu. Terlebih, saat ini banyak kenalan yang siap untuk membantu rencananya. Pasti dia akan mampu membangkitkan lagi tokonya.
__ADS_1
Tangan Emil mulai sibuk membuat janji dengan rekannya, berharap mereka akan memberi respon baik.