
Taksi yang ditumpangi Chika sudah berhenti tepat di depan rumah Emil. Kira-kira sudah tiga puluh menit taksi itu berhenti di sana. Tapi wanita itu masih saja nyaman di bangku penumpang, menunggu sosok yang dicari muncul.
“Mbak, argo sudah hampir 100 ribu, masih mau di sini?” pengemudi taksi mulai meminta pendapat Chika. Pria itu terlihat khawatir, takut kalau Chika tidak mampu membayar tagihan argometernya.
Chika sendiri merasa sungkan, karena telah menggunakan taksi itu untuk tempat persembunyiannya. Tapi bagaimanapun, dia tidak boleh turun. Dikhawatirkan, Emil akan keluar dan melihatnya di sini.
Mata Chika mulai mengamati jalanan sepi di sekitar rumah Emil, merasa aman ia pun memutuskan untuk turun dari taksi tersebut. “Terima kasih ya, Pak,” ucap Chika sembari menyerahkan selembar uang kepada sang sopir.
Ia pun berdiri tegap memandang rumah Emil usai taksi itu pergi. Berharap sedikit saja ia bisa melihat bayangan Sheva.
“Ke mana sih, mereka?!” Chika mulai cemas. Jemarinya sudah sibuk memainkan layar ponsel hendak mengubungi Emil. Hingga gerakan jemarinya tertahan saat melihat mobil Emil berjalan memasuki komplek. Chika ingin sekali bersembunyi tapi rasanya kakinya begitu berat untuk digerakkan. Dia pun memilih berdiri di tempat, menghadapi apapun risikonya.
Chika mulai gugup, seiring mobil hitam milik Emil semakin dekat dengannya. Terlebih saat mobil itu berhenti tepat di depannya, jantungnya serasa melompat pindah ke lambung.
Ia berusaha menerima apapun yang akan dilontarkan Emil untuknya. Hingga sesaat berlalu, bukan suara Emil yang menyapa pendengarannya. Melainkan, suara seorang wanita yang biasanya menjaga Sheva.
“Bu Chika!”
Dua orang itu sama-sama terkejut dengan pertemuannya siang ini. Kania mendekat ke arah Chika, menyapa ramah wanita yang lebih tua darinya itu.
“Nia! Kam—mu pakai ….”
“Iya, saya pakai mobil pak Emil.” Kania meringis, “Aduhh… maaf ya Bu Chika jadi datang ke sini. Saya jadi sungkan loh sama Ibu. Habisnya, saat tadi saya mau memberi kabar ke sekolah pak Emil melarang saya. Beliau malah minta ke saya buat cabut berkas supaya Sheva tidak sekolah di sana lagi.”
Kaki Chika mendadak lemas mendengar penuturan Kania. “Kenapa begitu?” selidik Chika.
“Saya juga nggak paham, Bu.” Kania menjawab singkat.
__ADS_1
Chika merasa keberatan dengan keputusan Emil karena itu akan merugikan dirinya. Dia tidak bisa bertemu Sheva lagi—kalau sampai Emil memindahkan sekolah Sheva.
“Sekarang di mana pak Emil?” Chika ingin protes langsung pada Emil, sebelum semuanya terlambat dan merugikan dirinya.
“Pak Emil ada di rumah sakit—
“Siapa yang sakit?” sela Chika.
“Sheva, Bu. Sejak semalam dia demam, mungkin kelelahan habis perjalanan kemarin,” jelas Kania.
Kalau tidak ada Kania, ia akan menangis keras karena tidak ada di samping Sheva saat ini. Tapi sayangnya keadaan tidak memungkinkan untuk dia meluapkan segala rasa yang ia rasakan. Ia hanya bisa merendam tangis yang membuat dadanya kian sesak.
“Di rumah sakit mana?” tanya Chika dengan suara serak, jemarinya kembali sibuk dengan layar menghubungi taksi supaya segera datang ke rumah Emil.
“Di rumah sakit Kasih Bunda. Ibu mau ke sana, kan? Tadi pak Emil meminta saya buat ngambil pakaian ganti. Boleh saya nitip sekalian? soalnya ... mungkin saya akan ke sana nanti malam, rumah belum saya beresin! saya juga lelah semalam nungguin pak Emil, siapa tahu lelah niatnya pengen gantiin. Eh, tapi malah—
Chika mengikuti langkah Kania yang membawanya masuk ke rumah Emil. Pertama kali saat kakinya masuk ke rumah, ia bisa melihat benda-benda yang ada di sana masih terletak pada posisinya.
Pria itu tidak pernah memajang foto apapun di setiap sudut ruangan. Dinding-dinding pun tampak bersih tanpa coretan tangan Sheva. Rumah Emil tampak bersih, tidak kebanyakan rumah lain yang memiliki anak kecil pasti akan ada mainan berserakan di mana-mana. Semuanya tertata rapi.
“Ini pakaian Sheva, Bu!” ucap kania menyerahkan koper kecil milik Sheva. “Sebentar saya ambilkan pakaian ganti pak Emil dulu,” ucap Kania, kembali memasuki kamar sebelah yang tadi dimasukinya, pintu kamar bewarna coklat.
Ada rasa tidak ikhlas ketika Kania membuka kamar Emil, tapi bagaimanapun Kania lah yang berhak mengambilkan barang pria itu. Waktu sudah merubah, kondisinya berbeda, yang sama hanya rasa cintanya untuk Emil.
Chika berusaha mengusir rasa tak nyaman yang bergelayut manja dalam hatinya. Berharap wanita itu tidak tahu lebih dalam barang pribadi milik Emil. Sayangnya, dia salah, bahkan gadis yang lebih muda darinya itu mengetahui ukurannya, menyiapkan sendiri pakaian untuk Emil, dari pakaian luar hingga dalam.
“Ini ya, Bu! biar nanti pak Emil nggak telepon-telepon saya. Biasanya kalau ada yang tertinggal suka rewel.” Kania sibuk memasukan barang-barang Emil ke dalam koper Sheva.
__ADS_1
“Saya akan menyerahkannya pada pak Emil,” ucap Chika.
Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil yang berhenti di depan pagar rumah Emil. “Sepertinya taksi pesanan saya sudah datang. Saya permisi dulu ya, Nia,” pamit Chika sambil meraih koper kecil milik Sheva.
Kania dengan sopan mengantar Chika hingga pagar rumah, ia merasa senang karena bisa beristirahat lebih lama lagi di rumah.
“Ke rumah sakit Kasih Bunda ya, Pak!” perintah Chika setelah duduk manis di bangku penumpang.
Perjalanan ke rumah sakit Kasih Bunda sedikit terhambat. Butuh waktu dua puluh menit untuk tiba di lokasi rumah sakit Kasih Bunda.
Setelah taksi yang ditumpangi berhenti sempurna, Chika lantas berlari kecil menuju pusat informasi. Ia bertanya pada perawat di mana letak kamar putranya. “Sheva, kamar Sheva di mana ya, Sus?” suara Chika terdengar khawatir, bahkan dia terpaksa menyelinap di antara orang-orang yang sedang mengantri di depan pusat informasi. Tidak peduli dengan teguran mereka.
“Sheva, ada di kamar Abidzar. Vip lantai empat, Bu!” seorang suster menjawab dengan jelas. Chika pun mengucapakan terima kasih, lalu segera pergi memasuki lift.
Hatinya masih saja belum tenang, kini rasa takut dan khawatir bercampur, membuatnya tak mampu berpikir dengan jernih.
Suara lift terbuka membuat Chika lekas melangkahkan kakinya keluar lift. Matanya menyisir setiap nama yang tertempel di daun pintu, mencari nama ruangan yang tadi diucapkan suster jaga. Hingga akhirnya, ia menemukan nama Abidzar di daun pintu kamar paling ujung, tepat di sisi kanannya. Samar-samar telinganya bisa mendengar suara Emil yang sedang bercerita dengan Sheva.
Tangannya terulur mengetuk pintu di depannya. Mungkin ketukannya tidak didengar oleh Emil. Karena pria itu tidak memberikan respon. Chika kembali mengetuk pintu itu.
Ia mengulangi mengetuk pintu tersebut, hingga akhirnya sahutan dari Emil terdengar olehnya.
“Masuklah!” ucap pria itu.
Saat tangan Chika mendorong pintu itu, ia bisa melihat Emil tengah duduk membelakangi pintu masuk. Sedangkan Sheva kini tersenyum manis saat melihatnya hadir di ruangan itu. Senyum yang mampu membuat Chika semakin merasa bersalah pada Sheva.
“Nia, kamu nggak melakukan hal aneh di kamarku, kan?!” tanya Emil yang mengira tamunya adalah Kania. Sheva tersenyum semakin lebar, lalu menepuk punggung Emil, meminta sang papa untuk menghadap ke arah pintu.
__ADS_1