Begin Again

Begin Again
Liburan Bersama


__ADS_3

Ritme jantung Emil sulit dikendalikan saat wanita yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul dari balik pintu. Bibir Emil mengulum senyum yang begitu manis, setelah melihat penampilan Chika pagi ini. Masih seperti dulu, wanita itu tampak energik ketika mengenakan celana jeans dan kemeja putih. Dan itu membuatnya semakin rindu akan belaiannya.


Pagi ini Emil sedang menjemput Chika. Sesuai janjinya beberapa hari yang lalu, kalau hari ini mereka berencana mengatakan semuanya pada Sheva. Berusaha menjadi orang tua yang baik untuk putranya.


Tampak Chika membuka pintu bagian belakang. Saat menyadari Ada Kania dan Sheva, reaksi Chika hanya tercenung bingung. Menatap Emil dan Sheva bergantian.


Astaga, Chika! ternyata kamu melupakan fakta kalau Emil sudah memiliki istri?! Seharusnya kamu meminta izin terlebih dahulu pada Kania, supaya tidak terjadi salah paham di antara mereka. orang lain yang berada dalam diri Chika seakan membantunya untuk bangun dari mimpi.


“Duduklah di depan!” suara Emil menginterupsinya. Sebenarnya niatan dia mengajak Kania, dia ingin wanita itu membantu dirinya menjaga Sheva. Dan dia bisa mengambil kesempatan ini untuk berbicara serius dengan Chika. Berbicara dari hati ke hati supaya semuanya jelas.


“Aku di belakang saja!” tolak Chika.


“Chika, Sheva nggak bisa jauh dari Kania! Kalau mereka di depan pasti polisi akan menghentikan mobil kita.”


Ada rasa iri dalam diri Chika saat mendengar ucapan Emil. Tapi bagaimanapun dia belum bisa protes karena Kania adalah ibu sambungnya.


“Bener. Mendingan Ibu di depan saja!” Kania mendukung perintah Emil. Sebenarnya dia sendiri tidak begitu paham, apa yang menyebabkan bos nya itu mengajak wali kelas Sheva untuk liburan bersama.


“Nggak papa?!” tanya Chika memastikan lagi kalau Kania tidak akan marah.


“Iya. Tenang saja, Bu!” balas Kania.


Mendengar izin dari Kania, akhirnya Chika membuka pintu penumpang bagian depan. Bagaimana bisa jantungnya bereaksi seperti ini, padahal ia tahu kalau Emil sudah memiliki wanita idaman lain. Ah, sialan mudah-mudahan Emil tidak mampu merasakannya! batin Chika.


Sebelum melajukan mobilnya, Emil berusaha bertanya pada Chika. “Mau ke mana? Barat atau timur?”


Merasa sungkan akhirnya Chika meminta pendapat Kania. Dia tidak mau menjadi prioritas di sini. Karena tahu Emil sudah memiliki tambatan hati. “Terserah Kania saja!” kata Chika.


“Saya nggak tahu daerah sini,” balas Kania.


“Ya, sudah kita ke waduk saja,” kata Emil.

__ADS_1


“Waduk?” tanya Chika, keningnya memunculkan kerutan dalam.


“Iya, waduk yang letaknya di sebelah barat bandara Adi Soemarmo.”


“Waduk Cengklik? Itu kalau jam segini panas!” jelas Chika. Waduk Cengklik itu bagus kalau kita ke sana sore atau pagi hari.


“Terus kita mau, ke mana?” tanya Emil.


“Ke Semarang saja gimana?” usul Kania, tiba-tiba ikut menyahut.


“Nanti Sheva kelelahan!” mereka berdua berucap kompak. Kania hanya menanggapinya dengan tatapan heran. 'Bisa-bisanya kompak begini!'


“Ya sudah kita ke pemancingan saja! Kita bisa makan siang di sana sekalian Sheva juga bisa berenang di sana!” putus Emil, setelah sekian lama berselancar dengan ponselnya.


“Setuju!” Kania berucap lantang, saat melihat Sheva mengangguk pelan. Pria kecil itu begitu senang. Mungkin kalau dia bisa berbicara, sepanjang perjalanan dia akan bernyanyi, seperti anak kecil pada umunya yang begitu senang saat dibawa rekreasi.


Empat puluh menit mobil Emil melaju, mereka tak kunjung tiba di lokasi yang dimaksud Emil. Kania sudah terlelap di bangun penumpang. Wanita itu menjelaskan kalau semalam dia begadang demi nonton drama Thailand favoritnya.


Emil yang merasakan gerakan tangan Sheva di lehernya mulai menurunkan kecepatan laju mobil. “Bosan ya? bentar ya, lima belas menit lagi, nanti kita sampai, kok!” kata Emil menghibur Sheva yang bergerak aktiv. Putranya itu acuh, dia justru menutup mata Emil dengan kedua tangannya.


“Sheva! No, ini bahaya, Sayang … jalannya ramai loh!”


Chika yang mendengar teguran Emil langsung menoleh ke arah Sheva. Dia miris saat mata Emil tertutup kedua tangan mungilnya.


“Sini pangku sama ibu mau?” tawar Chika berusaha menghentikan tingkah Sheva yang mengancam nyawa penumpang.


Pria kecil itu menggeleng, dia justru berpindah ke balik kursi yang digunakan Chika. Awalnya dia diam, tapi setelah mobil melaju sekitar satu kilometer, tangannya mulai jahil, menutup mata Chika dengan kedua tangannya.


“Ahh gelap nih, ibu nggak bisa lihat Sheva!” ucap Chika, menggoda Sheva. Dia sengaja mengangkat kedua tangannya kebelakang, untuk mencari posisi leher Sheva.


Tubuh Sheva bergetar hebat, saat tangan Chika mendarat di lehernya, menggelitik dengan gerakan pelan. “Geli, kan?” tanya Chika, yang langsung diangguki oleh Sheva.

__ADS_1


Emil yang merasakan atmosfir kebahagiaan hatinya begitu menghangat. Di saat lampu merah menyala, ia sejenak menghentikan laju mobilnya. Kali ini dia ingin menikmati pemandangan indah di sampingnya. Bayangan keluarga masa depan yang dia inginkan.


Sayangnya, kedua tangan Chika yang tertarik ke belakang, membuat Emil lebih antusias menikmati pemandangan da*da wanita itu dari jarak paling dekat. Sepertinya Emil sudah salah menjatuhkan tatapannya ke arah da*da Chika yang terlihat membusung. Karena sesuatu di balik celananya, kini perlahan mulai memiliki kekuatan untuk bisa berdiri tegak.


Emil pura-pura terbatuk, menyugar rambutnya dengan kasar karena frustasi dengan pemandangan di sampingnya. Hal itu tentu menarik perhatian Chika. Dia mengeluarkan botol air mineral dari dalam tasnya. Kemudian menyerahkannya pada Emil.


Dia pikir Emil benar-benar tersedak oleh makanan atau apapun itu. “Makan apa sih?! Kok sampai begitu batuknya?” tanya Chika, saat batuk yang diderita Emil tak kunjung sembuh.


“Makan permen.” Emil buru-buru meneguk air mineral pemberian Chika, lalu mengucapkan terima kasih sembari mengembalikan botol tersebut.


“Ayok, Sheva sini sama Ibu!” Chika kembali meminta Sheva untuk duduk di pangkuannya. Kali ini pria kecil itu menurut, dia melompati jok bagian depan lalu duduk di pangkuan Chika.


Wanita itu begitu bahagia saat ini, bisa memeluk tubuh Sheva dengan erat. Sayangnya, baru beberapa menit saja, pelukan itu harus terlepas, karena mobil yang dikemudikan Emil sudah berhenti di area parkir pemancingan yang ada di Klaten.


“Kita sudah sampai, mari kita berenang!” ajak Emil usai mematikan mesin mobilnya. Dia sendiri tidak hapal dengan jalan sini, tapi berkat petunjuk jalan dari aplikasi ponselnya, akhirnya mereka berhasil tiba dengan selamat.


“Biar aku yang bawa Sheva. Kamu bangunin istri kamu aja!” minta Chika, sebelum mereka turun dari mobil.


“Istri?” tanya Emil, menatap bingung ke arah Chika. Chika hanya mampu tersenyum cerah, menutupi luka atas fakta yang sudah terjadi.


“Iya, aku akan pergi beli tiket masuk dulu dengan Sheva.” Chika keluar dari mobil sembari menggandeng tangan Sheva.


Sedangkan Emil masih diam termenung, dia mengamati Kania yang masih terlelap di bangku belakang. “Kamu istriku?” Emil tertawa sumbang. “Ngaco, dia!” lalu melepas seat bealt-nya. Beralih ke arah Kania lagi. “Nia! Bagun dah sampai.” Emil berdecak karena Kania tidak merespon sama sekali.


Ia pun lekas keluar dari bangku kemudi, berusaha membangunkan Kania dari jarak paling dekat.


“Nia! Bangun!” ucap Emil dengan nada tinggi, ia bahkan sudah menguncang tubuh Kania yang masih saja lelap. Tak kunjung bangun, Emil meniupkan udara ke wajah Kania. Barulah wanita itu merespon dengan mengedipkan mata. “Bangun, Nia udah sampai, loh!” kata Emil kini lebih lembut karena khawatir Kania akan terkejut dan membuat kepalanya pusing.


Kania yang baru membuka mata begitu terkejut saat merasakan hawa panas di wajahnya. Matanya disambut oleh wajah Emil yang terasa begitu dekat. Bahkan napas pria itu mampu menusuk pori-pori wajahnya.


Hingga suara pintu mobil terbuka, membuat keduanya gelagapan, kepala Emil sampai terantuk pintu saat hendak mengeluarkan tubuhnya.

__ADS_1


“Ah, sorry, aku cuma mau mengambil tas-ku, kok!” Chika yang menyadari kehadirannya menjadi penganggu, berusaha meminta maaf. Seharusnya dia tidak meninggalkan tasnya tadi, hingga dia tidak perlu lagi kembali ke mobil.


__ADS_2