Begin Again

Begin Again
Diusir


__ADS_3

Tawa kecil yang tadi hadir di bibir Emil mendadak sirna, saat Chika ada satu ruangan bersamanya. Kini hatinya terpenuhi oleh perasaan kesal, saat mengingat kejadian kemarin di pemancingan. Ide jahat pun bermunculan, ingin rasanya berperan sebagai pria jahat yang tidak mengizinkan wanita itu menyentuh putranya. Biar wanita itu tahu gimana rasanya dicampakkan.


Namun, saat kepalanya menoleh ke arah Sheva. Keinginan untuk menarik Chika dan mengusirnya keluar memudar. Ia tidak tega, saat melihat bola mata Sheva menunjukkan rasa bahagia yang begitu mendalam. Senyum bocah lepas tanpa beban, putranya itu benar-benar lupa, jika mamanya sendiri sudah dua kali meninggalkannya.


Emil mengesampingkan egonya. Ia beranjak dari kursi, berpindah ke sofa yang ada di samping jendela. Memberi ruang supaya Chika berbicara sendiri dengan Sheva.


“Maaammm ….”


Emil menatap kedua orang itu saat mendengar suara Sheva. Kali ini, dia bisa melihat wanita itu tengah memeluk putranya. Sangat erat. Mungkin, kalau Sheva bisa berteriak dia akan memohon untuk dilepas karena merasakan sesak.


“Maafkan mama, Sheva .... Maafin mama! Mama sudah ninggalin Sheva dan papa Emil. Mama,” kata Chika di sela Isak tangis yang kini masih terdengar jelas memenuhi ruangan.


Emil masih berusaha membuka telinganya lebar-lebar. Kini pandangannya bertemu dengan Sheva. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat Sheva menatap sendu ke arahnya.


"Sheva, apa mama masih pantas menjadi mamamu setelah cukup lama mama meninggalkan kalian? mama merasa nggak pantas mama bodoh, karena memilih pergi!"


Sheva tampak memaksa tangan Chika supaya terlepas dari tubuhnya. Mata Sheva menatap lekat ke arah Chika, sedangkan tangan mungilnya kini terulur, berada di kedua pipi Chika, mengusap air mata Chika yang justru semakin deras saat ia melakukan itu.


Tangis Chika pecah, ia kembali mendekap putranya. Hatinya kembali rapuh jika itu tentang Sheva. Bocah kecil yang hanya bisa ia bayangkan saja wajahnya. “Mama sayang banget sama Sheva. Karena itu mama meninggalkan Sheva sama papa. Mama nggak mau Sheva hidup susah sama mama di sini. Mama tahu, papa Emil lebih bisa melindungi Sheva ketimbang mama!”


Jemari Sheva mendarat di bibir Chika, meminta wanita itu supaya diam. Kalau dia bawa buku catatan pasti dia akan menulis sesuatu di kertas. Sayangnya, tadi ia sakit jadi tidak ada apapun di sini.


Gerakan tangan Sheva semakin aktiv meminta Chika untuk duduk di tepi ranjang. Sebenarnya dia ingin sekali dibacakan cerita oleh Chika tapi, buku-buku ceritanya tidak dibawa. Jadi, Sheva hanya meminta Chika untuk membalas pelukannya.

__ADS_1


“Sheva mau bobo?” Chika mencoba memahami keinginan Sheva. Setelah melihat putranya mengangguk, Chika mulai menepuk pelan punggung Sheva.


Putranya itu tertidur begitu cepat. Bahkan saat ia melepaskan pelukan, Sheva tidak bergerak sedikitpun. Sebelum meninggalkan ranjang, Chika meninggalkan kecupan di kening Sheva. Menatap putranya itu cukup lama sebelum akhirnya menatap Emil yang sedang duduk di samping jendela.


Pria itu masih saja sibuk dengan ponselnya. Sampai tidak menyadari kalau Chika sudah duduk di sampingnya.


“Mau aku pesankan kopi?” tawar Chika, berusaha memecah keheningan siang ini. Sudah lima menit mereka duduk bersama tapi tak ada komunikasi di antara mereka berdua.


“Nggak usah.” Emil menjawab singkat, lalu diam lagi.


“Sheva sakit apa?” tanya Chika lagi.


“Cuma demam. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”


Emil mengangguk, “Iya. Obat yang diberikan dokter tidak begitu bereaksi. Dokter khawatir kalau dibiarkan, akan berpengaruh pada saraf di kepalanya.” Emil menatap ke arah Sheva yang sudah terlelap. Merasa aman kalau dia meminta Chika pergi. “Pulanglah, aku bisa mengatasinya. Aku sudah terbiasa mengurus Sheva tanpa kamu! Aku tahu kamu orang sibuk, jadi nggak seharusnya ada di sini,” imbuhnya tanpa menatap ke arah Chika. Dia tidak akan bisa mengatakan itu jika berpandangan dengan Chika. Hatinya masihlah milik wanita itu, seberapa buruk pun kelakuannya.


“Aku masih ingin di sini. Sheva putraku jadi aku berhak menjaganya.” Chika menolak dengan suara lirih.


“Menjaga?!” Emil tertawa sumbang. “Dulu kamu kemana? Sekarang baru nyadar! Kau pergi, bahkan kamu lupa kalau malam itu susu Sheva habis! Kamu biarkan dia rewel semalam suntuk karena haus!” Emil mengingat malam dimana Chika pergi.


“Bukan begitu! aku tidak punya pilihan selain meninggalkan Sheva denganmu!” rasanya masih sakit mengingat kejadian malam itu. “lagian, untuk apa aku bertahan dengan pria yang masih mencintai masa lalunya? menunggu kapan kamu mencintaiku?! Kamu nggak pernah berada di posisiku! Jadi hanya bisa menyalahkan!” Chika nyaris berteriak di ujung kalimatnya. Emosinya meledak saat mengingat hubungannya dengan Emil hanya sebatas pemuas naf*su saja. Selingkuhan, dinikahi secara diam-diam. Bahkan, tak ada satu pun yang bersikap baik padanya. Termasuk Emil sendiri.


“Karna kamu juga patut disalahkan Chika!” suara Emil lirih tapi penuh penekanan.

__ADS_1


“Ya, aku yang salah. Semua kesalahan ada di aku! merebutmu dari Riella, hamil anakmu, dan aku merusak hidupmu! Semua aku yang salah! makanya aku memilih pergi, memperbaiki diriku!" Chika tertawa lirih. "Sudah jangan membahas masa lalu. Aku datang untuk melihat Sheva, Bukan untuk membahas masa lalu kita.”


Chika beranjak dari sofa. Dia salah sudah berbicara dengan Emil. Seharusnya ia tidak menyapa Emil, dan mengokohkan tujuannya datang hanya untuk Sheva.


“Lebih baik kamu pulang. Kehadiranmu tidak dibutuhkan di sini. Keluarga barumu lebih membutuhkanmu, Chika!”


Rasanya sakit sekali saat Emil mengatakan itu padanya. Tapi bagaimana pun ia harus tetap ada di samping Sheva untuk menjaga putranya, sebentar saja.


“Kamu pulang! Sheva udah ada aku yang akan jadi mama sekaligus papa untuknya! Kamu jangan lagi menemuinya!” suara Emil meninggi, tidak lama pria itu melangkah mendekati ranjang yang ditempati Chika.


Diam-diam air mata Chika meleleh membasahi pipinya, kepalanya menunduk untuk menyembunyikan tangisnya dari Emil. Ibu mana yang tega meninggalkan putranya? tidak ada, termasuk Chika sendiri! Tapi keadaan yang harus membuatnya pergi. Dia dirundung rasa bersalah, rasa rindu akan aroma bayi yang beberapa hari pernah dihirupnya. Semua itu terus menghiasi setiap malamnya.


“Pulanglah, Chika!” Emil menarik lengan Chika. “Kita nggak butuh kamu di sini!” paksa Emil, meminta Chika untuk berdiri dari kursi.


“Kamu lupa siapa yang melahirkan Sheva, kalau bukan karena Sheva aku tidak akan ada di sini! Paham?!” dengan air mata yang sudah menganak sungai Chika mengatakan itu pada Emil. Menatap pria itu lekat. “Kamu nggak berhak melarangku!”


“Kamu sudah meninggalkan kami! kamu nggak ngerti gimana aku bingung mencarimu selama ini! dan sekarang, kamu justru bahagia dengan mereka! Apa kamu masih pantas disebut mama oleh Sheva?!”


“Keadaan yang memaksaku melakukan itu! kalau ma—


Chika menarik napas dalam, ia tidak ingin mengatakan semuanya pada Emil. Toh, kini sudah tidak artinya lagi bagi Emil.


Suara dentuman yang ditimbulkan kaki Sheva membuat Emil menoleh ke arah brankar. Kini Sheva terlihat sudah bangun dari tidurnya. Dia terus menggerakan kakinya, seolah protes dengan mereka berdua yang sedang bertengkar.

__ADS_1


__ADS_2