Begin Again

Begin Again
Pesan Balasan


__ADS_3

Mata Chika sudah bengkak karena terlalu lama menangis. Bahkan meski rasanya sudah lelah dan ingin menghentikan tangisnya, tapi tetap saja air matanya terus keluar. Setiap kata hingga kalimat yang ia baca tak ada yang tidak menyentuh hatinya.


Setiap suara Emil yang mampu didengar semakin membuat batinnya tersiksa. Suaranya sudah habis, napasnya kadang terasa pendek karena menahan sesak yang menghantam dadanya. Chika tak mampu menghentikan membaca pesan itu. Setiap tulisan, setiap suara yang dikirimkan membuatnya kecanduan sampai ia lupa untuk mengisi perutnya. Chika hanya beranjak dari lantai saat merasakan kantung kemihnya penuh.


Nyatanya, pesan Emil mampu menghidupkan lagi semangatnya. Dia belum terlambat untuk kembali bersama orang yang dicintainya. Harapan Chika kini cuma satu, Airin dan Gangga bisa melepasnya, membiarkan dia pergi dan menjemput kebahagiaannya sendiri.


Voice note terakhir sudah bisa ia dengarkan dengan baik. Ternyata Emil pernah salah sangka dengannya. Seperti ia dulu, mengira bahwa Kania adalah istri Emil. Chika menggeleng, menyadari betapa bodoh dirinya hari itu.


Kali ini Chika tidak membalas pesan Emil. Telunjuknya sibuk mencari aplikasi perekam suara di layar ponselnya. Sekali tekan, mode merekam sudah aktive.


Detik demi detik sudah terlewati. Chika masih setia diam hingga detik ke sepuluh ia mulai mengutarakan isi hatinya.


Selamat pagi, Kak Emil .....


Sapaan pertama untuk Emil bibir Chika sudah bergetar, air matanya mulai mengalir lagi. Ia terharu bisa memanggil dengan sebutan itu lagi. Sudah lama sekali ia tidak menyebut Emil dengan sebutan 'kak' hatinya pun ikut bahagia.


Apa kakak sudah sarapan?


Chika tak melanjutkan ucapannya. Ia kehabisan kata-kata untuk sekedar menyapa Emil. Ia menatap ke arah jendela, ia baru sadar kalau matahari di luar sana belum menerangi bumi.


Ehm ... aku tidak menyadari kalau ini masih terlalu dini menanyakan itu. Aku salah melontarkan pertanyaan .... (Chika tersenyum kecil menyadari kebodohannya)


Apa kakak sudah bangun? Kalau kakak sudah membuka pesan ini, tentu, dan pasti matamu sudah terbuka lebar.

__ADS_1


Sejenak Chika mengambil napas seakan memberi jeda supaya Emil menjawab.


Aku sudah membaca dan mendengar semua pesan yang kamu kirim, Kak. Rasanya masih sama ... justru rasa bersalah semakin besar menyerangku. Apa aku masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya?


Tangis Chika pecah, biar saja mereka menganggapnya lebay. Mereka tidak pernah ada di posisinya. Setelah cukup tenang Chika kembali bersuara.


Di kamar ini, kursi kayu yang ada di dekat jendela kamar. Menjadi tempat ternyaman untuk menikmati rinduku pada kalian. Rasanya begitu berat, karena di setiap hela napas yang keluar, keinginanku untuk bertemu kalian semakin kuat. Selama ini aku terlalu pengecut, takut bertemu kalian. Salah satu alasannya, adalah hatimu ... Aku menyadari saat itu, hatimu bukan untukku.


Chika tertawa dalam tangisnya.


... mungkin jalannya memang harus begini dulu, baru kita bisa menyadari kalau kita saling mencintai.


Pahit ya? mungkin aku terlihat mengabaikan Sheva dan menyayangi Airin. Tanpa orang ketahui, itu adalah caraku menghibur diri, mengasuh Airin, gadis yang bernasib sama dengan Sheva, ditinggal pergi oleh mamanya. Dalam doaku aku meminta, Sheva akan diperlakukan sama oleh wanita baik di luar sana, seperti apa yang aku lakukan untuk Airin.


Maukah kakak berjuang bersamaku, sekali lagi? Memulai dari awal, tentu dengan cara baik-baik. Kita akan menghadapi apapun yang akan menghalangi kita.


Emil baru saja selesai mendengarkan pesan dari Chika. Dia justru termangu sembari menatap kosong wajah terlelap putranya. Bibirnya tersungging, lalu mengecup kening Sheva cukup lama. Ia beranjak dari ranjang. Lalu menghampiri Kania yang ia minta duduk di sofa.


"Nia," panggil Emil, seraya mengguncang tubuh wanita itu. "Nia, aku titip Sheva!" Meski sudah sepenuhnya tugas Kania untuk menjaga Sheva, tapi pria itu selalu berpesan pada Kania. Siapa tahu wanita itu lalai dan membuat Sheva celaka.


"Siap, Pak! Bapak mau ke mana?" tanya Kania dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya. Dia heran saja, biasanya pria itu akan pergi setelah melihat Sheva bangun.


"Aku ada urusan pribadi." Emil lantas berlari meninggalkan ruangan Abidzar yang ditempati Sheva saat ini. Mengabaikan protes dari Kania yang masih saja terdengar.

__ADS_1


Emil sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Chika. Tiba di dalam mobil, ia langsung menginjak pedal gas nya. Denyutnya jantungnya berdebar tak karuan. Ia bingung harus berkata apa saat mereka bertatap muka. Mendadak gugup, seperti awal ia merasakan jatuh cinta. Hatinya terlalu gembira mendengar ajakan Chika. Ia sampai tidak bisa berpikir tenang.


Hampir dua puluh menit berlalu, mobil Emil sudah berhenti di depan rumah Chika. Matahari kini sudah tampak menyinari bumi. Beberapa ibu-ibu kompleks terlihat berdiri di depan rumah Chika, menghampiri tukang sayur keliling yang kebetulan sedang lewat. Emil tersenyum cerah ke arah ibu-ibu tersebut. Padahal ia tidak mengenal sama sekali. Tapi sekali lagi, ini di Solo.


Tiba di depan pintu, Emil berusaha mengetuk pintu di depannya. Berulangkali ia menyerukan nama Chika. Tapi wanita itu tidak menyahut sama sekali. Emil yang tidak sabaran, menerobos begitu saja pintu masuk tersebut.. Ia melangkah memasuki rumah. Hingga melihat Chika yang terduduk di lantai kamar utama.


"Pantas saja, nggak merespon!" Emil mendekati wanita itu. Lalu memindahkan tubuh Chika ke ranjang. Baru saja dia hendak beranjak, wanita itu justru sudah terbangun.


"Apa aku mengganggu tidurmu?"


"Kak Emil ..." panggil Chika dengan suara serak, tenggorokannya terasa sakit, seperti ada duri yang bersarang. "Ka—kamu di sini?" Chika begitu terkejut melihat kehadiran pria itu. Dia masih berusaha menerka ini mimpi atau benar Emil ada di depannya.


Melihat Emil yang terlihat nyata, Chika berusaha mendudukan tubuhnya. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Emil. "Ini ... kamu langsung datang ke tempatku, apa kamu sudah mendengarkan pesan itu?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Chika. Emil justru mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu. Tubuh Chika membeku, ia masih terkejut saat menerima serangan tiba-tiba dari Emil. Bahkan, ia tidak berkutik sedikitpun ketika bibir pria itu semakin liar memagut bibirnya.


"Kita akan memulai hubungan kita dari awal. Yang berbeda kini ada Sheva yang hadir di tengah kita."


Chika justru menangis mendengar bisikan lembut dari bibir Emil.


"Janji padaku apapun masalahmu, jangan pernah melaluinya sendiri."


Tidak ada kata yang dilontarkan Chika. Saat ini dia hanya mampu memeluk tubuh Emil seerat mungkin. Sayangnya, adegan pertemuan itu harus berakhir saat dering panggilan masuk terdengar memenuhi kamar.

__ADS_1


__ADS_2