
Di kursi yang saat ini digunakan Chika. Wanita itu terus mengamati kursi kosong yang biasa ditempati Sheva. Meski sudah berhari-hari kursi itu tampak kosong, karena penghuninya sedang sakit. Tapi hari ini terasa beda, ada rasa takut yang tiba-tiba memeluk erat dirinya.
Dia kekhawatiran karena kejadian tadi pagi. Emil akan menjauhkan dia dari Sheva. Ia tidak bisa menyangkal bagaimana sedihnya dia kalau tidak bisa lagi menemui Sheva.
Namun, saat teringat dengan ucapan Emil yang membandingkan dirinya dengan Riella. Pasti itu akan menjadi alasan kuat untuknya menjauhi mereka. Sekuat apapun keinginannya saat ini. Dia tidak bisa menahan pria itu untuk pergi. Percuma, karena bagi Emil hanya Riella yang pantas memiliki hatinya.
Anggap saja ratusan atau bahkan ribuan voice note yang pria itu kirim selama ini, hanyalah tipu daya supaya Emil bisa menemukannya.
Chika beranjak dari bangku yang dia tempati, saat merasakan sekelebat bayangan tubuh Kania melewati ruang kelasnya. Dia berbicara kepada muridnya, untuk mengerjakan soal yang ada di buku paket.
Chika berlari kecil keluar dari kelasnya, berusaha mencari sosok yang tadi dilihat. Hingga dia bisa menemukan sosok Kania berjalan di samping taman bermain. “Nia!” seru Chika. Kemudian berjalan menghampiri Kania saat wanita itu berbalik menatapnya.
“Ib—Mbak Chika?” wanita itu terlihat terkejut melihat ibu dari Sheva.
Chika berusaha tersenyum ramah. “Lagi apa? Apa kamu datang bersama Sheva?” tanyanya berusaha mencari-cari keberadaan Sheva.
“Ah, enggak! saya tidak datang dengan Sheva. Sa—saya datang sendirian kok!” jawab Kania.
Chika menunduk sambil menganggukan kepala, kecewa dengan jawaban Kania. “Apa dia sudah keluar dari rumah sakit?” Chika tidak mampu menahan rasa penasaran yang saat ini terus meminta jawaban. Terlebih lagi dia sudah merindukan bocah kecil itu.
“Sudah. Baru saja saya mengantarnya.” nada bicara Kania berubah. Dia menjawab dengan nada ketus, seakan-akan tidak menyukai kalau langkahnya dihentikan oleh Chika.
“Lalu? Ada urusan apa, kok kamu datang ke yayasan?” Chika memberanikan diri menatap ke arah Kania. Dia hanya malu saja, jika Emil sudah menceritakan kejadian tadi pagi kepada gadis itu.
“Pak Emil meminta saya untuk mencabut berkas-berkasnya Sheva. Kemungkinan Sheva akan dipindahkan ke sekolah lain.” Kania menjelaskan maksud tujuannya datang ke Yayasan.
“Apa Sheva mau?!” selidik Chika. Kini ketakutannya seolah terbukti. Emil akan menjauhkan Sheva darinya.
__ADS_1
“Mau tidak mau saya harus melakukan itu. Karena ini perintah dari atasan saya!”
“Kenapa? Bukankah untuk sekarang adalah kenyamanan Sheva. Dia nyaman di sini, nyaman dengan teman-temannya juga!”
“Sekali lagi saya hanya menjalankan tugas. Untuk lainnya saya tidak tahu. Silakan ibu tanya pak Emil. Bukankah sudah semalaman Ibu bersamanya?!”
Saat Chika hendak menjelaskan pada Kania. Wanita itu justru berlalu meninggalkan taman. Tanpa mengindahkan panggilan darinya.
Chika berusaha mencari tumpuan untuk menahan beban tubuhnya. Siklus perasaannya begitu cepat berputar, baru semalam mereka berdua merasakan kedamaian kenapa paginya justru kacau seperti ini. Bahkan pria itu tega memisahkan dia dengan Sheva.
Chika menarik napas dalam-dalam. Menenangkan gemuruh di dadanya yang begitu menyiksa, dia sampai tak mampu bernapas dengan baik saat ini. Chika kembali meyakinkan dirinya kalau dia akan baik-baik saja. Seperti hari-hari sebelum pertemuan mereka bertiga.
“Kamu sakit?” Gangga yang baru saja datang berusaha menahan tubuh Chika yang hendak ambruk.
Chika menggeleng pelan. “Eh, Mas. Ah, eng—enggak, kok! cuma kaget saja." Chika menjawab singkat, dia justru terkejut karena tangan Gangga kini memegangi kedua lengannya.
"Hah? Mas Gangga tenang saja, aku hanya shok aja, tiba-tiba Kania mengurus kepindahan Sheva. Aku seperti belum menerima kenyataan ini."
“Aku bisa menahannya kalau kamu mau.”
“Enggak perlu!” Chika tersenyum tipis. “Aku bisa bertemu dengan mereka di luar yayasan.”
Gangga pun mengalah, dia melepas cekalan di lengan Chika. Dia mengajak Chika duduk di bangku taman.
“Gimana apa Mas Gangga sudah mendapatkan informasi tentang mbak Fani?”
“Em ... belum. Aku baru bisa mengikuti anaknya dari kejauhan.” Gangga menjelaskan tentang kejadian pagi ini.
__ADS_1
Chika mengangguk, dia sendiri tidak bisa melakukan banyak hal, mengingat dia tidak terlalu mengenal Tiffani. “Jangan sampai, karena Mas Gangga sibuk dengan masalah ini. Mas jadi mengabaikan Airin. Dia juga putrimu, Mas! putri kandungmu.”
“Ya, terima kasih sudah mengingatkan!” balas Gangga.
“Mas, apa aku boleh pulang lebih awal? Aku sedikit pusing, mungkin karena semalam kurang istirahat.” Chika menyampaikan izinnya pada Gangga.
“Ya, tentu saja boleh. Ayo aku antar!” ajak Gangga.
“Em, enggak perlu! Aku bisa naik taksi, kok.”
“Chika ....”
“Please, Mas! Aku bisa kok!” Chika ngotot ingin pulang sendiri. Gangga yang mendengar penolakan Chika tampak membuang napas kasar. Paham kalau Chika sudah berkata seperti itu, artinya dia tidak menerima penolakan apapun.
“Oke, hati-hati kalau begitu. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah,” pesan Gangga, sebelum Chika meninggalkan taman.
Chika berjalan menuju ruang kelasnya, dia ingin mengambil tas dan pulang lebih awal hari ini. Kepalanya terasa berat, dia butuh obat untuk meredakan sakit kepalanya.
Dalam perjalanan menuju rumah. Taksi yang ditumpangi Chika melewati rumah Emil. Wanita itu meminta sopir taksi yang mengantarnya untuk berhenti sebentar tepat di depan rumah pria itu. Dia ingin melihat kondisi Sheva saat ini, sekaligus melepas rindu meski tak bisa bertemu.
Namun, sudah sepuluh menit taksi itu berhenti di depan rumah Emil tak muncul sedikit pun bayangan sosok Sheva di sana.
Pintu rumah itu terbuka lebar, tapi Chika tidak mendapati Sheva keluar rumah. Mungkin karena cuaca siang ini sangat panas, terlebih lagi bocah itu baru keluar dari rumah sakit pasti dia tidak akan menemukan Sheva di teras rumahnya.
“Jalan saja, Pak!” perintahnya dengan suara serak, rasanya sia-sia dia berada di tempat itu. Dia putus asa untuk bertemu Sheva. "Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi, Sayang ..." gumamnya, seiring taksi yang berjalan meninggalkan rumah Emil.
Saat tiba di dalam rumahnya, Chika langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia yang merasakan sakit kepala justru langsung terlelap, tanpa melepas baju atau meminum obat terlebih dahulu. Berharap setelah ia membuka mata rasa sakitnya akan sedikit berkurang.
__ADS_1
Namun, meski sudah hampir dua jam terlelap bukan cuma rasa pusing yang dia rasakan. Kini suhu tubuhnya justru meningkat. Chika tidak mampu untuk berjalan keluar kamar. Bahkan, untuk menerima panggilan dari bu Aini saja ia tidak mampu. Chika mengabaikan dering ponselnya, membiarkan mati dengan sendirinya. Dia tidak memiliki tenaga untuk sekedar mengambil ponsel itu.