Begin Again

Begin Again
Surat Kecil Sheva


__ADS_3

Selamat Membaca, jangan lupa tinggalkan LIKE! Yang berkenan silakan bantu promo cerita 'BEGIN AGAIN' ya!


...😍...


Emil tak begitu paham apa yang membuat Chika melontarkan pertanyaan itu padanya. Dia buru-buru beranjak dari dapur itu karena, mendengar Kania yang mengatakan kalau, Sheva mencarinya, makanya dia harus segera berkemas dan bertolak ke rumah sakit.


“Mak—sud kamu?” Emil berusaha memperjelas lagi pertanyaan Chika. Dia berharap Chika salah bertanya atau apapun itu.


“Lupakan! Cepatlah mandi!” perintah Chika.


Alih-alih meninggalkan area dapur, Emil justru kembali mendekati Chika. “Ibun, dengerin aku deh! Kalau aku cinta sama Kania ... satu hal yang seharusnya kamu lihat saat ini, aku sudah beranak pinak dengan Kania! Aku enggak bakalan membuang waktuku selama enam tahun lamanya, hanya untuk menunggumu pulang!” tubuh Emil sedikit membungkuk, menyamakan wajahnya dengan Chika. “Masih kurang buktinya?”


Chika tidak menjawab, Emil pun hanya mengamati Chika lebih dalam lagi. “Kalau kamu merasa aku tidak benar-benar mencintaimu. Kamu bisa buka pes—


Tiga jemari Chika mendarat di depan bibir Emil. Tanpa dijelaskan lagi Chika sudah tahu, seberapa besar arti kehadiran dirinya di samping Emil. Semua terbukti dengan ratusan chat yang Emil kirimkan padanya. “Maaf. Aku hanya khawatir, kalau hanya aku saja yang mencintaimu!” gumamnya.


Emil menurunkan jemari Chika, lalu menggenggamnya erat. “Aku yang seharusnya minta maaf. Aku terlambat menyadari perasaanku sendiri!” mata Emil berkedip beberapa kali. “Kita ke rumah sakit sekarang? Atau masih mau ... menghabiskan waktu di sini bersamaku? Kita berantakin ranjang dulu misalnya!”


“Kak, jangan aneh-aneh! Kita berangkat sekarang saja!”


Emil terkekeh pelan. “Oke aku mandi! kamu mau mandi nggak?” tanya Emil.


Tidak ada balasan verbal dari Chika, tapi dari tatapan matanya jelas menunjukan ancaman dan penolakan.


“Kalau kamu mau mandi, di situ ada kamar mandi. atau mau mandi di kamarku?” Emil terkekeh, berusaha mengikis pikiran buruk yang sempat terlintas di kepalanya.

__ADS_1


“Kak!” panggil Chika, penuh peringatan.


"Iya-iya!" Emil pun tak ingin membuang waktu lagi ia bergegas masuk ke kamarnya untuk mempersiapkan diri.


Sedangkan Chika, memasuki kamar yang tadi ditunjuk Emil, tak lain adalah kamar Sheva.


Kamar Sheva berbeda dengan anak-anak lain. Mungkin atau karena mereka baru saja pindah, jadi kamar itu tampak lenggang. Tidak ada hiasan apapun yang terpasang di dinding. Semuanya polos, tidak ada corak kartun di seprainya.


Langkah Chika tertuju ke arah rak buku. Cukup banyak koleksi buku yang ada di rak. Chika menarik salah satu dari buku yang ada di sana. Saat ia membuka buku tersebut, rupanya itu tentang komik edukasi yang mempelajari tentang organ dalam tubuh manusia. Gambar buku itu lebih mencolok, mungkin itu salah satu strategi pemasaran penerbit, supaya anak-anak lebih menyukainya belajar SAINS.



Chika hanya tersenyum simpul, lalu mengembalikan buku itu ke tempat semula. Ia tidak ingin berlama-lama di sini, khawatir Emil lebih dulu selesai darinya.


Chika mengayunkan langkahnya menuju lemari pakaian. Saat ia membuka lemari kayu itu, isinya pun terlihat rapi. Sheva sepertinya bukan tipe anak kecil yang mengambil baju di lemari selalu berhamburan di bagian paling atas.


Chika menoleh ke arah pintu, merasa tidak ada tanda-tanda Emil akan datang ia lekas menarik amplop tersebut. Chika membuka amplop itu, lalu membaca isi-nya. Sebuah tulisan anak kecil yang tidak begitu rapi terlihat di kertas tersebut.


Di ujung kertasnya terdapat goresan tubuh wanita yang berdiri sendirian. Chika tersenyum melihat itu. Meski belum begitu tegas goresannya, tapi setelah membaca isinya Chika baru paham, apa yang saat itu diluapkan Sheva.


Apa mama cantik? Kata papa mama itu sangat cantik. Tapi Sheva nggak bisa menggambar wajah mama. Ya Allah … kapan mama Sheva pulang, Sheva ingin menggambar wajah mama.


Isi lembar pertama hanya tulisan seperti itu. Dan di lembar berikutnya. Gambar Sheva semakin tidak jelas. Hanya coretan berbentuk lingkaran yang tidak jelas. Sheva sepertinya sedang meluapkan emosinya hari itu, terbukti ada sedikit lubang di salah satu sudutnya.


Sepertinya gambar dan tulisan itu dibuat di hari yang berbeda dari hari pertama.

__ADS_1


Kata nenek mama itu wanita murahan dan pelakor. Tapi saat Sheva tanya sama papa, papa tidak memberikan jawaban. Papa hanya bilang, kalau mama itu wanita paling hebat yang sudah melahirkan Sheva. Tapi saat Sheva bertanya pada Kak Kania apa itu wanita murahan dan pelakor, dia bilang wanita yang tidak punya harga diri suka merebut milik orang lain. Ya Allah … Sheva ingin sekali bertemu mama. Minta penjelasan tentang ucapan mereka.


Di lembar terakhir, Sheva tidak menggambar apapun, hanya ada tulisan tangan di lembar itu.


Seperti apapun kondisi mama … Sheva tetap sayang mama. Bu guru bilang, kita nggak boleh durhaka sama orang tua termasuk mama. Saat aku tanya sama bu guru, kenapa mama pergi, mereka bilang mungkin mama punya masalah orang dewasa yang tidak Sheva tahu. Jadi, mama … cepatlah pulang! Peluk Sheva! Sheva sekarang sudah besar, sudah bisa jalan sendiri. Hanya saja … Sheva masih belum bisa bicara. Bukan cuma Sheva, tapi papa juga menyayangi mama.


Air mata Chika gugur membasahi pipinya. Ia segera melipat kertas itu saat mendengar suara pintu terbuka. Secepat kilat ia menyeka air matanya. Berharap, pria itu tidak menyadari tangisnya.


“Baju Sheva sudah, Ibun?”


“Udah.” Chika berharap semoga Emil tidak mendengar suaranya yang terdengar habis menangis.


“Kamu beneran nggak mau mandi?” tanya Emil.


“Enggak usah.”


“Oke, kita berangkat sekarang!” ajak Emil. Chika lekas mengembalikan amplop itu ke tempat semula. Lalu keluar dari kamar Sheva dengan membawa ransel milik putranya.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit. Chika lebih menjadi sosok perempuan pendiam. Dia masih memikirkan dua kata yang tadi dibaca. ‘Wanita Murahan’ itu menarik dirinya untuk masuk dalam kubangan kenangan masa lalunya. Terlebih orang yang mengatakan adalah orang yang sama. Apa Chika melupakan fakta tentang wanita itu? Mertua yang selalu menginginkan ia pergi jauh dari Emil.


Genggaman tangan Emil yang terasa hangat di telapak tangannya, membuat Chika tersadar jika pria yang saat ini dipikirkan ada di sampingnya.


“Udah sampai, kamu lagi mikirin apa?”


“Enggak.” Chika berdehem, "hanya masalah kecil." “Ayo, aku sudah tidak sabar bertemu Sheva!” ajaknya, bersiap untuk turun.

__ADS_1


“Kalau ada apa-apa cerita, ya! jangan disimpan sendiri!” Sebenarnya ada ribuan pertanyaan di pikiran Emil yang membutuhkan jawaban dari Chika. Tapi, ia merasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan itu.


__ADS_2