Begin Again

Begin Again
Masih Saja Sama


__ADS_3

“Sejak kapan kamu bangun, Kak?” tanya Chika setelah berhasil membuka matanya lebar, dan hal pertama yang menyambutnya adalah sosok Emil yang menatapnya lekat.


Pria itu tersenyum simpul lalu mengusap rambutnya lembut. “Baru aja. Ada mungkin dua puluh menit yang lalu.” Emil menjawab singkat lalu membawa Chika masuk ke pelukannya.


Mereka berdua seolah tidak peduli dengan situasi di luar kamar. Matahari sudah menyorot terang pagi ini, hanya saja kamar itu masih tampak temaram akibat, gorden jendela belum ada yang dibuka.


Sedangkan dua orang yang belum mengenakan pakaiannya itu justru semakin menyamankan diri di pelukan pasangannya. Hingga beberapa detik berlalu, terdengar suara erangan dari bibir Emil. pelukannya terlepas, dia sedikit menjauh dari Chika.


“Ada apa sih! Jangan main cubit-cubit gini, sakit!”


“Lebih sakit aku! Semalam harus melayanimu terus-terusan! Ternyata kamu pembohong ulung ya!”


“Apa?” Emil terkekeh, satu tangannya meraih kacamatanya yang terjatuh di bawah ranjang, akibat kebrutalan semalam. Dia memakainya, kali ini mulai berbicara serius.


“Milikmu itu hanya lama tidak digunakan! Jadi ibarat besi kalau tidak digunakan itu berkarat! Perlu dilumasi dulu pelumas supaya karatnya hilang.”


“Ya, bisa jadi, sih!” Emil mendekat lagi ke arah Chika, kemudian mengecup singkat kening wanita itu. “Berarti aku nggak perlu ke dokter, kan? dokter pribadiku sudah ada di sini!” sambungnya, disusul tawa kecil.


Kali ini tangan Emil yang bebas mulai jalan-jalan, menyentuh sesuatu yang masih terasa lembab di area bawah sana. Chika berdesis pelan, seraya berusaha menyingkirkan tangan pria itu. Tapi tetap saja dia kualahan.


Sepertinya, petualangan ke puncak, hingga turun ke dasar lembah dan bermuara menumpahkan segalanya di dasar gua yang gelap dan sempit itu belum cukup membuat pria itu puas. Eh, bukan belum cukup, tapi sepertinya, kali ini Emil mulai kecanduan untuk selalu dan selalu mengunjungi area-area favoritnya itu.


“Udah, Kak! Aku mau mandi lengket semua badanku!” Chika berusaha menolak, dia hendak mendudukan tubuhnya tapi kembali dijatuhkan lagi oleh pelukan Emil.


“Sepertinya jiwa mudaku mulai kembali! aku sudah mampu menjatuhkanmu!” kata Emil, tangannya kini bergantian dengan bibirnya yang mulai menjelajah tubuh Chika. Tubuh wanita itu hanya tertutupi kain bali. Sepertinya pria itu sengaja, memberi Chika kain selimut tipis, supaya lebih mudah mengakses, setiap jengkal kulit istrinya.


“Setelah itu mandi, ya! satu ronde aja loh!” Chika berusaha mengingatkan.

__ADS_1


“Iya kita mandi bareng.”


“Enggak mandi sendiri-sendiri!” tolak Chika.


“Kamu enggak kangen mandi bareng aku!”


“Sama sekali enggak, karena aku tahu di kamar mandi nanti, mustahil kamu tidak melakukan apa-apa! Fantasimu masih sama saja!” balas Chika, dia mulai pasrah saat tangan Emil berhasil mengakses seluruh tubuhnya.


Emil yang mendengar itu terbahak lirih. Kembali dia melepas kacamatanya. Lalu mengukung kembali tubuh wanita itu. “Gendutin dikit tubuhmu, jangan terlalu kurus! Sakit juga kena tulangmu!” gumam Emil, lalu mulai membiarkan tangannya yang mengambil alih memuaskan istrinya.


“Papa! Sheva lapar, Pa!”


Di depan pintu kamar mereka berdua, seorang anak kecil sedang berteriak, mengeluh kelaparan. Tapi Emil acuh, dia masih saja bermain-main di area sensitive istrinya.


Chika tidak akan tega membiarkan putranya kelaparan seperti itu. Apalagi di dapur sana tidak ada makanan apapun yang bisa dinikmati. Tapi, gerakan jari-jari Emil juga tidak bisa dihentikan begitu saja. “Stop dulu, Kak! Sheva minta makan, aku harus nyari tukang sayur dulu, kita bisa melanjutkannya nanti!”


Rasanya ingin sekali mendorong tubuh pria itu, saat dengan tega memasukinya dan membiarkan Sheva berteriak meminta makan.


Namun Chika juga tidak tega ketika melihat mata Emil sudah berselimut gairah. Dia pun membiarkan pria itu melakukannya. Menuntaskan has-ratnya yang juga belum terpuaskan.


Hingga lima belas menit berlalu, Chika buru-buru, melepas sesuatu yang menyatu di bawah sana. Dia mendorong pelan tubuh Emil, hingga rubuh di sampingnya. Chika segera berjalan ke arah kamar mandi, membersihkan tubuhnya sebelum menemui Sheva.


“Papa, Sheva lapar!” suara itu masih terdengar jelas dari dalam kamar.


Emil yang mendengar rintihan Sheva hanya menahan tawa. Kasihan juga bocah itu. Batinnya. Ia kemudian beranjak dari ranjang setelah membersihkan sisa cairan putih itu dengan tisu. Setelah berpakaian lengkap, Emil bergegas membuka pintu kamar.


“Papa ngapain sih, kok lama banget buka pintunya? Ibun, tidur sama papa, kan? ibun nggak pergi lagi, kan Pa?” cecar Sheva, rupanya dia sama dengan Emil. Takut jika Chika akan pergi jauh meninggalkannya lagi.

__ADS_1


“Ibun, enggak akan pergi lagi. Dia akan menemani kita berdua.”


“Apa Papa bisa menjamin?” tanya Sheva.


Emil menatap Sheva semakin dalam, mendadak dia ragu dengan ucapannya sendiri. ‘Siapapun tidak bisa menjamin kalau Chika akan setia berada di sampingnya. Bahkan dia sendiri!’


“Pa?!” seru Sheva.


“Kita akan jaga Ibun supaya tidak pergi-pergi lagi! Udah lebih baik sekarang kamu mandi, setelah itu kita pergi nyari sarapan. Okay!” pinta Emil yang langsung diangguki kepala oleh Sheva.


Melihat putranya itu beranjak pergi, Emil buru-buru menyusul istrinya yang belum juga menyelesaikan mandi. Tidak! Dia tidak melakukan apapun di dalam kamar mandi, dia justru mengamati gerakan tangan Chika yang menggosok tubuhnya sendiri. Ucapan Sheva terngiang-ngiang di kepala. Dia tidak membayangkan gimana jadinya Sheva kalau Chika mendadak pergi dari kehidupan mereka berdua.


Chika sampai terkejut dengan kehadiran Emil yang tiba-tiba saja berada satu ruangan bersamanya. "Kenapa, Kak?" tanya Chika, dia bisa melihat gurat kesedihan di wajah Emil saat ini.


“Gantian mandinya. Aku nggak mau buat kamu lemas lagi!” kata Emil, mulai melepas kain yang menempel di tubuhnya.


“Iya. Ini aku udah selesai kok!” ucap Chika, kemudian meraih handuk mandi yang menggantung di balik pintu, dia kemudian berlalu dari kamar mandi. Bersiap-siap untuk mencari sarapan.


Teriakan Sheva yang ada di depan pintu membuat Chika lekas membuka pintu kamar. Saat pintu itu berhasil terbuka lebar bocah itu langsung menerobos masuk, lalu berusaha mencari tempat persembunyian di dalam kamar utama.


“Sheva, ada apa Sayang?” tanya Chika berusaha mencaritahu. Dia mengikuti Sheva hingga menahan pintu almari yang hendak ditutup putranya. Ya, bocah itu berniat bersembunyi di dalam lemari.


“Sheva?!” panggil Chika lembut, dia tahu sheva ketakutan. Dari wajahnya yang merah, dan matanya yang bergerak seperti orang kebingungan, Chika tahu Sheva sedang tidak baik-baik saja.


“Sheva katakan sama Ibun? Ada apa?” desak Chika, khawatir.


“Di—di … anuh di luar ada nenek!” Sheva menatap Chika, sambil menggeleng tegas. “Sheva takut, Ibun!” ucapnya parau, sambil menatap Chika dalam.

__ADS_1


 


__ADS_2