Begin Again

Begin Again
Menebus Waktuku


__ADS_3

Detak jantung Emil berdegup lebih cepat saat kakinya mengikuti langkah seorang wanita yang berjalan menuju ruangannya. Aroma vanilla yang disebarkan berhasil menusuk indra penciumannya, membuat Emil semakin menginginkan Chika.


Entah apapun alasan Chika pergi dari hidupnya, Emil bertekad untuk memilikinya kembali. Bukan hanya demi Sheva, tapi dia ingin memulainya kembali dari awal, tentu dengan menjalin hubungan baik dengan wanita itu.


"Silakan masuk, Pak Emil!" Chika membuka pintu lebar, meminta pria itu untuk memasuki ruangannya.


Sejenak keheningan menyapa ruangan yang mereka tempati. Emil berjalan menghampiri kursi kayu. Kemudian mendaratkan bo*kongnya di sana. Sembari menunggu Chika duduk, ia berusaha mengalihkan perhatiannya ke arah layar ponsel.


“Ini masalah, Sheva.” Kalimat pertama meluncur begitu bebas dari bibir Chika. Wanita itu berbicara tanpa menatap pria di depannya.


“Kalau boleh tahu, ada apa dengan putraku?” Emil merespon dengan pertanyaan. Mendadak ada rasa kesal, saat mendapati Chika tidak mau menatapnya. “Apa ada yang salah dengan kalimat saya?” tanya Emil, setelah tak mendengar kalimat apapun dari bibir Chika.


“Tidak, Pak,” jawab Chika, cepat.


Emil tersenyum kecut. “Lalu kenapa? Apa yang terjadi dengan Sheva?”


“Boleh saya memberikan saran pada, Bapak?” tanya Chika.


“Oh … kalau bu Chika berperan sebagai guru dari putra saya, dan kalau itu menyangkut kebaikan putra saya. Saya akan melakukannya.” Emil berucap begitu pedas, seolah menunjukan kalau dia begitu membenci Chika. Dia sendiri ingin melihat respon Chika saat ini.

__ADS_1


“Apa di rumah Sheva mengikuti terapi bicara?” tanya Chika.


“Sejak pindah ke Solo, saya belum menemui dokter untuk konsultasi tentang kesehatan Sheva,” terang Emil.


“Kalau begitu, biarkan saya yang menjadi guru private untuk Sheva.”


“Kamu? Alasannya apa yang membuatmu menawarkan diri setelah pergi meninggalkan kami?” tanya Emil, masih mode sinis.


“Pak Emil, apa kita bisa mengesampingkan masalalu kita sebentar saja! Ini demi kemajuan Sheva!”


“Ada maksud apa di balik niatanmu ini Chika? Dulu kamu yang pergi dariku!” Emil seakan tidak peduli dengan peringatan Chika.


“Itu tidak akan terjadi! Sheva akan tetap berbeda dari anak lain, baik secara mental maupun motoriknya.” Emil beranjak dari kursi, berjalan meninggalkan ruangan Chika.


“Emil! Izinkan aku untuk dekat dengannya!” teriakan Chika mampu menghentikan langkah Emil. Dia berhenti sejenak, berusaha menata hatinya untuk kembali memutar tubuhnya menghadap Chika.


“Izinkan aku menebus waktuku yang terbuang, Emil!”


Emil justru kembali melanjutkan langkahnya, dia tidak kuasa untuk sekedar menatap ke arah Chika, rasanya sungguh menikam batinnya saat mendengar permintaan Chika hari ini.

__ADS_1


Tiba di luar ruangan Chika, ponsel Emil kembali berdering, Kania kembali meneleponnya.


“Apa bapak sudah di sekolah Sheva?”


“Iya, ini aku di sini, tapi Sheva belum keluar.” Emil menjawab tenang.


“Ow, syukurlah, Pak. Saya cuma takut bapak lupa.”


“Enggak, kamu mau dibawain apa?” tawar Emil.


“Bapak beneran menawari saya?”


“Udah buruan, sebelum aku berubah pikiran.”


“Rujak, Pak! Aku mau rujak es krim ya!”


“Nanti kalau Sheva minta gimana?” tanya Emil.


“Nggak akan, Pak Emil. Sheva nggak suka pedas.”

__ADS_1


“Ya, sudah aku tutup dulu, Sheva sudah keluar. Nanti kalau pas ketemu aku belikan.” Emil lalu memerhatikan putranya yang berlari ke arahnya, tampak ceria sekali Sheva hari ini. Dan dia tidak tahu, apa yang membuat Sheva bisa seceria ini. Saat Emil hendak menggendong Sheva, sosok Chika yang masih berdiri di depan pintu ruangan, justru menarik perhatiannya. Wanita itu tampak terdiam, menatap ke arahnya.


__ADS_2