Begin Again

Begin Again
Nyonya


__ADS_3

“Kak, ada ibu Ineke di depan.” Chika memberitahu seraya mengetuk pintu kamar mandi yang saat ini di tempati suaminya. Emil sepertinya tidak mendengar, karena masih terdengar gemericik air yang terus mengalir.


"Kak!"


“Ya, apa? buka aja pintunya!” seru pria itu.


“Kakak, ada ibu Ineke di depan.”


Pintu kamar mandi terbuka lebar, Emil muncul dengan rambut penuh busa shampoo. "Ada apa?" tanya pria itu.


“Kakak, ada ibu Ineke di depan. Sheva ketakutan, dia sembunyi di dalam lemari.” Chika berusaha menjelaskan.


“Kamu temui saja mama!”


“Kak?!”


“Udah, jangan khawatir, aku nggak akan ke mana-mana. Kalau mama nyakitin kamu ada aku di sini.” Emil berusaha menenangkan, kemudian mengecup kening Chika sebelum menutup kembali pintu kamar mandi.


Chika tampak ragu untuk keluar kamar. Dia justru melangkah mendekati pintu lemari, mengajak Sheva untuk menemui neneknya. “Sheva ….” Chika menggenggam tangan putranya, setelah pintu lemari berhasil terbuka lebar. “Sayang, kita keluar ya!”


Bocah itu hanya bungkam seraya menatap Chika.


“Selama ini Sheva sudah berubah jadi anak yang pintar. Jadi, nenek nggak akan berani menyakiti Sheva lagi. Kalaupun mereka menyakiti Sheva, di sini ada Ibun yang akan melindungi Sheva.”


Bocah kecil itu memeluk tubuh Chika. Ingin memastikan kalau Chika tak berbicara dusta. “Ibun akan melindungi Sheva?”


“Iya, pasti!” Chika menarik tangan putranya. Meminta Sheva untuk keluar dari persembunyian. Dia menuntun Sheva, membawanya keluar dari kamar.


Suara ketukan dari pintu utama membuat Chika berjalan tergesa-gesa. Sheva yang ketakutan hanya mau berjalan di belakang Chika. Dia bersembunyi di sana. Berharap sang nenek tidak akan memakinya lagi, seperti beberapa tahun silam, meski sudah lama kejadian itu berlalu, kenangan buruk itu tak pernah sirna dalam ingatan Sheva. Dia masih saja ingat ketika pertemuan terakhirnya dengan sang nenek. Di saat tangannya terulur, tapi wanita itu enggan menerimanya.


Saat pintu terbuka lebar, Chika berusaha menyapa ramah wanita tua di depannya. Sayangnya wanita tidak itu masih saja menampilkan wajah sinis seakan tak menyukai keberadaan Chika di sini.


“Kalian sudah tahu kalau aku akan datang ke rumah ini?” tanya wanita itu, tidak ada keramahan sama sekali dari nada bicaranya.


“Silakan masuk dulu, Bu. Kak Emil sedang mandi.” Chika berusaha sopan, berbicara sambil menampilkan senyum ramah.

__ADS_1


Wanita itu benar-benar masuk ke rumah Emil, melewati tubuh mereka berdua. Pandangan ibu Ineke tampak menilai setiap sudut rumah milik putranya.


Sedangkan Chika, berjalan ke arah dapur, dia hendak merebus air, berniat membuatkan minuman. “Sheva ... Sheva duduk dulu sama nenek! jangan ngikuti bunda.” Chika tidak bisa bergerak karena Sheva terus menarik ujung kaus yang dia kenakan.


“Nanti nenek maki-maki Sheva lagi?”


Chika menggeleng. “Enggak, Sheva coba kasih salam, sapa nenek dengan sopan. Pasti hatinya akan melembut mendengar cucunya bersikap sopan padanya. Sheva harus berani, okay!” bujuk Chika.


Sheva melirik ke arah ibu ineke. Memastikan lagi kalau dia akan menemui wanita itu. Tak lama kemudian, dia melangkah mendekati sang nenek yang duduk di ruang tamu.


Sheva berusaha mengulurkan tangannya ke depan wanita tua itu. Sambil berkata, “Selamat pagi, Nyonya.”


Bukan hanya Chika yang menoleh ke arah Sheva, tapi bu Ineke juga. Dia sepertinya keberatan mendengar cucunya memanggil dengan sebutan nyonya.


“Sheva … ini nenek! Kamu lupa dengan nenekmu?” Ibu ineke tampak protes. “Jangan begitu sayang. Kau tidak bisa melupakan fakta kalau aku ini nenekmu!”


“Apa karena Sheva sudah bisa bicara, dan sekarang tumbuh jadi anak pintar. Jadi Nyonya mau menganggapku cucu?” Sheva bertanya dengan nada tegas.


“Sheva …” panggil Chika lembut, seakan sedang mengingatkan putranya.


“Demi apapun saya tidak pernah meminta Sheva untuk melakukan itu. Saya bahkan juga terkejut mendengar Sheva memanggil ibu dengan sebutan nyonya.”


“Jangan salahin Ibun. Dia tidak bersalah! aku sendiri yang ingin memanggil ibu dengan sebutan nyonya.”


Mendengar Sheva sedikit berteriak di depan ibu Ineke, Chika buru-buru membawa putranya itu menjauh. Dia ingin menasehati putranya, tanpa melibatkan ibu Ineke.


“Sheva … itu enggak baik! Sheva tidak boleh berbicara seperti itu sama nenek! itu tidak sopan!” kata Chika lembut.


“Dia bukan nenekku, Ibun! Dia orang jahat! Dia yang sudah mengusir papa dan Sheva. Dia juga sudah meminta guru Sheva untuk mengeluarkan Sheva. Dia itu jahat, dia selalu menghina Sheva!”


“Sheva! Papa dan Ibun nggak pernah ngajari Sheva buat menyimpan dendam ke orang. Apalagi membalas sama buruknya dengan yang sudah mereka lakukan. Kamu tahu kejahatan akan luluh dengan cinta. Kamu sayangi nenekmu, dia akan balas menyayangimu, Sayang.”


“Tapi aku nggak suka dia di sini! Ini rumah kita Ibun. Aku nggak mau kita diusir lagi!”


“Iya, Ibun tahu. Lebih baik Sheva duduk manis di depan nenek. Ajak dia bicara baik-baik dan jangan panggil dia dengan sebutan nenek, bukan nyonya lagi, paham?”

__ADS_1


Sheva masih saja cemberut setelah mendengar ucapan Chika. Tapi dia melangkah mendekati ruang tamu, meninggalkan Chika di lorong penghubung yang ada di depan kamar.


Saat Chika hendak kembali ke dapur, sebuah tarikan tangan menahannya untuk tetap diam. Emil tersenyum cerah lalu, memeluk tubuhnya erat.


“Terima kasih, tidak menyimpan dendam pada mama.” Emil berbisik di samping telinga Chika, lalu meninggalkan kecupan di bibir wanita itu.


“Apaan sih, kak! Udah lepas pelukannya, airnya mendidih, aku mau buat teh untuk ibu.”


“Mama akan tidur di sini, untuk sementara waktu. Aku yang sengaja memintanya datang.”


“Kak!”


“Iya. Aku minta dia datang ke acara kita.”


“Sheva?”


“Pelan-pelan kita kasih tahu dia. Dulu pas lomba olympiade di Jakarta. Diam-diam mama datang menyaksikan keberhasilan Sheva. Dia hanya melihat anak itu dari jauh. Mama udah nggak punya apa-apa dan siapa-siapa. Papa udah meninggal terkena serangan jantung dua tahun yang lalu. Dan aku sengaja tidak memberitahu Sheva. Karena aku pikir pasti anak itu sudah melupakannya. Apa kamu keberatan? Kalau keberatan, tidak apa-apa, aku akan mencari rumah untuk keluarga kita.”


“Ak—aku tidak apa-apa. Tapi Sheva.”


“Kau ibu yang baik untuknya. Dia akan selalu menurut dengan ucapanmu.”


Chika menarik napas dalam-dalam. “Kita enggak mungkin menyerahakannya pada Elin. Aku sudah tidak mengenalnya lagi! dia seperti lupa dengan keluarganya sendiri. Dan cuma aku harapan mama.”


“Kak, aku tidak masalah dengan kehadiran ibu. Tapi, apa dia mau menerima semua masa laluku. Apa dia mau berjanji tidak mengungkitnya lagi. Aku khawatir dengan Sheva ....”


“Kamu jangan mengkhawatirkan itu. Mama yang sekarang udah beda dengan mama yang dulu. kemarin aku menceritakan soal kamu pada Mama. Dia mendukung aku untuk kembali padamu. Karena mama tahu, yang terbaik untuk putranya.”


“Apa kakak yakin?”


“Aku akan berada di garda terdepan, melindungimu, kalau mama berani macam-macam sama kamu.”


“Sekalipun mama melontarkan kalimat fitnah.”


“Apapun itu.” Emil tersenyum cerah. lalu membawa Chika menemui Ibu Ineke.

__ADS_1


 


__ADS_2