Begin Again

Begin Again
Tangisan Sheva


__ADS_3

“Shevaaa!” suara teriakan itu menggema di ruang gelap yang ada di dalam gedung teather. Tidak ada yang bisa melihat dengan jelas rupa pria yang saat ini berteriak. Hanya saja, dari warna suaranya, bisa ditebak jika itu suara Emil.


“Sheva!” teriak pria itu lagi. “Jangan ngerjain Papa, Sheva! Ini enggak lucu, tahu enggak! Papa tinggal di sini, ya! Papa sudah lelah! Ayo pulang, Sheva!”


Dari balik kursi yang saat ini Sheva gunakan untuk bersembunyi. Sheva tengah menyesali suasana yang terjadi, kenapa harus papa Emil dulu yang datang? Kenapa bukan Ibun Chika yang sampai lebih dulu!


Sheva semakin meringkuk saat bayangan seorang pria mulai mendekatinya. Sheva was-was jika sang papa lebih dulu menemukan keberadaanya.


Tak lama kemudian, suara panggilan itu kembali terdengar. Emil berseru memanggil nama Sheva dengan lantang.


‘Ibun cepat datang! Papa keburu membawaku pergi! Jangan sampai papa tahu keberadaanku saat ini, dan menyeretku pulang!’ batin Sheva.


“Shevaaa!” suara itu melemah. Emil memutuskan untuk duduk di salah satu kursi, berhenti sejenak sebelum nanti melanjutkan pencariannya.


Sheva yang ada di balik kursi yang di tempati Emil berusaha menahan napas. Dia semakin meringkuk takut ketahuan. Jangan sampai hal itu terjadi sebelum sang papa bertemu dengan Ibun.


Semuanya terasa tenang, tidak ada pencahayaan apapun di gedung teather itu. Emil masih duduk diam di sana sambil memijit pangkal hidungnya. Dia bingung harus mencari Sheva kemana lagi.


“Sheva!”


Suara seorang wanita yang baru saja masuk membuat Emil mendongak. Dia menatap bayangan hitam yang berusaha mencari keberadaan Sheva.


“Sheva kamu di mana, Sayang …” teriak wanita itu lagi. Semakin sering wanita itu berteriak, semakin membekukan tubuh Emil. Ingin rasanya melompat mendekati bayangan itu. Tapi, dia ragu. Dia khawatir Chika akan langsung berlari saat tahu dirinya hadir di salah satu kursi yang ada di gedung itu.


Sedangkan di balik kursi, Sheva merasa lega saat mendengar suara ibun. Dia bahagia karena sebentar lagi mereka berdua akan bertemu. Berharap sang papa, akan berjalan, dan menghampiri ibun memintanya untuk kembali pulang.

__ADS_1


“Shevaaaa!” teriak wanita itu lagi, suaranya terdengar putus asa. Mungkin dia juga lelah mencari keberadaan Sheva yang tersesat entah di mana.


Emil lekas beranjak dari kursi, melangkah pelan, menuruni undakan tangga. Berusaha tidak menimbulkan suara, hingga menarik perhatian wanita itu.


“Sheva, ini ibun! Kamu di mana, Sayang?!” Isak tangis mulai terdengar lirih, Chika tampak putus asa saat tidak menemukan Sheva.


“Ibun …” gumam Emil saat jarak mereka berdua semakin dekat. “Jadi kamu benar ibun?” tanyanya, berusaha meyakinkan lagi.


Chika memejamkan mata, menyesali keputusannya yang langsung datang ke gedung teather saat mendengar pengumuman.


“Jadi kamu di sini?” Emil bertanya dengan suara lirih, tangannya melingkari perut Chika. Memeluk tubuh wanita itu erat. Hidungnya menghirup aroma Chika yang mungkin tidak seperti dulu lagi. Emil diam merenung, rasany sesak sekali ketika merasakan tubuh Chika jauh lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Dia tidak mengira jika yang saat ini dipeluk adalah raga istrinya.


“Bisa enggak kamu jangan pergi lagi!” tubuh pria itu bergetar hebat saat Chika berusaha melepas pelukannya. Emil menangis sejadi-jadinya. “Jangan pergi!” cegah Emil, menahan tangan Chika yang terus berusaha menjauhkan tangannya.


“Setiap orang berhak menentukan pilihan. Dan aku tidak ingin tinggal denganmu! Apa kamu paham, Kak!” lirih Chika, dengan emosi tertahan.


“Kamu sendiri yang nggak mau! Kamu yang enggak cinta sama aku! kamu yang menganggap aku tak pantas buat kamu! Jadi, tanpa kamu sadari kamu sendiri yang sudah mendorongku untuk pergi!” air mata yang mengalir bukti bagaimana Chika tersiksa saat mengatakan kalimat itu.


Pelukan Emil mengendur, berusaha menarik napas dalam-dalam untuk membebaskan ikatan tak kasat mata di dadanya. Dia merasa bersalah saat teringat ucapan terakhirnya sebelum kejadian kebakaran itu terjadi.


“Maaf, itu karena aku emosi. Aku yang tidak tahu kebenarannya hingga menuduhmu yang tidak-tidak!” ucap Emil, penuh sesal. “Seharusnya aku percaya padamu.”


“Sekarang kamu tahu kalau aku tidak melakukannya?” cecar Chika.


“Ya. Aku tahu. Kamu wanita terbaik yang pernah hadir di hidupku!”

__ADS_1


Chika tersenyum kecil, walau air matanya masih mengalir deras. “Oke. Syukurlah kalau kamu tahu kebenarannya.”


Emil memberanikan memutar tubuh Chika, dia berusaha menatap Chika di tengah gelapnya gedung teather. “Bisa kita kembali seperti dulu! kita mulai dari awal lagi. Kita besarkan Sheva bersama atau kalau perlu, kita tambah lagi adiknya Sheva.” Emil menggenggam tangan Chika sangat erat.


Namun, tak lama kemudian, wanita itu, mengurai genggamanya mengembalikan lagi ke sisi tubuh Emil. “Maaf. Maaf … aku tidak bisa! Maaf kalau aku memilih tetap di sini. Aku cuma mau Kak Emil jaga Sheva. Didik Sheva jadi orang sukses. Aku yakin kalian bisa hebat tanpa aku. Kehadiranku hanya akan jadi beban, untukmu dan Sheva. Maaf ….”


“Chika ….”


Chika menggeleng. “Cukup, Kak! Jangan memaksaku untuk kembali padamu. Aku tidak bisa!”


“Kenapa?”


“Aku tidak bisa. Aku nggak bisa tinggal dengan kalian! Cari lah ibu yang baik buat Sheva, aku tidak akan bisa!”


“Ibun ….” Suara serak itu mendadak muncul di tengah-tengah mereka. “Jangan tinggalkan kami lagi!” Sheva keluar dari tempat persembunyiannya. Seketika, dua orang itu sadar jika apa yang terjadi saat ini adalah rencana Sheva.


“Please … tidak bisakah kita memulai lagi semuanya dari awal?” Bocah itu melangkah mendekati mereka. “Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi berusahalah untuk memperbaiki. Ibun sudah salah meninggalkan Sheva bersama Papa. Papa juga salah karena tidak mencintai Ibun. Tapi itu dulu. Aku tahu, saat ini cuma ibun yang dicintai papa. Kalau Ibun nggak mau kembali lagi, sama papa! biar Sheva saja yang ikut Ibun! Papa jahat! Papa nggak pernah peduli sama Sheva! Dia lebih peduli dengan pekerjaannya.” Air mata Sheva tumpah ruah, walau dia sudah berulangkali menyekanya. Siapapun tidak ingin jadi korban broken home. Dia sedih melihat Ibun dan papanya pisah.


“Aku bingung, Ibun … Kania sudah tidak ada lagi di rumah. Papa sibuk bekerja, dan untuk mencari pengganti ibun, tidak mudah! Please, kalau papa nggak bisa dijadikan alasan ibun kembali ke Solo, ada Sheva. Kalau papa nggak cinta sama Ibun! Ada Sheva jug yang akan selalu mencintai Ibun! Jadi jangan pergi jauh lagi!” bujuk Sheva.


“Sheva … kamu akan bahagia bersama papamu!” Chika memejamkan mata. “Maaf, Sayang ….” Chika berbalik, bersiap untuk keluar dari gedung teather. Dia memilih pergi meninggalkan Emil dan Sheva.


“Kamu bawa Sheva!” teriak Emil, lantang. “Aku sudah lelah mengasuhnya!” tambahnya cepat dan berhasil menghentikan langkah Chika.


“Aku nggak bisa mengasuhnya sendiri. Dia butuh sosok ibu dan ayah untuk tumbuh dengan baik. Sedangkan aku tidak bisa memenuhi apa yang dia inginkan. Jadi, mungkin kamu bisa memberikan keluarga yang sempurna seperti yang dia inginkan. Biarkan dia ikut bersamamu! Aku yakin Sheva akan jadi anak yang baik saat besar nanti.” Emil menarik napas dalam, rasanya sesak sekali harus menyerahkan Sheva pada Chika. “Jangan khawatir, untuk masalah tanggung jawab! Aku akan tetap menafkahi Sheva! Sekalipun kamu mampu memenuhi kebutuhannya.”

__ADS_1


Bukan Chika yang meraung, tapi Sheva. Bocah itu tampak terpukul sekali mendengar ucapan Emil. Semua yang dia bayangkan tidak terjadi, sampai kapanpun papa dan Ibun tidak akan bersatu. Sekalipun mereka saling mencintai.


__ADS_2