Begin Again

Begin Again
Melemah


__ADS_3

Seharian ini, Emil tak beranjak dari rumah. Ibarat kata, kemanapun Chika melangkah dia selalu mengikutinya. Seakan- akan takut Chika akan pergi jauh dari hidupnya.


Canda dan tawa melengkapi suasana di rumah itu seharian ini. Mereka bertiga menghabiskan waktu berada di dalam rumah, menyusun rencana liburan bersama. Seperti tidak kehabisan bahan untuk diperbincangkan. mereka hanya menjeda di kala jam mandi tiba.


Hingga pukul delapan malam, setelah mendapati Sheva tidur di dalam kamarnya. Emil dan Chika masih saja diam di depan layar televisi. Pandangannya memang menatap layar, tapi sejujurnya mereka tidak ada di sana. Gambar yang bergerak itu hanya pengalihan, dari pikiran keduanya yang carut marut.


“Mau aku buatkan kopi, Kak?” tawar Chika, mengusir kecanggungan yang mendadak menyeruak di hati keduanya.


“Nanti aku tidak bisa tidur. Teh saja, deh!”


Chika segera beranjak dari sofa, menuju dapur untuk membuatkan pesanan Emil. Harus memakan waktu yang cukup lama demi menyiapkan secangkir teh untuk suaminya. Karena dia belum begitu paham dengan letak gula dan kopi.


Hari ini Bu Suti pamit tidak masuk kerja, dan Emil memesan makanan via online. Pria itu tidak mengizinkan Chika untuk memasak. Jadi, saat perutnya terasa kosong seperti ini tidak ada makanan untuk mengisi lambungnya.


Di depan layar televisi Emil tengah gelisah, dia bingung hendak bicara apa pada Chika malam ini.


“Terima kasih,” ucap Emil setelah secangkir teh melati tersaji di atas meja.


Chika kemudian meraih remote tv yang ada di atas meja, memilih fokus menonton dari pada bingung hendak ngobrol apa dengan Emil.


“Kamu malam ini mau tidur di mana?” tawar Emil.


“Tidur sama Sheva aja.”


“Nggak mau sama aku?” tanya Emil.


Chika termenung, dia tahu benar jika memutuskan untuk memasuki kamar Emil, kondisi tubuhnya setelah keluar dari kamar itu tidak akan baik-baik saja. Tapi, bagaimana pun suaminya sudah lama—meski tidak tahu juga jika Emil rela membayar wanita demi menyalurkan has-ratnya.


“Apa kita akan melakukannya malam ini?” Chika balik bertanya. Sedangkan Emil justru membisu, dia menatap lurus ke layar kaca. Sedangkan tangan kirinya merambat meraih tangan Chika.

__ADS_1


“Sepertinya, belum.”


“Kok sepertinya?! Ada masalah?” selidik Chika, menoleh ke arah Emil.


Pria itu tampak stress saat ini, seolah sedang memikul beban berat. Sejak lima tahun yang entah kenapa miliknya tidak bisa bereaksi dengan sempurna. Bahkan, di saat melihat gambar wanita yang tidak menggunakan apapun, miliknya tidak akan bereaksi penuh.


Dia sedikit khawatir, Chika tidak mampu menerima kekurangannya. ‘Lebih baik aku konsultasi dulu ke dokter.’ pikir Emil. Dia meraih teh buatan Chika yang sudah berubah hangat, lalu menyeruputnya pelan-pelan, sebelum menjelaskan semuanya kepada Chika.


“Tidak ada. Aku tidak memiliki masalah apapun. Kita bisa mencobanya lain kali. Aku tahu kamu pasti lelah, kan? Kita bisa tidur di atas ranjang, berada di satu selimut yang sama, berpelukan sambil menunggu pergantian hari, itu terdengar menyenangkan, bukan?” Emil menjelaskan. Mungkin itu lebih dari cukup untuk menutupi apa yang saat ini mengganggu pikirannya.


“Okay.” Chika menyetujui.


“Mau tehnya?” tawar Emil, menyodorkan secangkir minuman buatan Chika ke arah bibir wanita itu.


Chika tersenyum, lalu mengangguk pelan. Dia pelan-pelan meminum teh buatan tangannya sendiri. Dan detik berikutnya ia menyembur minuman yang baru saja masuk ke mulutnya. Rupanya dia salah memasukan gula. Rasanya aneh ini bukan teh manis melainkan teh asin.


“Tidak perlu, ini sudah malam. Aku tidak butuh teh manis lagi.” Emil menyisipkan jari-jarinya di telapak tangan Chika, memeluk tubuh wanita itu. “Kita tidur saja!” bisiknya, menawari. Tidak peduli jika ini belum ada jam 9 malam. Yang penting mereka masuk kamar dulu. perkara tidur atau beraktivitas lain dia akan memikirkan nanti.


Emil beranjak dari kursi, awalnya ingin menggendong tubuh Chika dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sayangnya wanita itu menghindar, beranjak dari pangkuannya terlebih dahulu.


“Nanti dilihat Sheva lagi! ingat anak kita udah beranjak remaja. Jaga baik-baik saat hendak melakukan apapun denganku!” Chika berusaha mengingatkan.


Emil terkekeh saat teringat kejadian tadi pagi. "Iya, maafkan aku!" kemudian menuntun Chika masuk ke kamarnya.


Baru kali ini Chika memasuki kamar Emil, dia diam sejenak dibalik daun pintu. Menilai setiap sudut ruangan yang tercipta di sana. cahaya keemasan dari dua lampu yang berpijar di tepi ranjang, membuat suasana ruangan itu terlihat manis. Seprei warna putih yang terpasang, Chika bisa menduga kalau hingga detik ini Emil masih begitu ketat menjaga kebersihannya.


Setelah keduanya mencuci kaki dan menggosok gigi. Emil mulai naik ke atas ranjang, di susul Chika yang beranjak dari sisi kiri. Mereka tidur bersisian, awalnya Emil hanya menyelipkan jarinya di telapak tangan Chika. Namun, Chika justru tidak bisa terlelap, terganggu oleh gerakan jari jempol Emil yang terus mengusap punggung tangannya.


Irama jantungnya bergerak tak normal, telapak tangannya mulai mengeluarkan titik keringat, Emil pasti sudah gila karena menggodanya dengan memberikan sentuhan ringan.

__ADS_1


“Mau peluk saja?” tawar Emil. Tanpa pikir panjang Chika langsung menganggukan kepala. Mungkin hal itu lebih bisa mengendalikan gairahnya, dari pada tidur terlentang dan memamerkan dadanya yang membusung.


Kini dia diam dalam pelukan Emil. Di posisinya saat ini, setiap apapun yang dilakukan Emil dia bisa mendengar dengan jelas, irama jantungnya tak beda jauh dengan dirinya. Dia tahu pria itu menginginkannya, tapi kenapa tidak berkata jujur.


“Bukankah, kita pasangan yang sah? Kita enggak zina, kan jika melakukannya malam ini?” Chika menatap Emil curiga. Dia hanya ingin tahu beban apa yang menimpa pria itu.


Emil yang dilanda stress berat, tiba-tiba saja mendudukan tubuhnya. Dia bersandar di papan kepala ranjang. Lalu menghembuskan napas kasar berulangkali. “Aku Cuma khawatir kamu kecewa.” Ya, sebaiknya dia jujur dengan masalah yang dihadapinya saat ini.


“Ada apa, kok ngomongnya gitu?”


“Chika … aku nggak tahu dimulainya sejak kapan." suara Emil terdengar berat. Membuat Chika semakin dilanda penasaran.


"Tapi—aku ….” Emil beranjak dari tepi ranjang. “Aku akan ke dokter dulu!” menghadap kaca yang menempel di lemari pakaiannya. "Ya, aku akan datang ke dokter untuk konsultasi."


“Kak, ada apa? Apa masalahmu?”


“Chika, kamu akan kecewa!”


“Alasannya?” Chika sudah mengekori Emil. Dia butuh penjelasan yang bisa memuaskan hatinya. “Kenapa, Kak?” desak Chika saat Emil hanya mematung.


“Milikku mungkin akan sulit untuk memuaskanmu. Ak—aku sudah lama tidak melakukannya, dan ... yah milikku tidak bisa berdiri sempurna. BISA! TAPI LEMAH.” Suara Emil terbata, mungkin merasa geram dengan dirinya sendiri, sampai-sampai dia berteriak di ujung kalimat penjelasannya.


Chika ingin sekali tertawa, tapi rasanya itu akan menyakiti perasaan Emil. Tangannya kini memeluk tubuh Emil dengan erat. “Tidak akan jadi masalah besar, Kak. Tenang saja!” Dia menuntun Emil kembali ke ranjang.


Ini sudah malam untuk memulai pertempuran panas itu, tapi jika Chika sudah berniat untuk mengobati suaminya, apapun bisa terjadi di dalam kamar itu.


Jiwa liar Chika kembali muncul. Tidak terlalu sulit untuk membangunkan milik Emil yang sudah begitu lama terlelap. Namun, di saat dirinya membantu milik Emil masuk ke dalam miliknya, mendadak benda keras dan panjang itu melemah, dan Emil mulai kehilangan rasa percaya dirinya saat Chika menampilkan wajah kecewa.


"Mau aku pancing lagi, mungkin dengan cara ini akan berhasil!"

__ADS_1


__ADS_2