Begin Again

Begin Again
Kotak Peninggalan


__ADS_3

Emil masih membeku ditempatnya. Kalimat yang bermakna pesan untuk Sheva itu sampai jelas ke telinganya. Membuatnya semakin sulit untuk mengartikan ini fakta atau hanya kabar burung. Dalam hatinya masih berharap ini hanyalah tipuan Gangga. Tapi, melihat bagaimana dia menjelaskan kepada Sheva, rasa-rasa itu benar terjadi.


Emil menoleh ke dalam rumah, lampu-lampu belum dinyalakan, tampak mencekam karena kegelapan sudah menelan sinar di area ruangan itu. Melihat bayangan Kania berjalan ke arah kamar Sheva, ia pun beranjak dari posisinya.


“Enggak bisa seperti ini! Aku harus memastikan kebenaran itu,” ucapnya sembari berjalan ke arah mobil.


Jarak rumahnya dengan rumah Chika tidak begitu jauh. Dia akan mendatangi rumah itu, atau mungkin bertanya pada seluruh warga yang menyaksikan kebakaran, supaya bisa menjelaskan fakta yang terjadi.


Lima menit mengemudi Emil sudah tiba di depan rumah Chika. Dan ternyata, apa yang saat ini disaksikan sama dengan apa yang diceritakan Gangga. Rumah itu sudah runtuh, menyisakan puing-puingnya saja.


Emil berusaha melegakan rasa sesak di dada. Suara gemuruhnya tidak hilang dalam sekejap, dia justru tergugu ketika teringat beberapa hari yang lalu memasuki rumah itu bersama Chika. Mereka masih bisa berbincang, bahkan Emil masih bisa mendengar suara tawanya.


Dengung suara sirine yang bersahut-sahutan begitu berisik menganggu pikiran Emil saat ini. Semua semakin jelas, seseorang seakan kembali menyadarkannya, mengatakan kalimat andai-andai dan andai dia tidak melakukan itu, pasti Chika masih bersamanya! Andai dia mau bersabar mendengar penjelasan Chika, mungkin jalan ceritanya tidak akan separah ini. Emil benci dirinya yang gegabah, dia benci dirinya yang egois dan tidak sabaran.


Merasa sudah cukup lama dia berdiri di posisinya,


Emil segera melompat melewati pagar pendek rumah Chika. Dia tidak peduli dengan police line yang sudah dipasang mengelilingi bangunan itu. Yang dia perlukan hanyalah mencari apapun yang tersisa.


“Pak! Anda tidak melihat kalau sudah dipasang garis polisi!” seseorang berseru padanya. Seorang pria tua yang menggunakan sarung. Mungkin pria itu baru pulang dari masjid.


“Bapak ngapain di sini?” Pria itu menatap Emil curiga. Dia masih terasa asing dengan wajah Emil.


Merasa tidak mendapat jawaban, pria itu ikut melompat melewati pagar, dia menepuk keras pundak Emil, seolah sedang menarik kesadaran pria itu. “Bapak kenal Mbak Chika? kenapa di sini?!” tanyanya dengan nada kasar. Kesal karena Emil mengabaikannya.

__ADS_1


“Saya suaminya.”


Pria itu tampak terkejut.


“Suami?”


“Iya. Saya suaminya.” Emil mengulangi jawabannya.


Pria itu tersenyum simpul, sembari menganggukan kepala, seakan menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini bersarang di benaknya. “Ternyata mbak Chika nggak bohong!”


“Maksud Bapak?!”


“Saya pak Temu. Kebetulan saya ketua RT di sini,” aku pria itu. “Saya menyayangkan karena kami tidak bisa menolong mbak Chika makan itu. Mbak Chika orang baik, jadi Allah lebih menyayanginya." pria itu terlihat menarik napas dalam. "Sebenarnya, sudah berulangkali saya mendatangi mbak Chika, bilang padanya kalau ada pria yang berniat meminangnya, karena setahu saya Mbak Chika ini janda. Sayangnya, dia selalu menolak! Setelah saya melihat Anda, saya baru menyadari kalau dia memilih alasan yang tepat. Dia selalu bilang begini sama saya, ‘Pak, saya punya suami. Bagaimana bisa orang yang memiliki suami menikah dengan orang lain?’” Pak Temu tertawa sumbang, setetes air matanya turun, iba dengan nasib Chika. “Saya pikir itu hanya alasan supaya saya tidak lagi mengenalkannya pada pria lain. Saya baru percaya setelah melihat Anda berdiri di sini.”


“Ternyata baru hari ini Anda datang.”


pria itu menatap Emil lekat. “Mampirlah ke rumah saya, Pak! Tadi pagi saya menemukan kotak besi di rumah. Satu-satunya barang yang tidak dimakan si jago merah.”


Emil menoleh ke arah pak Temu yang sudah hampir melompati pagar.


“Rumah saya dua rumah sebelah kirinya rumah mbak Chika. Saya tunggu ya, Pak!” Pak Temu menunjuk ke arah rumahnya yang ada di sebelah kiri rumah Chika.


Sedangkan Emil memilih menikmati kesunyian dalam pikirannya. Ia melangkah lebih dalam, seolah mencari jejak kaki yang pernah mereka lewati berdua. Ruang terakhir depan toilet, yang seharusnya ada kursi kayu, tapi sekarang sudah hancur lebur.

__ADS_1


“Kamu pergi lagi? Apa ini benar-benar untuk selamanya! Kau tidak merasa kasihan dengan Sheva? Chika … Ibun ....” Emil berbicara dengan suara pelan disusul isak lirih yang keluar dari bibirnya. “Kamu … kamu wanita terhebat dalam hidupku. Maaf ... aku yang salah sudah menyakiti perasaanmu. Cemburu sudah menutupi kenyataan itu.” Emil terus merancau, berulangkali menyebut nama Chika di tengah isakannya. Dia masih berusaha menerima kenyataan kalau wanita itu memang sudah pergi darinya.


Kepala Emil menengadah, menatap ke arah hitamnya langit malam, di atas sana bintang bertabur begitu banyak. Hujan tak lagi datang malam ini. Cukup lama Emil berada di posisi itu seakan menunggu Chika tiba-tiba muncul di depan wajahnya. “Kalau kamu benar pergi untuk selamanya ... Tenanglah di sana, aku akan terus berdoa supaya kita bisa dipertemukan kembali,” ucapnya terdengar parau. Ia langsung menunduk setelah mengucapkan kalimat itu. Emjl benar-benar kehilangan sosok Chika yang menjadi harapannya dan Sheva.


Cukup lama Emil berada di tengah puing-puing bangunan itu. Hingga pak Temu yang baru kembali dari sholat Isya kembali berseru kepadanya. “Ayo, Pak! Ke rumah … bapak bisa minum secangkir teh untuk menenangkan diri!” tuturnya mengangkat tubuh Emil yang tampak lemah. "Enggak baik meratapi kepergian orang yang sudah meninggal."


“Apa lagi yang dia ceritakan sama Bapak?” tanya Emil, mengikuti langkah pak Temu, yang sedikit menyeret tubuhnya.


“Dia tidak banyak cerita ke saya. Lebih sering bercerita ke istri saya. Eh, nggak sering juga. Mbak Chika itu pendiam, keluar kalau ada yang memanggil. Dia suka sekali kalau cucu saya datang. Padahal sudah 6 tahun, tapi masih sering digendong-gendong sama dia.” Pak Temu bercerita singkat, untuk mengisi kekosongan waktu. Hingga mereka tiba di rumah pria itu baru mengakhiri ceritanya. “Mau makan dulu, Pak?”


“Tidak, aku tidak lapar! Aku ingin mendengar cerita tentang istriku.”


Pria itu tersenyum simpul, “Insya Allah mbak Chika orang baik. Selama ini memang yang paling dekat adalah mas Gangga. Dia juga sering datang, tapi langsung pulang. Tidak dengan malam itu. Mas Gangga menjelaskan pada saya kalau malam itu dia tidak enak badan karena habis kehujanan, jadi dia terpaksa tidur di rumah Chika. Mungkin khawatir dituduh yang tidak-tidak,” jelas pak Temu.


“Bu! tolong bawakan kotak yang tadi aku ambil!” perintah pria itu saat melihat istrinya menyajikan dua cangkir teh ke atas meja.


Wanita seumuran ibu Inneke itu menurut, dia kembali masuk rumah dan


tak lama kemudian wanita itu meletakan sebuah kotak persegi, berbahan besi di atas meja.


Emil hanya menatap sendu kotak itu, berharap kotak itu ditujukan untuknya, menghiburnya di saat dia merasa kehilangan Chika.


“Silakan bawa kotak ini! mungkin bisa Anda berikan pada putra Bapak sebagai tanda kasih, sekaligus memberitahunya. Kalau anak itu memiliki ibu yang sangat mencintainya.”

__ADS_1


Emil tak paham untuk menerima apa yang baru saja didengar. Otaknya terlalu lelah untuk sekedar memikirkan maksud ucapan pria itu. Mungkin, pria itu sudah mengetahui apa isi kotak itu.


__ADS_2