Begin Again

Begin Again
Perawan Tua


__ADS_3

“Loh, kok berhenti di sini, Pak Emil?” protes Kania saat Emil menghentikan motornya di depan gerbang SMP N 1 Surakarta. Tepatnya di samping penjual gerobak dorong orang berjualan es.


“Panas banget. Kita ngadem dulu, ya!” tawar Emil. Lalu mematikan mesin motornya. Dengan gerakan cepat tangannya menurunkan Sheva dan mendudukkan putranya di kursi plastik yang disediakan penjual es.


“Sheva mau es?” tawar Emil saat melihat putranya sudah kembali berdiri, penasaran dengan gerabah-gerabah yang ada di gerobak, rautnya menunjukan jika dia ingin mengetahui apa yang ada di jual wanita paruh baya itu.


Pandangan Sheva beralih ke spanduk, membaca tanpa suara tulisan, ‘Es Gempol Pleret’ dia berpikir cukup lama sampai akhirnya menganggukan kepala.


Tingkah Sheva yang seperti itu tak luput dari perhatian Emil. Sikapnya persis seperti namanya, saat berkunjung pertama kali ke Solo. Tentu saja dia belum melupakannya, kalau pernah membawa Chika ke tempat ini.


Pacaran sembunyi-sembunyi dengan Chika, membuat Emil hanya mampu menikmati waktunya saat pergi ke luar kota saja. Dulu terasa bahagia meski mereka harus melakukan itu. Sayangnya, kini menyisakan rasa bersalah, dan luka yang begitu sulit untuk disembuhkan. Atau mungkin ini adalah hukuman supaya dia jera, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari.


Dari satu kesalahan ke kesalahan yang lain, Emil bisa menemukan kebenaran atas apa yang sudah diperbuat, dan sekarang di saat dia ingin memperbaiki semuanya, Chika tak lagi dengannya. Emil tersenyum tipis, sembari menggeleng kepala, berusaha mengusir setiap pikiran yang mendadak terus teringat akan Chika.


“Bu, pesan es-nya tiga ya!” minta Emil yang langsung diangguki kepala oleh pedagang kaki lima tersebut. "O, yang satu gulanya sedikit saja ya, Bu!"


Emil kemudian memandangi Sheva yang tengah mengamati patung kuda. Wajah putranya itu seperti kebingungan, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Sheva saat ini.


“Gimana tadi di sekolah?” tanya Emil, memandangi Kania yang sibuk memerhatikan pedagang kaki lima di depannya.


“Sheva besok mulai sekolah, Pak.” Kania sudah duduk di samping Emil, menggunakan kursi plastik yang disediakan.


“Mereka tidak bilang aneh-aneh, kan?” selidik Emil.

__ADS_1


“Enggak kok, Pak! Mereka semua baik. Tapi, di Surya Mentari tidak boleh ditungguin. Wajib ditinggal. Jadi, kita hanya diperbolehkan antar dan jemput saja.”


“Apa mereka bisa dipercaya? Mereka bisa menjamin keselamatan Sheva tidak?” tanya Emil lagi, yang begitu mengkhawatirkan Sheva.


“Saya sempat melihat situasi di sekolah, cukup kondusif. Guru-gurunya juga baik, tadi Sheva juga sudah bertemu sama wali kelasnya,” jelas Kania, dengan tenang. Ia khawatir Emil akan mencabut izin Sheva yang bersekolah di Yayasan Pendidikan Anak Cacat.


“Apa tanggapannya?”


“Biasa saja sih, Pak. Tapi tidak ada raut kesal kok, sepertinya sabar juga. Dia terus mengamati tingkah Sheva, tapi sama sekali tidak ada dendam. Malah aku melihatnya seperti rindu ke iba.”


Emil menoleh ke arah Sheva yang kini duduk di sampingnya. Melihat kedua tangan putranya terkepal Emil lekas menunjuk kepalan Sheva sebelah kanan. Ia cukup paham dengan bahasa isyarat yang ditunjukan Sheva.


Sudut bibir Sheva melebar, lalu membuka kepalan sebelah kanan. Sebuah permen bungkus warna biru ada di sana. Sheva pun meminta Emil untuk mengambil permen itu.


“Oh, itu … permen dari Airin, putrinya wali kelas Sheva.”


Sheva mengangguk, tanda membenarkan ucapan Kania.


“Jadi, Sheva udah punya teman di sana? seru dong! Kapan-kapan, papa boleh dong kenalan sama Airin. Pasti orangnya baik, buktinya mau ngasih permen ke Sheva,” goda Emil. “Nia, tapi dia tidak membully Sheva, kan? Aku khawatir dia memberi permen itu karena ada kesalahan yang gadis itu perbuat."


“Enggak, Pak. Saya lihat sendiri gadis itu meminta permen pada Mamanya.”


Obrolan mereka terputus saat wanita penjual es menyerahkan tiga mangkok es gempol pleret.

__ADS_1


“Yang nggak manis mana, Bu?” tanya Emil.


“Ini, Pak!” Emil pun menyerahkan mangkok kecil itu pada Sheva.


Sejenak hanya terdengar suara kendaraan bermesin yang berlalu lalang. Mereka bertiga sedang menikmati minuman khas Jawa tengah yang semakin lama semakin jarang ditemui.


“Pak Emil, sering datang ke sini?” tanya Kania, membuat Emil menghentikan kunyahannya.


Dia tertawa hambar, sembari menatap lekat ke arah Kania. “Dulu … dulu banget pernah. Beberapa kali sama mamanya Sheva.”


“Oh, jadi ceritanya pak Emil sedang ber-nostalgia dengan kenangan. Sayangnya, bukan sama mamanya Sheva.” Kania terkekeh.


Emil hanya diam saat mendengar ucapan Kania. Dia tidak menyangkal akan tuduhan Kania, karena dia memang sedang berada di fase itu. Mengunyah sambil membayangkan Chika berada di sampingnya.


Beruntung si penjual es masih ada, jadi dia bisa mengenang sosok Chika yang sudah pergi meninggalkannya.


“Usiamu berapa sih, Nia?” tanya Emil, berusaha mengalihkan topik.


“Kenapa Bapak tanya-tanya umur saya?” selidik Kania.


“Enggak papa. Cuma pengen tahu saja. Waktu mudamu habis untuk menjaga Sheva. Aku sendiri tidak tahu, apa yang sepadan untuk membalas kebaikanmu. Sejauh kamu bekerja denganku, kamu juga tidak pernah menunjukan kekasihmu. Kalau kamu kerja begini terus, aku khawatir kamu akan jadi perawan tua.” Baru kali ini Emil berbicara panjang lebar dengan Kania.


“Kalau Bapak, nggak mau saya jadi perawan tua, nikahin saya, dong!”

__ADS_1


Emil tersedak minuman yang baru saja masuk ke mulutnya, hidungnya sampai perih saat mendengar ucapan Kania.


__ADS_2