
Nomor baru yang masuk ke nomor Emil, menghantarkan pria itu ke salah satu kafe yang ada di sekitar Mangkunegaran. Ia tidak tahu siapa pengirim pesan singkat tersebut. Karena isinya pun tanpa meninggalkan sebuah nama.
'Besok bisa bertemu di kafe Mangkunegaran?'
Begitulah, pesan yang nomor asing itu kirimkan padanya. Nomor yang ia pikir adalah nomor relasi yang ingin bekerja sama dengan tokonya ternyata bukan.
Emil begitu terkejut, saat menelpon nomor baru itu. Seorang wanita yang duduk manis justru menerima panggilan darinya. Wanita itu adalah Chika.
Meski hatinya begitu bahagia, tidak dengan raut wajah Emil saat ini. Ia menampilkan wajah datar, dan hanya dia yang paham alasan melakukan itu. Usai mendaratkan bokongnya, ia mulai membuka suara, bertanya niat Chika mengajaknya ketemuan. "Kenapa, apa ada masalah?"
Chika mendongak mempertemukan matanya dengan netra Emil. "Apa aku boleh minta tolong?"
Emil membalas dengan tatapan acuh. "Apa masalahmu?"
"Apa aku boleh minta kamu ngenalin aku sama Sheva? Aku minta tolong sama kamu, katakan padanya kalau aku adalah mama-nya. Aku tahu—
__ADS_1
"Kamu mau kenalan sama dia sebagai wanita yang sudah melahirkannya?" potong Emil.
Chika mengangguk pelan, "itupun kalau kamu tidak keberatan? aku memang bukan ibu yang baik untuk Sheva. Tapi kamu juga jangan lupa kalau aku yang berjuang melahirkannya, sendiri, tanpa kamu di ruang menakutkan itu!" Chika berusaha mengingatkan keburukan Emil di masa lalu.
"Silakan saja! Apa selama ini aku terlihat membatasi hubunganmu dengan Sheva?! kalau aku melakukan itu akan memindahkan Sheva ke sekolah lain setelah aku tahu kamulah wali kelasnya." Emil meminum teh lemon yang baru saja dihantarkan pelayan. Dia cukup tahu, siapa yang sudah memesan ini semua. "Kapan kamu punya waktu? Kita berdua bisa mengatakan ini pada Sheva," sambungnya, membuat Chika tersenyum lebar.
"Nanti malam. Apa kita bisa bertemu bertiga?"
Entah apa yang ada di pikiran Chika saat ini. Emil merasa keinginan wanita itu terlalu terburu-buru. Jadi, membuatnya curiga dan ingin sedikit mempersulit. "Bagaimana kalau hari Minggu kita bawa dia jalan-jalan. Pelan-pelan kamu bisa mengatakan pada Sheva, kebenaran yang selama ini kamu sembunyikan?" tawar Emil. "Nanti malam aku ada pertemuan dengan relasiku." Emil menjelaskan alasan kenapa dia enggan untuk pergi nanti malam, ia cukup paham dengan raut kecewa yang ditampilkan Chika saat ini. Rupanya wanita itu masih saja sama, harus dituruti kemanapun ia inginkan.
"Biar aku yang menjemputmu," ucap Emil, cepat.
Entah ini jalan terang untuk hubungan Emil dan Chika atau apa, yang penting sebelum akad nikah terucap, Chika masih free, dan Emil rasa ... ia masih memiliki kesempatan untuk kembali menjalin hubungan dengan wanita masa lalunya.
Di sisa waktu yang tersisa, mereka gunakan untuk makan cemilan sembari meminum teh. Chika tersenyum tipis, saat pesanan risol isi rebung yang sengaja dipesan untuk Emil, tandas tak tersisa.
__ADS_1
Setelah memastikan jam mereka akan pergi. Chika pun pamit undur diri. Dia tidak mau kehadirannya di sini diketahui oleh istri Emil.
"Aku pamit dulu, sampai ketemu lusa!" Ucapnya sebelum meninggalkan kafe.
"Ya, kamu hati-hati," balas Emil, netranya terus fokus ke arah punggung Chika yang berjalan semakin jauh darinya. "Sheva berhak tahu kalau kamu ibunya. Selama ini, aku tahu kalau dia juga sudah lelah menantimu. Pasti Sheva akan sangat bahagia kalau tahu kamu itu mamanya." Tidak ada kebencian sedikitpun dalam diri Emil terhadap Chika. Dia merasa dirinya di masa lalu cukup buruk, pantas kalau Chika pergi meninggalkannya.
"Mas! Ambil bill nya dong!" Minta Emil.
"Sudah dibayar sama mbak nya tadi, Pak!" Pelayan itu berkata dengan sopan. Emil pun hanya merespon dengan anggukan kepala kemudian keluar dari kafe.
Di tengah Emil melangkah menuju area parkir mobil. Ia melihat Chika tengah berdiri di halte bus, tangan kirinya tampak menyeka air mata, sedangkan tangan kanan berusaha menahan ponsel supaya tetap berada di samping telinga.
"Apa yang sebenarnya dia tangisi?!" Gumam Emil sembari masuk ke mobil. Dia akan mengambil kesempatan ini untuk menghantarkan Chika pulang ke rumah.
Sayangnya, belum juga mobil yang ia kemudikan tiba. Sebuah mobil warna hitam lebih dulu berhenti di depan Chika. Emil tentu saja kecewa berat karena harus menerima kekalahan ini. Tapi, ia tidak akan menyerah, dia harus membawa Chika pulang demi Sheva dan tentu ... Untuk dirinya sendiri.
__ADS_1