Begin Again

Begin Again
Kerjasama


__ADS_3

Wangi dari teh melati yang baru saja diseduh oleh Chika membuat Gangga tersenyum simpul. Tangan pria itu menerima secangkir teh yang disodorkan Chika, sedangkan bibirnya mengucapkan dua kata terima kasih yang terdengar begitu tulus.


“Jadi, kenapa Mas Gangga bisa basah kuyup seperti ini? bukankah seharusnya Mas itu di rumah bersama Airin?” Chika penasaran, tapi juga berdebar-debar khawatir ada warga yang akan mendobrak pintu rumahnya.


Gangga tampak menyeruput teh buatan Chika, meletakan kembali ke atas meja, setelahnya. "terlalu manis," lirihnya.


Di luar sana, hujan masih turun cukup deras. Sebenarnya Chika khawatir pria itu akan masuk angin, tapi ia tidak memiliki baju lagi untuk dipinjamkan pada Gangga.


“Mas Gangga!” panggil Chika berusaha menarik Gangga dari lamunannya. “Ada masalah?” tanya Chika.


Sepasang mata Gangga memandangi wajah Chika lekat, seakan sedang memastikan kalau wanita itu siap menerima apa yang akan diputuskan.


“Aku ingin membatalkan acara pernikahan kita.” Gangga menyandarkan punggungnya di kursi, berusaha menanamkan mata. Takut, kalau-kalau Chika akan menampilkan wajah kecewa.


Namun, berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan Gangga. Chika yang awalnya mengantuk, matanya justru kembali menyala saat mendengar pernyataan Gangga. Itu angin segar baginya. Itu adalah jalan terang untuk dia bisa berkumpul dengan Emil dan Sheva. Tapi? Tapi, alasan apa yang membuat Gangga membuat keputusan ini? Padahal, tadi pagi dia menolak permintaannya. Bahkan, memintanya untuk segera memilih cincin pernikahan.


“Aku bukan pria baik-baik, Chika!” seolah paham arti tatapan Chika yang ditujukan padanya.


Chika masih setia bungkam berusaha menjadi pendengar yang baik buat Gangga.


“Ya, aku bukan pria baik-baik. Bahkan aku sama saja seperti mantan suamimu!”


“Mas?”


“Iya. Itulah aku!”


Chika menggeleng berulangkali. “Mas, pria bertanggungjawab. Mas Gangga juga papa yang baik untuk Airin. Jangan berkata seperti itu Mbak Aira akan sedih kalau melihat Mas kembali menyalahkan diri sendiri seperti ini. Apa yang membuat Mas membatalkan pernikahan ini? Meski aku sangat menginginkan ini terjadi, tapi aku juga perlu mendengar alasanmu, Mas!”

__ADS_1


Pria itu justru menunduk dalam, dia menangis di depan Chika. Jujur, meski sudah hampir 6 tahun mengenal pria itu. Baru kali ini dia melihat Gangga tampak begitu menyedihkan. Bahkan saat ditinggal mbak Aira pria itu tidak sekacau malam ini.


Chika yang awalnya duduk di depan Gangga, kini memutuskan untuk berpindah di samping pria itu. Dia meminjamkan pundaknya untuk dijadikan sandaran oleh Gangga.


“Aku nggak tahu apa yang Mas Gangga alami saat ini. Mas boleh cerita sama aku. Siapa tahu, aku bisa memberi solusi terbaik dari masalah yang Mas Gangga alami.” Chika berusaha menenangkan pria itu, meletakan kepala Gangga di pundaknya.


Lima menit berlalu ke duanya hanya menikmati suara hujan yang semakin lama semakin lemah. Chika semakin mengkhawatirkan kondisi Gangga, khawatir pria itu akan masuk angin. “Apa di mobil ... Mas masih menyimpan ganti? Aku bisa mengambilkan untukmu, Mas!”


“Tidak ada.” Setelah tangis pria itu reda, dia menjauhkan kepalanya dari pundak Chika, beralih menatap wanita itu semakin dalam.


Dari tatapan Gangga Chika tahu kalau pria itu ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya.


“Aku bodoh! Bahkan, aku tidak pernah tahu kalau Fani sudah memiliki seorang anak! Fani ... Fani adalah wanita masa laluku, Chika ... maaf!”


Itu bukan alasan Mas membatalkan pernikahan kita, kan? tanya Chika, dalam hati.


Chika menarik napas dalam-dalam dia mulai paham ke mana alur cerita yang akan diucapkan Gangga. Dia tidak mengira jika pria pendiam itu dulunya mantan pria nakal.


“Besok aku akan mengunjungi sekolah bocah itu. Aku harus melakukan tes DNA. Aku yakin kalau bocah itu anakku.”


“Tunggu, Mas pernah bertemu dengan bocah itu? Dimana?”


Gangga mengangguk. “Iya. Tadi waktu jemput Airin les ballet. Tak sengaja aku bertemu Fani dia bersama anak laki-laki seumuran Sheva. Saat aku nekad melihat bocah itu. Fani ..., dia tampak ketakutan, bahkan menyembunyikan bocah itu di balik tubuhnya.”


Chika mendorong tubuh Gangga cukup kasar. Hingga pria itu nyaris terjatuh. “Ternyata pria yang selama ini aku anggap polos dan baik, aslinya sangat brengsek!” ucapnya kesal. Dia kecewa dengan sisi gelap Gangga di masa lalunya.


“Aku nggak perlu minta maaf sama kamu! karena yang aku jahati itu Fani bukan kamu!” Gangga tersenyum miring, air matanya mulai mengering. Pria itu menceritakan kisah cinta masa lalunya pada Chika. Dari awal ia bersama Fani hingga keduanya terpaksa berpisah, karena tidak mampu melawan restu kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Lalu? apa yang akan Mas lakukan saat ini? Ibu Aini tidak akan setuju kalau mas Gangga menikahi mbak Fani. Tapi ... Aku bisa membantu Mas Gangga kalau Mas memang menginginkan mereka kembali.”


Gangga tampak berpikir, melemaskan punggungnya yang terasa kaku. Lalu tersenyum tipis ke arah Chika, setelah sekilas ide muncul di benaknya. “Mendekatlah!” titah pria itu. Chika lantas menurut, dia mendekatkan telinganya di samping telinga Gangga. Berusaha mendengarkan apa yang akan pria itu katakan.


Hampir tiga puluh detik Gangga membisikan rencananya di samping telinga Chika. Lalu bertanya tentang pendapat Chika. "Gimana?"


“Kalau gagal?” tanya Chika.


“Kalau gagal mungkin aku akan berpura-pura mencintaimu. Sama seperti mamanya Airin waktu itu.”


“Gila, kamu, Mas!”


“Cobalah! Kalau kamu melakukan tugasmu dengan baik aku jamin rencana ini tidak akan gagal.” Gangga berusaha membujuk Chika supaya mau membantu melancarkan rencananya.


Setelah berpikir panjang, akhirnya Chika menyetujui permintaan Gangga. Dia berjanji akan membantu melancarkan rencana pria itu. Toh, ini demi dia bisa berkumpul dengan Sheva dan Emil.


“Udah, sekarang Mas pulang! Lihat ini udah jam 1 pagi. Kamu tahu nanti kalau pak RT datang, kita bisa dinikahkan paksa!”


“Izinkan malam ini aku tidur di sini. Aku sudah lelah dan mengantuk!” bujuk Gangga. Dia justru merebahkan tubuhnya di kursi kayu setelah Chika beranjak dari bangku yang dia tempati.


“Badan Mas akan sakit semua kalau Mas memaksakan diri tidur di sana” Chika berusaha mengingatkan, di menoleh ke arah Gangga sudah siap tidur.


“Mata aku sudah nggak kuat! lebih baik aku tidur di sini saja!” pria itu memejamkan mata dalam kondisi baju yang masih terasa lembab. Chika yang merasa iba lekas kembali ke dalam kamar, untuk mengambil selimut dan bantal untuk pria itu.


Dengan gerakan pelan, tangan Chika membantu melepas pakaian atas Gangga. Membuat Gangga bertelanjang dada. Chika lekas menutupi tubuh Gangga dengan selimut tebal yang tadi diambil. Begitu, menurutnya lebih baik dari pada Gangga harus menggunakan pakaian yang sudah basah.


Setelah kegiatan itu selesai, Chika memilih kembali ke kamar. Tubuhnya sudah lelah, dia ingin beristirahat supaya besok ia bisa kembali bertemu dengan Sheva.

__ADS_1


Dia akan menyampaikan berita bahagia ini kepada Emil. Pasti pria itu akan bahagia mendengar apa yang sudah ia rencanakan bersama Gangga. Sedikit lagi, Sheva … sebentar lagi kita akan kembali berkumpul. Gumamnya sebelum menutup mata.


__ADS_2