Begin Again

Begin Again
Panggilan Pertama


__ADS_3

“Bapak sudah makan? Apa mau saya rebuskan air untuk mandi? ini sudah malam lebih baik Bapak tidak mandi saja. Takutnya nanti masuk angin!”


Emil abai dengan suara-suara sumbang yang menyapa pendengarannya saat ini. Kania tengah mencercanya dengan banyak pertanyaan, sesaat setelah kakinya berhasil menapaki lantai ubin rumahnya.


Sedangkan wanita itu hanya mendesah kecewa saat tidak mendapat jawaban apapun dari majikannya. Hingga Emil tiba di depan layar tv, ia menghentikan langkahnya, berbalik menatap Kania. “Sheva apa kabar?” tanya Emil. Kania yang sedari tadi mengikuti langkah Emil nyaris menubruk tubuh pria itu. Dia mengusap dadanya sendiri, yang mendadak berdebar cukup kencang.


“Sheva sudah tertidur, mungkin kelelahan karena menangis.” Kania menjawab sopan. “Apa berita itu benar? Apa ibu Chika benar-benar meninggal. Kalau benar bagaimana dengan Sheva? Anak itu sudah menaruh harapan besar pada bu Chika.”


Hening menerpa suasana malam itu. Emil menatap lamat-lamat sosok wanita yang berdiri di depannya. Sampai tidak lama kemudian satu permintaan tercetus dari bibirnya. “Apa kamu mau menjadi ibunya?”


Raut wajah Kania berubah cemas. Rasanya seperti tersambar petir di tengah cuaca sedang terik. “Pa—Bapak! Kenapa bicara begitu?” tanya Kania berusaha membalas tatapan Emil. Sorot mata yang sarat akan kemungkaran.


Pria itu menjatuhkan tubuhnya di kursi, dia bersandar, seraya mengatur napas. “Kamu tahu sendiri Chika pergi begitu saja, tanpa mengucapkan pesan apapun padaku atau bahkan pada Sheva, putra tunggalnya. Dan aku pun bisa saja begitu, aku bisa saja meninggal, besok. Aku hanya ingin memastikan kalau Sheva di rawat oleh orang yang tepat. Dia tidak memiliki siapa-siapa saat aku pergi. Kamu juga tahu kalau kakeknya tidak mempedulikannya sama sekali.” Emil kembali menghirup napas dalam-dalam. “Jarang orang yang mau menerima Sheva. Aku khawatir jika aku pergi Sheva tidak ada yang mengurus.”


“Saya tidak bisa, Pak!” sela Kania, setelah mendengar penjelasan Emil.


“Kania ….”


“Maaf. Bapak sedang berduka karena kehilangan bu Chika. Saya tidak mau menjadi pelampiasan atas apa yang terjadi dengan Anda saat ini.”

__ADS_1


“Bu—bukan begitu maksudku Nia … saya cuma ingin ada wali yang mendampingi Sheva saat aku tiada!”


“Saya bisa menjaga Sheva, saya akan menyayanginya kalau benar bapak akan pergi. Bapak tidak perlu khawatir! Saya menyayangi Sheva itu karena Sheva mengingatkan saya pada adik saya yang sudah pergi. Jadi, ada atau tidak Bapak, sikap saya akan tetap sama.”


“Kania, kalau Sheva punya wali yang sah secara hukum itu akan mudah baginya. Dan selama ini baru kamu yanh aku rasa cocok untuk mendampingi Sheva!”


“Tapi saya tidak mau. Bapak silakan cari wanita lain kalau memang membutuhkan ibu untuk Sheva!” sentak Kania, terdengar jelas kalau wanita itu tengah marah. Dia turut menjatuhkan tubuhnya di kursi. “Saya mau menikah dengan pria yang mencintai saya! Bukan karena membutuhkan saya!” jelasnya lagi membuat Emil tersadar dengan sikapnya. Dia tidak ingin mengulangi kesalahannya, menikah dengan wanita yang tidak dia cintai.


“Jangan ada yang menggangguku!” Emil beranjak dari kursi kayu yang diduduki lalu mengayunkan langkahnya menuju kamar, membawa serta kotak besi yang tadi diserahkan pak Temu padanya.


Sebenarnya ia sudah mengetahui isi kotak di tangannya itu. Sebelum pulang dari rumah pak Temu dia sempat membukanya. Dan isinya bukanlah benda mewah. Hanya mainan kecil-kecil yang Chika beli bertepatan dengan hari lahirnya Sheva, di bungkus mainan tertulis angka usia Sheva pada saat itu.


Tiba di dalam kamar, Emil membuka kotak itu. Dia mencermati setiap benda yang ada di dalam kotak. Benda pertama yang Emil ambil adalah mainan murah seharga 10 ribu. Anak-anak biasa menyebutnya otok-otok, mainan ini biasa dibeli di acara pesta rakyat yang ada di Solo. Saat ia memutarnya, ia bisa mendengar suara benturan dari tali yang menggantung.


Emil menyudahi gerakan jarinya, saat mendengar suara pintu diketuk pelan. Mungkin mereka ingin memperingatinya supaya tidak berisik karena ini sudah hampir tengah malam.


“Sudah kubilang jangan ganggu aku, Nia!” sentaknya. Tapi, ketukan itu semakin keras, hingga mendorongnya untuk beranjak dari ranjang.


Saat Emil berhasil membuka pintu kamar. Ia bisa melihat Sheva berdiri di depannya, membawa serta selimut dalam dekapannya.

__ADS_1


Emil bisa menebak keinginan Sheva. Dia tahu Sheva ingin tidur dengannya. “Sheva, please jangan sekarang! Kamu bisa jadi luapan emosi papa kalau kamu satu kamar bersama papa!” larang Emil.


Sheva bergeming, menatap Emil dengan tatapan sayu, berulangkali Sheva menggelengkan kepala. Dia menggunakan bahasa isyarat mengatakan kalau ‘aku berjanji tidak akan mengganggu papa!’ terakhir Sheva menyatukan kedua tangannya di depan dada, memohon kepada Emil untuk diizinkan masuk ke kamar. Dia hanya butuh teman untuk berbagi kesedihan, dan Kania tidak bisa mengerti kesedihan yang kini menimpanya. Wanita itu terus bercerita tentang perasaanya yang berbunga-bunga.


Setelah Emil memberi akses untuk Sheva masuk. Bocah kecil itu berlari menuju ranjang, merangkak naik dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia bersiap tidur tanpa menunggu sang papa bergerak dari posisinya.


Sheva sengaja membelakangi tubuh Emil berusaha menepati janji untuk tidak menganggu pria itu. Dia tidur menepi di ranjang, memberi ruang sang papa untuk berbaring.


Emil yang melihat itu berjalan mendekati Sheva. Dia memeluk erat tubuh putranya. Hingga Sheva berbalik menghadap Emil saat merasakan pelukan yang teramat menyiksanya.


“Maafin, Papa, Sheva … papa yang salah!” gumamnya. Tanpa sadar air mata kesedihan kembali menetes, dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya dari Sheva.


Tangan mungil Sheva membantu menyeka air mata Emil. Ia sedikit naik ke bantal lalu mengecup singkat kening Emil, seakan-akan kecupan itu bisa menenangkan papanya yang bersedih.


“Papp … aa …” ucapnya sembari menggelengkan kepala. Tangis Emil kian pecah mendengar Sheva megucapkan itu untuknya. Dia terharu mendengar panggilan itu. Panggilan yang dia tunggu selama hampir 7 tahun.


“Paappaaa … paapppaaa ….” Sheva sepertinya turut bahagia mengucapkan itu, dia berulangkali menyebutkan panggilan untuk Emil.


“Maafin papa, Sheva! Jelas ini salah papa!” ucapnya kembali merengkuh tubuh Sheva dalam pelukan.

__ADS_1


Sheva menggeleng, tangan mungilnya menangkap kedua pipi Emil. Meminta pria itu untuk memperhatikannya. “Paappaa ….” Tidak ada penjelasan lain yang keluar dari bibir Sheva. Bocah itu terus mengulangi menyebut nama papa, seolah dia tahu jika ia mengatakan itu Emil akan terhibur.


"Papa janji, akan berusaha menjadi papa dan mama yang baik untuk kamu!" lirihnya di samping telinga Sheva.


__ADS_2