
Setelah mendengar penjelasan Emil, Chika mulai paham dan turut duduk bersama Sheva. Dia selalu membuka obrolan terlebih dahulu dengan sang mertua, di saat wanita itu diam tanpa kata. Dan Emil, pria itu sedang sibuk membuat kopi dan teh di dapur, melanjutkan apa yang tadi dilakukan istrinya.
“Kania mana sih, Mil?” tanya ibu Ineke, ketika Emil menghampiri ruang keluarga, di mana mereka tengah berbincang.
“Di tempat suaminya, Ma! Kalau mama mau main, boleh-boleh aja. Tapi jangan lama-lama soalnya, Kania yang sekarang bukan pengasuh Sheva lagi.”
Emil mendudukan tubuhnya di samping Chika. Ketika pria itu turut bergabung obrolan lebih dominan kepada Emil dan Ibu Ineke yang membicarakan masalah pekerjaan Emil. Sedangkan Chika dan Sheva hanya duduk diam sambil berpelukan.
“Ibun, aku lapar!” keluh Sheva. Seketika Chika baru ingat kalau dia harus membuat sarapan untuk putranya.
“Ibun belanja dulu, ya.”
“Sheva ikut!” rengek Sheva, menahan lengan Chika yang hendak beranjak.
“Di rumah aja sama nenek!” ibu Ineke ikut menimpali, tapi Sheva hanya menggelengkan kepala.
"Sheva nggak mau sama nenek."
“Ya, sudah, ayo! Chika belanja dulu, ya, Bu!”
“Pakai mobil saja, Ibun! Biar lebih cepat!”
Sudah lama Chika tidak mengemudikan mobil, dia sedikit lupa cara mengemudi jadi dia tidak ingin mengambil risiko. “Enggak perlu, Kak! Aku sudah lupa gimana cara mengemudikannya.” Chika berkata jujur, dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman.
“Aku antar ya!”
“Kak Emil temani Ibu saja!” Chika menolak, dia tidak ingin ibu Ineke semakin menilainya manja, ketergantungan pada suami seperti waktu dulu saat dulu masih menumpang di rumah wanita itu.
“Kalau gitu jangan lama-lama!”
“Iya.” Chika mengulas senyum lalu segera, membawa Sheva keluar rumah. Meninggalkan ibu dan anak itu sendirian di sana.
Mereka berdua pergi menggunakan taksi, dan untuk mendapatkan taksi, mereka harus berjalan terlebih dahulu sampai jalan raya.
Saat tiba di pasar, Chika sengaja membawa Sheva ke warung makan terlebih dahulu untuk menikmati sarapan. Kasihan bocah kecil itu belum juga mengisi perutnya sedari bangun tidur tadi. Dia tidak ingin putranya itu pinsan karena lelah mengelilingi pasar.
“Ibun, aku merasa nenek itu tidak sungguh-sungguh berubah. Buktinya nenek selalu nyuekin kita, Cuma papa saja yang diajak bicara. Bukankah seperti itu jahat?” adu Sheva, mengutarakan apa yang kini dia pikirkan.
“Sheva …”
__ADS_1
“Ibun itu terlalu baik! Jadi ibun tidak bisa membaca gelagat orang jahat!” Sheva berbicara dengan mulut penuh nasi soto.
“Ibun sudah pernah jadi orang jahat. Ibun juga pernah dimaki-maki banyak orang karena perbuatan ibun, dan rasanya tidak enak. Maka dari itu ibun ingin jadi orang baik. Nenek sama dengan Ibun. Sekarang dia ingin jadi nenek yang baik buat Sheva. Kamu tidak lupa, kan? kalau nenek itu ibunya papa. Perasaan papa itu sama seperti Sheva sayang ke Ibun! jadi kamu juga harus hormat sama nenek. Ibun kan sudah bilang, perasaan benci bisa luluh dengan cinta. Biarkan saja nenek membenci kita, tapi jangan biarkan kita mendendamnya. Cukup kita doakan, dan kita balas dengan kelembutan, semoga dengan begitu nenek akan terbuka hatinya untuk menyayangi Sheva dan Ibun.”
“Itulah kenapa Sheva tidak suka nenek ada di rumah kita. Dia itu tidak tulus sayang sama kita.”
“Sheva ….” Chika menggeleng, memperingati putranya untuk tidak berkata demikian.
"Tapi enggak papa! Sheva akan berusaha menerima nenek. Asal Ibun nggak pernah ninggalin Sheva lagi!"
Chika yang mendengar kalimat itu mengusap rambutnya pelan. Dia termenung, mendadak teringat dengan kedua orang tuanya yang sifatnya sama. Membencinya, membuangnya karena menganggapnya sebuah bala.
Sejak diusir dari rumah, Chika tidak pernah lagi tahu tentang kabar mereka. Dan sepertinya, mereka juga enggan untuk menemukannya.
Saat mangkok soto di depan Sheva kosong, Chika bergegas membawa anak itu berkeliling ke pasar untuk membeli sayuran. Sheva begitu aktiv bertanya tentang ini itu kepada penjual sesekali bertanya padanya tentang sayur yang paling dia sukai.
“Kita beli sayur saja, Bun?” tanya Sheva, saat melihat plastik besar itu hanya berisi sayuran.
Emil belum memberinya uang sama sekali. Jadi Chika tidak berani membelanjakan uangnya dengan banyak stok makanan. Jadi, dia akan memilih jenis protein apa yang diinginkan Sheva.
“Sheva mau apa? Udang, ikan, ayam, atau daging saja?” tawar Chika, berharap Sheva memilih satu dari pilihan yang tadi disebutkan.
Chika tersenyum tipis, lalu menuntun Sheva ke area penjual ikan. Dia meminta bocah kecil itu memilih sendiri apa yang diinginkan. Sayangnya Sheva menunjuk apapun yang diinginkan. Hingga menguras isi dompet Chika.
Wanita itu hanya menyisihkan uang untuk naik taksi pulang ke rumah. Karena tidak mungkin mereka berdua akan jalan kaki.
Saat tiba di rumah, mobil milik Emil tidak ada di rumah. Pria itu sepertinya sudah berangkat kerja. Sedangkan ibu Ineke kini menempati kamar Sheva. Wanita itu terlelap di sana, membuat Sheva terus ngedumel tidak jelas.
Chika yang sedang sibuk di dapur untuk memasak terus saja diikuti Sheva. Dia tahu putranya itu kelelahan karena memutari pasar.
“Bobok kamar papa dulu, ya? nanti kalau nenek sudah bangun, kita bisa bicara baik-baik untuk mengambil bajumu!” bujuk Chika lembut.
Sheva menggeleng pelan. “Papa ke mana sih, Ibun?”
“Nanti Ibun teleponin, soalnya ponselnya masih di kamar. nanti kalau ibun ambil, masakannya gosong!” Chika sendiri tidak tahu, ke mana perginya pria itu, dia hanya bisa mencari alasan saat Sheva terus menanyakan keberadaanya.
Setelah acara memasaknya selesai, Chika menggiring Sheva masuk ke kamar. Meminta putranya itu untuk tidur.
Saat dia menatap layar ponselnya, rupanya Emil mengirimkan pesan padanya sebelum. Chika memang tidak membawa ponselnya saat tadi pergi ke pasar, jadi dia tidak tahu jika Emil sudah berpamitan padanya.
__ADS_1
[Ibun, aku ke pabrik dulu. Mungkin aku pulang sore. I love you]
Chika tersenyum simpul membaca tiga kata terakhir. Seperti masih muda saja harus menambahkan kata itu, gumamnya.
[Kakak belum sarapan tadi. Jangan lupa makan siang.]
Pesan itu langsung dijawab cepat oleh Emil.
[Sudah, tadi sarapan satu ronde sama secangkir kopi.]
Mendadak pipi Chika memanas membaca pesan singkat itu. Tak lama ponselnya mendapat panggilan masuk dari suaminya.
“Ada apa?” tanya Chika penasaran.
“Enggak papa, cuma, kan ... sekarang aku punya rutinitas baru. Wajib lapor!”
“Ow!” Chika mengangguk sambil menatap ke arah Sheva. Lalu terkekeh pelan.
“Anak kita lagi apa?”
“Lagi mau tidur siang. Dari tadi ngambek, dia mau tidur di kamarnya. Tapi dipakai sama Ibu.”
“Jadi?”
“Jadi … Sheva tidur di kamar kita.” Chika menjelaskan setengah berbisik. “Kak!”
“I—iya.”
“Ada apa, kok diam?” tanya Chika penasaran.
“Aku lagi mikirin cara, gimana nanti kita seneng-senengnya kalau Sheva ada satu kamar bersama kita.”
“Astaga Kakak Emil.”
Pria itu terbahak. “Kamu sudah masak?” tanya Emil.
“Udah. Kakak mau pulang?” tanya Chika.
“Iya, aku nggak jadi pulang sore. Aku mau makan siang di rumah saja.”
__ADS_1
“Dasar! Ya udah, kalau gitu pulang aja! Kita makan siang bareng!”