Begin Again

Begin Again
Saling Memaafkan


__ADS_3

“Apa jangan-jangan ini beneren pernikahan kita berdua? Apa Kakak serius?” tanya Chika, rasa curiga menyeruak saat mendapati beberapa mobil berjajar di depan gedung bangunan mewah itu.


Emil diam, pandangannya lurus ke depan tepatnya ke arah pintu utama ballroom. Dia sudah tidak sabar memberikan kejutan untuk istrinya.


“Kakak ….” Chika merengek menuntut jawaban, saat jarak dengan pintu utama semakin dekat.


“Kamu kan, tadi dengar sendiri. Kalau hari ini kita bakal menikah. Eh salah, kita akan ngadain pesta pernikahan kita.”


Chika melepas cekalan suaminya. Dia menahan langkahnya untuk mengikuti Emil. Dia tahu pria itu tidak akan berbicara omong kosong di saat seperti ini. Dan dia tidak ingin masuk sebelum Emil menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.


“Ayo Ibun! Masa iya aku harus gendong kamu!” Emil mengeluarkan jurus pemaksaan kepada sang istri. Dia sudah tidak sabar, tapi Chika justru membuang waktunya.


“Ada siapa saja di dalam? Katanya mau makan malam? tapi kenapa di sini?”


Emil yang geram menarik pergelangan tangan istrinya. Kemudian memaksa Chika untuk kembali melanjutkan langkahnya.


“Udah Ibun menurut saja! Jangan membantah ucapanku!”


“Aku hanya takut mengecewakanmu! Ak—


Chika tak bisa melanjutkan ucapannya saat Emil tiba tiba mendorong tubuhnya hingga menyentuh tembok. Pria itu merampas habis lipstick warna merah yang dikenakan. Chika berontak, malu karena saat ini, pria yang mengenakan seragam hitam yang berdiri di tengah daun pintu memelototkan matanya menyaksikan apa yang mereka berdua lakukan.


“Sekali lagi kamu protes. Bukan hanya mereka yang tahu. Tapi seluruh isi ballroom akan melihat bagaimana aku men* cium bibirmu. Paham?” ancam Emil, lalu kembali melangkah, mendekati pintu masuk. Di balik pintu itu beberapa orang sedang menunggu kedatangan mereka berdua. Dan itu semua hasil kerja kerasnya untuk menghubungi para tamu-tamu itu.


Saat jarak tinggal beberapa langkah lagi. Penjaga mulai membuka pintu untuk mereka berdua. Ruangan itu tampak gelap, hanya saja, beberapa orang tampak mengenakan pakaian warna putih. jadi terlihat seberapa banyak orang yang hadir di ballroom itu.


Chika memang bisa melihat banyaknya orang yang hadir di sana. Tapi, dia tidak bisa melihat siapa-siapa saja yang sudah hadir dan duduk di setiap kursi itu.


“Ibun!”


Seruan itu membuat Chika menoleh ke arah sumber suara. Dia tidak tahu di mana Sheva duduk. Tapi yang jelas Sheva benar ada di dalam ruangan itu. Emil tidak berbohong tentang keberadaan Sheva.


Perlahan lampu yang tadi padam menyala, sinar keemasan mulai menyinari ballroom hotel itu. Hingga semakin lama, Chika bisa mengetahui siapa saja yang hadir di sana.


Mata Chika memanas, rasanya sulit sekali untuk menahan air matanya supaya tidak tumpah. Tapi, sentuhan tangan Emil yang semakin erat membuatnya sadar, kalau dia tidak perlu takut lagi menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi di depan sana. sebab Emil akan berada di sampingnya.


“Bagaimana bisa kamu melakukan ini, Kak? Tanpa sepengetahuanku?” di tengah rasa haru yang sedang melanda, Chika protes dengan sikap Emil yang sengaja merahasiakan ini darinya.

__ADS_1


“Bukankah aku suami hebat?”


Chika yang masih berdiam diri mulai melepas tangan Emil saat melihat sang mama berjalan menghampirinya. Hampir dua belas tahun dia tidak menemui wanita itu. Chika bisa melihat tubuh wanita itu tidak sekuat dulu. Tampak kurus dengan baju putih yang dia kenakan. Sedangkan papa, tampak melepas kaca matanya yang tadi bertengger di hidung. Mengucek matanya yang mungkin perih karena menahan tangis.


“Kenapa kamu nggak pernah pulang?!” Kalimat itu terlontar dari bibir wanita yang sudah melahirkan Chika, “apa kamu tidak pernah merindukan mama?”


Chika tidak menjawab, dia ingin memeluk wanita itu tapi rasa takut menyeruak saat teringat bagaimana dia adalah aib yang sudah mencemarkan nama baik keluarganya. Dan yang bisa dia lakukan adalah mengucapkan kata maaf pada sang mama. “Maaf. Maafin Chika.”


Wanita itu lebih dulu membawa Chika masuk ke pelukan. Dia memeluk erat tubuh putri yang selama ini tidak pernah pulang ke rumah. Putri yang seharusnya dia lindungi di saat terpuruk, bukan malah dia tinggalkan.


“Maafin Chika, Ma! Chika yang salah, Chika yang berbuat dosa, tapi kalian juga kena getahnya. Maaf.” Chika meluapkan penyesalannya.


"Kita bicarakan nanti! kita harus menikmati pesta ini! jangan menoleh ke belakang! kita fokus ke depan saja, supaya kebahagian juga menghampiri kita."


Chika mengangguk pelan. Saat tangannya terulur hendak menyentuh tangan sang papa, pandangannya bertemu dengan Riella yang berdiri di samping Kalun. Dia tidak mengira kalau Emil juga mengundang mereka untuk datang ke acara makan malam ini.


Ya, mungkin setelah ini dia akan mendatangi Riella, meminta maaf kepada gadis yang dulu menjadi sahabatnya. Tapi persahabatan itu hancur karena dia sendiri telah mengambil apa yang seharusnya menjadi milik wanita itu.


Emil yang melihat istrinya menangis, hanya bisa diam. Dia membiarkan dua orang itu melepas rindu. Sedangkan dia menjamu tamu yang hadir. Sebenarnya tidak begitu banyak, hanya teman-teman dekat mereka saja. Bahkan, ballroom hotel masih terlihat lenggang.


“Kau datang juga?” tanya Chika setelah berhasil menghampiri Riella.


“Riella, maafkan kesalahanku yang dulu. Aku benar-benar khilaf. Tidak seharusnya aku menggoda Kak Emil,” ucap Chika penuh penyesalan.


“Sudahlah! Lupakan! semua sudah berlalu, lagian dari kejadian itu kita bisa introspeksi diri, tentang mana yang benar dan salah. Kita sudah sama-sama menemukan kebahagian dengan pasangan kita. Kita seharusnya saling memaafkan. Berbahagialah dengan hidupmu! Kak Emil sangat mencintaimu! Kau harus percaya!” Chika menoleh ke arah belakang, tepatnya ke arah Emil yang sedang berbincang dengan rekannya.


Chika lalu mengangguk pelan. “Kenzo mana? Aku harus bertemu dengannya!”


“Eits, kalau dia jangan sekali-kali kamu mengambilnya. Dia milikku, ya! kalau kamu mau mengambilnya kali ini aku akan melawanmu!”


Chika tertawa kecil, lalu setelah sedikit reda. Dia berusaha memeluk tubuh Riella. “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena bantuannya, aku masih hidup sampai sakarang. Berkat pria yang dikenalkan padaku aku bisa hidup dengan baik sejak hari itu.”


Riella mengangguk, “Suamiku sedang di luar. Si kecil rewel, jadi harus di ajak jalan-jalan dulu.”


“Kamu juga harus bahagia, La! Kak Emil menceritakan semuanya tentang kamu. Kamu wanita kuat, kamu juga harus bahagia bersama keluargamu.”


“I—iya jelas, aku akan bahagia.”

__ADS_1


Tak lama tampak Queen berlarian mengejar Sheva, disusul Airin di barisan paling akhir. Mereka baru berhenti saat Emil berusaha menahan dan memeluk perut Sheva mengentikan laju bocah itu.


“Yah, Papa … kenakan!” keluh Sheva ketika sebuah krim dari kue mengoles di pipinya. “Udah Stop Queen, nanti Baim marah sama aku!”


Queen melirik ke arah Baim yang berwajah muram, tangannya sudah terlipat di depan dada. “Ayo Airin, kita ambil makanan lain saja! kita nggak boleh mainan sama anak kecil. Dia bukan lawan kita!” Sheva menarik tangan Airin sambil melirik ke arah Queen, tak lama lidahnya menjulur keluar. "Budak Kecik!"


Setelah melihat dua orang itu pergi, Queen menatap pria yang berdiri di depannya. lalu meringis malu.


“Mau gendong Om?” tawar Emil seraya merentangkan kedua tangannya bersiap menggendong anak kecil yang berusia tiga tahun itu. Tanpa menunggu persetujuan, Emil menggendong Queen, lalu membawa bocah itu mendekat kepada mama nya.


“Kan, belepotan!” Riella menggerutu saat melihat baju Queen yang putih bersih tampak kotor oleh krim kue.


"Ndak papa!" balas Queen dengan wajah gemasnya.


“Ibun, kita culik saja si Queen! Buat jadi anak kedua kita!”


“Ow, dari pada diculik kenapa nggak dijadiin mantu saja? kan nanti ada istilah mantan sahabatku besanku,” celetuk Chika sambil mengusap pipi Queen.


“Bukanlah! Mantan tunanganku besanku itu baru tepat.” melirik ke arah Riella sambil tertawa jahil.


“Aneh, kalian berdua!” Riella mengambil Queen dari gendongan Emil. “Enak aja main culik! Bikinnya aja susah!” gerutu Riella, lalu membawa Queen menyusul suaminya. Meninggalkan dua pasangan yang baru saja menikmati titik bahagianya.


“Apa?” tanya Chika, saat melihat Emil tak melepas tatapan dari tubuhnya.


Emil mendekatkan bibirnya ke arah telinga Chika. Lalu berbisik, “Aku udah sewa kamar di atas, buat kita bikin adiknya Sheva!”


“Kita udah tua, Kak!” balas Chika, berusaha menolak.


“Nggak ada larangan selagi kita masih bisa!” Emil mulai meraih telapak tangan Chika. “Ayo!”


Chika menahan tarikan tangan Emil. “Nanti!”


“Sekarang!” kekeh Emil, tidak membiarkan istrinya lepas darinya.


“Masih banyak tamu!”


“Aku bisa mengusir mereka semua!”

__ADS_1


 


__ADS_2