Begin Again

Begin Again
Buat Sheva, Bukan Buat Lo!


__ADS_3

“Kenapa menatapku begitu, ada yang salah?!” tanya pria berkaus putih yang berdiri tepat di depan Emil. Perasaan kesal mendadak menyeruak saat melihat tatapan curiga yang ditunjukan Emil saat ini. “lo, lagi butuh uang! Dan uang gue banyak jadi nggak papa dong gue bantuin lo! Gue mau nyari pahala. Siapa tahu bantuan gue bisa mempermudah jalan gue masuk surga!” pria itu berceramah panjang lebar, sampai anak kecil yang berada dalam dekapannya menggeliat karena tidurnya terusik dengan suara sang ayah.


Alis Emil terangkat tinggi setelah mendengar ucapan temannya itu. “Lo kenapa di sini?” tanya Emil.


“Mertua gue sakit. Pantas saja nggak pernah lihat lo di Jakarta. Ternyata di sini, udah ketemu Chika dong!?” tebak Kalun, mantan calon kakak ipar sekaligus teman Emil.


“Lo tahu dia di sini?” Emil justru balik bertanya. Mendadak kesal saat tahu ternyata temannya sendiri mengetahui keberadaan Chika.


“Tahu. Aku pernah sekali bertemu dengannya. Awalnya aku pikir bukan Chika, ternyata beneran dia. Siapa yang sakit, Sheva?”


Emil ingin sekali memaki pria itu, tapi rasanya hanya buang-buang tenaga, “Cuma demam, dokter menyarankan untuk tes darah.”


“Sejak club lo tutup, sepertinya kesulitan nyari uang ya?” Kalun terkekeh. “Tapi, enggak papa sih! menurutku itu lebih baik. Itu tantangan buat, lo buat nyari uang halal!” tawa Kalun kian merdu, membuat Emil semakin kesal. Padahal pria itu tahu club' yang ada di Jakarta sudah tutup sejak 7 tahun yang lalu. Kenapa masih di bahas juga?!


“Brengsek lo, ya! udah sana pergi! males gue nanggepin Lo!” usir Emil.


Mendengar usiran Emil, Kalun lekas berjalan meninggalkan meja administrasi bersama putranya Leonard. Namun, baru beberapa langkah suara Emil berhasil menghentikan langkahnya. Pria itu kembali berbalik menatap Emil.


“Gue pinjem uang, lo! Bulan depan gue balikkin.” Emil mengesampingkan gengsinya, khawatir kalau pengobatan Sheva akan terganggu karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit.


Kalun masih diam menatap Emil, entah apa yang ada di pikiran Kalun saat ini, yang jelas matanya terlihat teduh, iba dengan jalan hidup Emil saat ini.


“Sepuluh juta, aku tahu itu yang receh buat Lo, tapi itu berarti banget buat gue! Jangan khawatir, gue bakal kembalikan kok.” bujuk Emil, dia benar-benar muka tebal hari ini.

__ADS_1


“Kirim nomor rekening mu ke nomorku! Nggak usah dikembalikan, anggap saja gue ngasih uang jajan ke Sheva.”


“Nggak! bulan depan pasti kukembalikan. tadi gue udah bilang ke lo cuma pinjem, dan itu wajib gue kembalikan.” Emil sibuk menyentuh layar teleponnya, mengirimkan pesan pada Kalun. “Tapi, gue minta secepatnya ya, uang gue udah terlanjur gue beliin kayu.”


“Okey, habis nidurin Leo gue kirim ke rekeningmu.” Kalun menunjuk putranya. “lo, tinggal di mana? Kapan-kapan gue mampir sama Luna.”


“Nanti aku kirim alamatnya. Lagian gue juga masih di sini.”


Kalun mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya menuju lift, meninggalkan Emil yang kini mengambil duduk di bangku depan meja administrasi. Pria itu sedang menunggu sms banking. Berharap sahabatnya itu akan segera mengirimkan uang ke nomor rekeningnya.


Lima menit sudah Emil menunggu dengan perasaan cemas. Uang yang ia butuhkan tak segera masuk ke rekeningnya. Emil beranjak dari kursi, hendak bertanya pada petugas administrasi.


“Mbak, teman saya tadi orang tuanya di kamar apa, ya?”


Saat kakinya hendak kembali ke tempat duduk, sebuah notifikasi pesan masuk ke nomornya. Uang yang ditunggu-tunggu sudah masuk rekening. Nominal yang Kalun kirim dua kali lipat dari yang ia sebutkan tadi.


Selain itu, pesan dari sahabatnya ikut masuk ke nomornya.


Kalun : Kalau lo, kembalikan uang itu, berarti kita bukan lagi teman. Ingat ya, uang itu buat Sheva. Bukan buat lo! Katakan pada Sheva, dapat salam dari ayah Kalun. [Pesan Masuk]


Kalau begini caranya, Emil jadi sungkan sendiri dengan pria itu. Padahal dia sudah menyakiti adiknya, membuat adiknya terluka begitu parah. Meski hubungan mereka sudah baik-baik saja, tapi dia masih merasa bersalah karena dulu berani menduakan Riella demi Chika.


Kalun : Thanks, Brother! Jl. Merak VI, Gilingan, Banjarsari. Aku akan mengabarimu kalau Sheva sudah bisa diajak pulang. [Pesan Keluar]

__ADS_1


Sesaat berlalu hanya pesan sticker yang diterima Emil. Ia pun enggan membalas lagi, memilih menyelesaikan administrasi supaya dokter juga bisa mengambil tindakan.


Saat kembali ke ruang UGD dokter Tomi menjelaskan padanya kalau Sheva akan dipindahkan ke ruang perawatan. Meski Emil sedang tidak punya uang. Tapi, dia tidak membiarkan Sheva sekamar dengan pasien lain. Ia meminta ruang VIP supaya putranya bisa beristirahat dengan tenang.


...----------------...


Saat ini, Chika sudah berada di Yayasan Surya Mentari. Di dalam ruangan yang berisikan 19 anak. Pandangannya tertuju ke arah kursi bertuliskan nama Sheva E.H. Kursi itu kosong. Dia tidak melihat Sheva, yang biasa fokus dengan buku tulisnya.


Pikirannya mulai bertanya-tanya tentang kondisi Sheva saat ini. Semakin dipikirkan, Chika semakin takut terjadi hal-hal buruk dengan Sheva. Rasanya ingin segera menyelesaikan jam pelajaran dan ia ingin segera pulang mendatangi rumah Emil. Atau paling tidak memantaunya dari kejauhan.


“Mommy, ini imana atu ndak icah?” suara Airin membuat Chika menoleh ke arah gadis itu. Airin menunjuk pencil warnanya yang terlihat tumpul.


Chika yang melihat pun segera berjongkok untuk membantu Airin. “Oh, ini ... begini!” Chika mengambil rautan kemudian membantu Airin meruncingkan pensil warnanya.


Hari ini Airin begitu manja, dia selaku mengekor Chika kemanapun dia melangkah. Seolah tak ingin Chika pergi menjauh darinya.


Sikap yang ditunjukan Airin membuat Chika menyadari, mungkin sebagai anak kecil, Sheva juga sebenarnya ingin mendapat perlakuan yang sama. Mungkin, Sheva juga merindukannya. Seperti hal-nya Airin yang selalu ingin dekat dengannya. Dia jadi menyesali tindakannya kemarin. Seharusnya dia tidak menangis dulu, dan bisa pulang bersama mereka.


“Airin. Arin sama mbak dulu ya … mommy mau ke toilet sebentar.” Chika terpaksa berbohong demi bisa terlepas dari Airin. Mendadak perasaannya tak tenang saat teringat sikapnya kemarin.


“Jangan ama-ama, Mommy!” pesan Airin. Chika hanya tersenyum simpul berusaha menyetujui permintaan gadis itu.


Tanpa berpamitan dengan Gangga Chika buru-buru keluar dari Yayasan. Ia mencari taksi yang bisa membawanya ke rumah Emil. Dia berjanji akan memeluk dan meminta maaf pada Sheva setelah ini.

__ADS_1


"Maafin Mama, Sheva ...." Chika bergumam pelan, sembari mencari taksi. Sayangnya, di jam seperti ini taksi banyak yang penuh. Ia terpaksa menunggu sampai ada taksi yang bisa mengantarnya ke arah jalan pulang.


__ADS_2