
...Bonus visual Emil & Chika 😁😂...
...Selamat membaca, jangan lupa like, dan TONTON IKLAN 10 X 🤣🤣...
...----------------...
Emil bukan tipe pria yang suka menunggu seekor ikan datang untuk memakan umpan. Tapi demi Sheva, hari ini dia belajar sabar. Rela menemani Sheva memancing. Menunggu sampai ikan-ikan itu memakan umpan, lalu menyerahkan kepada pelayan untuk dimasak.
Perlahan Emil mulai bosan, nyaris satu jam dia menunggu, ikan pun tak didapatkan. Ia menyerah, angkat tangan! "Kania!" panggil Emil, melambaikan tangannya ke arah Kania yang tengah berbincang dengan Chika di gazebo.
Kania yang terpanggil mulai menghampiri Emil, dia bertanya apa keinginan majikannya itu.
"Kamu jaga Sheva dulu, ya! Ada hal yang harus aku selesaikan dengan Bu guru!" Pesan Emil, yang langsung disetujui oleh Kania. Ada banyak kesalahpahaman di sini, dan Emil perlu meluruskan semuanya.
Emil mengayunkan kakinya, mendekati Chika. "Mau ikut aku nggak?" tawar Emil, saat tiba di gazebo yang ditempati Chika. Sayangnya, wanita itu menggeleng, menolak ajakan Emil.
"Ayolah, sepertinya kita perlu waktu untuk bicara berdua." Emil sedikit memaksa supaya Chika mau ikut dengannya.
"Aku sungkan dengan istrimu! Aku nggak mau mengulangi kesalahanku di masa lalu dengan merebutmu dari wanita lain!" Chika menjabarkan alasan kenapa dia enggan ikut dengan Emil. Ia takut disebut pelakor, ia tidak mau kesalahannya dulu terulang kembali.
Pria itu mengalah, kalau Chika tidak mau pergi dengannya. Ia sendiri yang akan duduk dengan Chika, di gazebo itu. Padahal dia sengaja duduk menempel dengan Chika, tapi wanita itu justru kembali membentangkan jarak. Benar-benar menghindari bersentuhan dengannya.
"Jangan membuat istrimu salah paham, Emilyan!" peringat Chika dengan sorot tajam.
__ADS_1
"Lyan." Emil mengernyit, seharusnya Chika seperti dulu memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi ... semuanya sudah berubah. "Kamu yang salah paham, Chika ...." Emil menarik napas dalam. "Aku belum menikah."
Pengakuan Emil membuat Chika menatap ke arah mantan suaminya. Seolah meminta penjelasan lebih rinci lagi.
"Kamu salah paham. Kania memang selalu bersamaku tapi dia bukan istriku. Dia hanya wanita yang membantuku menjaga Sheva." Emil menerangkan panjang lebar supaya Chika paham kalau hubungannya dengan Kania hanya sebatas itu. "Soal di mobil tadi, itu nggak seperti yang kamu bayangkan!"
Lidah Chika kelu, otaknya mendadak kosong saat mendengar penjelasan singkat dari Emil. Pertanyaan mulai berdatangan, mencercanya. Alasan apa yang membuat Emil betah sendiri? Apa mungkin—nggak! Dia tidak ingin besar kepala, bagaimana pun semua sudah terlambat. Pernikahannya dengan Gangga akan dilaksanakan bulan depan. Jadi, dia nggak boleh goyah.
"Kenapa kamu nggak berusaha mencari penggantiku?" tanya Chika setelah cukup lama terdiam.
"Karena aku belum menemukan yang seperti kamu." Emil pun mengaku dengan jujur, tentang alasannya dia betah sendiri.
Sejenak Chika memandangi Emil, membiarkan tatapan matanya menunjukan pada pria itu kalau dia begitu merindukannya. Tatapan Chika sangat lekat bahkan tanpa ia sadari sudut matanya mulai basah. "Kamu hanya tidak mau serius untuk mencari! Di luar sana ada banyak wanita yang jauh lebih baik dariku!" Chika memalingkan wajah, meski tidak rela tapi Emil juga berhak bahagia dengan kehidupan barunya.
Chika mengigit bibir bawahnya demi meredam tangis. Ia berusaha mati-matian menahan tangis, ternyata rasa itu masih begitu menyiksa batinnya, saat teringat alasan kenapa dia harus pergi.
"Aku tidak tahu pasti apa yang membuat kamu pergi malam itu, mungkin ucapanku? mungkin juga kondisi Sheva? tapi apapun itu kamu berhak memilih untuk pergi, aku sadar kelakuanku memang tidak pantas untuk ditoleran."
Emil terlihat menarik napas dalam. Dia juga merasakan sesak yang luar biasa saat ini. "Tapi, maukah kamu mengulangi hubungan kita dari awal. Kita mulai lagi dengan cara baik-baik. Aku merasa ... aku, sudah berubah lebih baik. Demi Sheva dan—
"Aku tidak bisa," potong Chika, sembari mengusap air matanya. Dia tidak bisa membatalkan begitu saja rencana pernikahannya dengan Gangga. Terlebih keluarga besar Gangga sudah tahu tentang berita ini. Jadi, itu tidak akan mudah.
Emil mengangguk, sakitnya melebihi sepuluh tulangnya patah secara bersamaan. Mungkin kalau dia sendiri, dia akan meraung atau memukul apapun demi bisa mengeluarkan rasa sakit yang dirasa. Bahkan, dengan alasan Sheva pun tak mampu membuat Chika kembali padanya.
"Oke." Emil tersenyum kecut. Lalu memandangi, Sheva yang sedang melompat-lompat kegirangan karena umpan yang sedari tadi tak tersentuh ikan kini mulai bergerak-gerak.
__ADS_1
Tak lama sosok Kania ikut bersorak riang, karena berhasil mendapatkan ikan. Rupanya melihat mereka berdua seperti itu mampu membuat air mata Emil tertahan, tak jadi meluncur, karena hatinya kini sedikit terhibur.
"Kapan kamu siap? Aku akan mengatakan padanya," tawar Emil, tanpa memindahkan tatapan.
"Bisakah kita bicara bertiga saja. Tanpa ada orang lain?"
"Apa maksudmu ... Kania?"
Chika mengangguk. "ya, aku tidak nyaman dengan kehadirannya." kali ini Chika mengambil jeda waktu, untuk menyusun kalimat yang hendak ia lontarkan pada Emil. "Kalau kamu mengizinkan ... apa boleh aku membawa Sheva tinggal bersamaku?"
"Maksudmu?" Sebenarnya tanpa dijelaskan lagi Emil sudah paham apa yang diinginkan wanita itu. Dia hanya ingin meyakinkan lagi kalau dia tidak salah dengar.
"Selama ini kamu sudah merawat Sheva. Pasti sangat berat buat kamu. Jadi, biarkan aku merawatnya, menebus waktuku yang terbuang."
Emil terkekeh pelan, dia menoleh ke arah Chika. "Sheva bukan beban, aku merawatnya penuh cinta, dan aku tidak keberatan kalaupun di sisa usiaku aku habiskan untuk bersamanya. Chika ... Aku sudah memberimu kesempatan untuk mengakui kalau kamu adalah ibu kandungnya. Aku nggak mau dicap papa yang buruk karena memisahkan ikatan seorang ibu dan anak. Tapi, untuk membawanya pergi dariku. Jangan berharap, karena sampai kapanpun aku tidak akan melepas Sheva! Kalau beberapa tahun yang lalu kamu bisa meninggalkan kami. Kali ini kami yang akan meninggalkanmu kalau sikapmu tetap saja keras kepala."
Ancaman Emil membuat Chika kembali mengeluarkan air matanya. Rasa bersalah kian besar, jika diingatkan tentang masa lalunya.
"Silakan tentukan pilihanmu. Kamu bisa memiliki Sheva asal kembali denganku. Atau kamu memilih pergi dengan mereka, dan kehilangan kami," sambung Emil.
"Kamu nggak paham, gimana aku, Emilyan!"
"Sepertinya cukup untuk pembahasan ini! Aku rasa semuanya sudah jelas! kita hanya akan berhubungan jika itu menyangkut Sheva!" Emil beranjak dari gazebo, meninggalkan Chika sendirian di sana.
Langkah Emil tidak mendatangi putranya. Dia justru memilih sendiri, sambil menikmati sebatang rokok. Dadanya bergemuruh, rasa marah dan kesalnya bergabung menjadi satu. Wanita itu masih saja mementingkan ego-nya. Tidak peduli jika sekarang sudah ada Sheva.
__ADS_1