
Emil dan Sheva kini berada di samping gundukan tanah merah yang tampak masih basah. Mereka berdua berdoa untuk Chika yang diketahui sudah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.
Pagi-pagi tadi, Emil berusaha menghubungi Gangga, bertanya di mana letak makam istrinya. Dan di sinilah saat ini, sepanjang matanya memandang, Emil tak bisa menemukan apapun selain gundukan makam. Konon ini adalah salah satu makam terbesar di kota Solo. Dan disinilah jazad Chika saat ini, terpendam rapat di bawah tanah.
Mereka berdua merenung, sama-sama menatap ke arah nisan yang ada di tengah pusara. Keduanya tidak ada yang berani mengganggu, sebab tahu isi perasaan masing-masing.
Hampir lima belas menit mereka terdiam, Emil baru angkat suara. “Ibun … aku nggak jadi mencabut berkas sekolah Sheva. Aku akan membiarkan dia bersekolah di Surya Mentari. Aku ingin dia tetap berada di sana ….”
Sheva mengulas senyum tipis di sela rasa sedih yang melanda. Dia menghapus air mata yang menetes, matanya sudah perih. Anak seusianya sudah paham kalau ke depannya dia tidak bisa lagi bertemu sosok ibu kandung.
“Aku janji akan menjaga Sheva dengan baik. Setidaknya sampai dia bisa mengurus dirinya sendiri.” ada ketakutan besar dalam diri Emil. Dia khawatir usianya tidak akan sampai di mana Sheva bisa tumbuh besar, mengerti akan pahit dan manisnya kehidupan.
Emil menatap Sheva yang berjongkok di seberangnya. Bocah itu hanya diam, dengan mata yang sudah bengkak karena terlalu lama menangis. “Anak kita akan jadi pria tampan dan pemberani.” Emil melihat Sheva menganggukkan kepala, seolah-oleh paham dengan apa yang diucapkan. “Sama seperti Ibun,” sambungnya, kini dia tersenyum tipis, berusaha mengusir getir di hatinya.
Hembusan angin perlahan mulai kencang, awan pekat tiba-tiba saja mengarah ke posisi mereka berdua. Suasana pun berubah lebih redup, matahari yang tadi masih terlihat benar-benar tertutup awan abu gelap. Emil yang khawatir mulai membujuk Sheva untuk pulang.
Sayangnya, Sheva kekeh berjongkok di samping pusara Ibunnya. “Ayo lari, Sheva! Udah gerimis nih!” ajak Emil menyadari rintik hujan mulai mengarah ke posisinya. Dia berlari sengaja meminta Sheva untuk mengejarnya.
Sheva berlari seraya tertawa tanpa suara, dia benar-benar mengejar Emil yang sudah berlari jauh darinya. Namun, saat hampir tiba di dekat Emil, Sheva sengaja menghentikan langkahnya, membiarkan air hujan menyirami tubuhnya. Dia memilih berjalan pelan, bukan karena lelah dan pasrah. Tapi, dia ingin membuang semua impiannya. Membiarkan air hujan yang menetes turun membawa pergi mimpinya. Sheva seperti anak lain yang berkeinginan tidur di tengah papa dan mamanya. Dan semua harus dia pupus, saat mendapati kenyataan kalau mama yang dia impikan sudah pergi jauh dan tak akan bisa dia temui lagi.
‘Terima kasih, Ibun … terima kasih sudah melahirkan Sheva. Terima kasih sudah bersedia muncul di depan Sheva walau hanya sebentar ….’ Sheva menekuri jalanan berpaving itu, setiap langkah yang ia lakukan selalu mengucapkan kata terima kasih yang ditujukan untuk Chika dan di akhiri dengan kalimat … semoga kita bisa berjumpa lagi, Ibun.’
__ADS_1
“Sheva! Ayo!” teriakan Emil membuat Sheva mendongak ke arah pria. Dia meringis, saat menyadari bajunya sudah basah kuyup. Tak lama ia kembali berlari mengejar sang papa yang hampir tiba di mobil. Tiba-tiba saja ia memeluk Emil dari belakang, membiarkan dia memejamkan matanya rapat seraya menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
Jari-jarinya yang berada tepat di depan perut Emil bergerak pelan, berbicara menggunakan bahasa isyarat. Sheva sedang mengutarakan isi hatinya.
Emil yang paham membalas apa yang tenga disampaikan Sheva. “Papa juga sayang banget sama Sheva. Ayo kita pulang, kita tidak boleh jadi sad boy, karena bagaimanapun waktu akan terus berjalan. Okey!”
Di balik tubuh Emil, Sheva menganggukkan kepalanya. Segera Sheva melepas pelukannya, berputar untuk masuk ke dalam mobil.
Hari ini Kania memang tidak ikut pergi ke makam. Karena kebetulan dia sedang tidak enak badan. Wanita itu terlihat canggung seusai kejadian yang dialami bersama Emil, semalam. Bahkan, tadi pagi ia meminta izin untuk mengundurkan diri karena tidak nyaman dengan situasi yang tengah menimpa mereka.
Tapi Emil kembali menegaskan padanya, kalau dialah yang salah. Dia seharusnya tidak mengatakan itu pada Kania. Kerena bagaimana pun Kania benar, dia wajib mendapatkan kebahagiaannya. Mendapatkan cinta dari orang yang tulus menyayanginya.
Ketika tiba di rumah, Sheva langsung berlari menuju kamar Kania. Dia menyerahkan pesanan Kania yang meminta untuk dibawakan bakso. Dengan senang hati Sheva membelikannya bersama Emil. Bahkan, Sheva makan bersama di dalam kamar wanita itu.
Suasana duka di rumah Emil tak beda jauh dengan yang ada di rumah Gangga. Airin sejak kemarin demam, dia yang paling dekat dengan Chika merasa kehilangan sosok wanita itu. Begitupun ibu dari Gangga, ibu Aini. Wanita itu masih dirundung duka yang mendalam atas kepergian Chika.
“Seharusnya kemarin kamu biarkan Airin membuka kain kafannya, setidaknya Airin bisa melihat wajah Chika untuk yang terakhir kali.” ibu Aini memarahi Gangga.
Relasi Gangga memang banyak. Jadi, dia bisa dengan mudah merancang proses pemakaman itu. Dia hanya perlu menutup mulut perawat yang pertama kali mengurus Chika, membungkamnya dengan uang, supaya bisa menjaga rahasianya.
“Dokter yang melarang Gangga, Ma! Dan Gangga juga tidak bisa melanggar aturan dokter.”
__ADS_1
Bu Aini berdecak pelan, “Andai Chika mau tinggal di sini. Andai saja, hari itu mama sadar kenapa dia nggak segera mengangkat panggilan suara dari mama. Pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Chika masih bisa bersama kita, dan kondisi Airin tidak akan drop seperti ini. Dia begitu menyayangi Chika, bahkan sudah menganggap Chika seperti ibu kandungnya. Dia tahu kalau Chika tulus menyayanginya,” papar Bu Aini, dia tampak terpukul dengan kepergian Chika.
Gangga tak tahan untuk mengatakan kalau Chika masih hidup. Tapi dia tidak mau melanggar sumpahnya sendiri. “Semua akan kembali seperti semula, Ma. Airin akan baik-baik saja.”
Gangga merogoh saku celana saat merasakan getaran dari ponselnya. Dia keluar dari kamar Airin saat mengetahui kalau panggilan itu berasal dari salah satu dokter di rumah sakit.
“Cocok?” cercanya pertama kali.
“Ya, DNA nya cocok denganmu. Bagaimana bisa Fanni menyembunyikan ini darimu?”
Cengkraman di tangan Gangga mengerat. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang menyebabkan Fanni menyembunyikan semua ini darinya. Padahal kalau dulu dia mengatakan yang sejujurnya dia akan memilih tinggal bersama Fanni.
"Aku juga tidak tahu ...." helaan napas panjang Gangga lakukan. Ada raut kecewa ang tersirat di wajahnya.
“Tapi terlambat, Ngga! Semua sudah terlambat!”
“Kenapa?” tanya Gangga, cepat.
“Besok pagi dia akan menikah.”
Tentu saja Gangga terkejut karena menurutnya, Fanni tidak akan menikah selain dengan dirinya. “Enggak mungkin! Kemarin dia masih sendiri.”
__ADS_1
“Aku dengar sendiri dari anak-anak. Bahkan ada yang mendapat undangan pernikahannya.”
Tanpa merespon lagi, Gangga lekas menutup panggilan itu. Dia buru-buru masuk ke dalam kamarnya, mengambil jaket yang ia letakan di atas ranjang, segera berlari keluar rumah untuk menemui Tiffani.