Begin Again

Begin Again
Mungkin Salah Satunya Kamu!


__ADS_3

...Selamat Membaca...


...Tinggalkan komentar banyak-banyak ya! 🤗...


...****************...


INGIN rasanya Chika meninggalkan pertemuannya dengan Tiffani siang ini. Hatinya gundah, ia benar-benar terkekang dengan situasi yang saat ini tengah dialaminya. Raganya memang sedang berada di dalam ruko dua lantai, tapi pikirannya tak bisa fokus untuk memilih cincin pernikahan.


Terlebih lagi, saat teringat janjinya pada Emil. Rasa bersalah, kecewa bercampur menjadi satu. Ia kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak mampu mengakhiri semuanya.


“Kamu pilih yang mana, Chika?” Bu Aini, wanita berusia hampir 60 tahun itu membuyarkan lamunan Chika. Beliau menyodorkan beberapa kotak perhiasan ke arahnya.


Perlu diketahui, tadi Gangga hanya mengantar mereka berdua ke kantor WO yang akan menangani pernikahan mereka berdua. Pria itu cabut gitu aja, karena ada urusan mendadak.


“Em, terserah Ibu saja.” Chika tampak tidak bersemangat. Di pikirannya kini isinya hanya Sheva. Apalagi, saat Emil mengirimkan pesan padanya kapan ia akan datang. Otaknya mendadak blank, ingin segera mengakhiri pertemuannya.


Bu Aini tersenyum ramah, sejenak ia mengamati perhiasan di hadapannya. Tak lama kemudian ja menyodorkan sekotak perhiasan ke arah Tiffani. “Ini saja!”


Tiffani beranjak, hendak menyimpan sekotak perhiasan yang disodorkan Bu Aini. Tapi suara wanita tua itu kembali menginterupsi.


“Apa kamu sudah berkeluarga, Fani?”


Wanita itu tampak tersenyum canggung, lalu menggeleng pelan, sebagai jawaban.


Sejak tadi, meski pikirannya berkeliaran. Chika juga memerhatikan Tiffani yang sedikit berubah. Wanita itu lebih pendiam. Berbeda jauh saat pertemuannya dengan Gangga beberapa hari yang lalu.


“Jodoh kamu kenapa jauh juga, ya?” Bu aini terkekeh. “Kapan kamu nikah? Gangga sudah hampir dua kali loh, mau jadi perawan tua?”


Tiffani memutar kembali tubuhnya menghadap Bu Aini. “Ibu kapan mati?” tanya Tiffani, nadanya terdengar jelas tengah menahan emosi.


Chika yang mendengar pun ikut terkesiap. Padahal ia sangat menghargai Bu Aini, karena selama ini beliau bersikap baik padanya. Tapi kenapa, di mata Tiffani seolah-olah Bu Aini adalah orang yang kejam, atau ini hanyalah perasaanya saja?


“Astagfirullah ….” Bu Aini mengusap dadanya naik-turun. “Berani, kamu kurang ajar sama orang tua ya?!” Bu Aini terlihat marah.


Chika semakin bingung harus membela yang mana. Haruskah dia menelpon Gangga?


“Loh ada yang salah dengan pertanyaan saya? Jodoh itu hanya Allah yang tahu! Sama halnya dengan kematian. Itu rahasia, jadi jangan tanya kepastian sama saya!”


Chika yang mendapati interaksi dua orang itu hanya bisa tercenung. Keduanya seakan menyimpan urusan yang belum selesai.


“Ibu kenal sama, Mbak Fani?” Chika tidak bisa menahan rasa penasaran yang kini hinggap di dirinya.


“Gangga nggak cerita sama kamu?” Bu Aini justru balik bertanya, sembari menatap punggung Tiffani yang semakin menjauh dari kursinya.


“Enggak.” Chika menggeleng pelan.


“Ow ….” Hanya itu respon yang ditunjukan Bu Aini, dan jawabannya itu sama sekali tidak menjawab apa yang ingin diketahui Chika.


Haruskah dia mencaritahu sendiri, siapa Tiffani dan apa hubungannya dengan keluarga ini?

__ADS_1


Pintu ruangan kembali terbuka, kepala Tiffani muncul dari sela pintu yang sedikit terbuka.


“Mbak Chika, bisa ke sini sebentar!” mintanya pada Chika.


Chika menoleh ke arah calon mertuanya, seakan meminta izin.


“Kita ukur dulu di ring berapa jari mbak Chika.” Wanita berkaca mata itu berusaha memahami kebingungan Chika.


“Bu, Chika ke sana dulu ya?!” pamit Chika, tanpa menunggu Bu Aini mengangguk Chika berjalan menghampiri Tiffani. Mungkin ini kesempatan untuk mengolek lebih dalam lagi informasi tentang Tiffani.


Chika mengikuti langkah Tiffani yang berjalan menuju ruangan yang tak jauh dari ruang pertemuannya tadi. Di tempat itu hanya ada mereka berdua. Situasi ini seolah mendukung Chika yang ingin tahu tentang Tiffani.


Wanita itu dengan cermat mengukur jari manis Chika. Sedangkan Chika kini hanya diam mengamati raut sendu yang ditampilkan Tiffani. Sesekali ia tersenyum saat Tiffani menatapnya.


“Maaf.” Chika membuka suara, setelah proses pengukuran nyaris rampung. “A—apa, Mbak Fani kenal dengan keluarganya Mas Gangga?”


Tiffani tampak terkejut dengan pertanyaan yang dilemparkan Chika. Dia hanya menganggukan kepala.


“Kalau almarhum mamanya Airin? Mbak kenal juga?”


“Tahu.” Tiffani menjawab singkat, lagi.


Chika mengangguk. Sejauh ini dia belum menemukan jawaban yang pas dengan rasa penasaran yang kini menderanya.


“O, ya. Untuk pertemuan berikutnya … mungkin kalian akan bertemu dengan pegawai saya. Jadi enggak papa, kan Mbak Chika?” ujarnya memberitahu.


“Loh, memangnya kenapa, Mbak? Apa karena kejadian hari ini?”


Chika menggenggam jemari Tiffani, menggenggamnya erat. “katakan padaku, Mbak, siapa tahu kita bisa bekerja sama!”


Tiffani terkekeh lalu berkata, “Kamu nggak tahu apa-apa! Lebih baik kamu fokus dengan pernikahan. Dan semoga acara lancar sampai hari H.” Tiffani meletakkan kembali beberapa ring yang ada di tangannya.


“Saya justru berharap kalau pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.”


Tiffani tampak terkejut mendengar pengakuan Chika, tapi secepat kilat wanita itu menyembunyikannya. “Jangan begitu, Gangga orang baik. Dia penyayang, jadi jangan sampai pernikahan kalian gagal!” pesannya.


“Kita enggak saling cinta. Semua itu karena—


“Lalu, untuk apa kamu mengatakan padaku!” potong Tiffani, kepalanya mendongak, terlihat jelas wanita itu tengah menahan tangis.


“Misal dugaanku benar. Siapa tahu kalian memang sebenarnya berjodoh. Mungkin ….”


“Omong kosong! Tidak perlu kau melakukan apapun. Cukup kamu menikah dengannya, dan aku mendapat bayaran besar. Itu saja sudah cukup!”


“Kalau saya jadi menikah dengan Mas Gangga, itu artinya, ada banyak orang yang tersakiti atas pernikahan ini?” Chika menjeda. “Mungkin salah satunya kamu!”


“Dia cuma pria yang hidup di masa lalu aku, ya ….”


“Masa lalu yang belum selesai? karena itu selesaikan dulu sampai kalian berakhir bahagia. Aku yakin Mbak Fani orang baik. Hanya saja, ada beberapa orang yang tidak menyukai hubungan kalian.”

__ADS_1


“Jangan sok tahu, deh!” sentak Tiffani, dia sepetinya tidak menyukai ada orang yang mencampuri urusannya.


“Saya pernah mengalaminya! Saya pernah melewati di masa itu, Mbak! jangan sampai keputusan Mbak Fani, justru membuat luka yang semakin besar.” Chika menarik napas dalam, lalu membuangnya pelan. “Kalau mbak masih mencintai Mas Gangga tolong perjuangkan!”


“Enggak usah ikut campur deh, Mbak Chika.”


“Hubungi saya kalau mbak butuh bantuan.” Chika berpesan sebelum berjalan keluar ruangan. Sebenarnya ia juga baru menebak kalau Tiffani dan Gangga memiliki hubungan di masa lalu. Tapi rupanya itu memang benar pernah terjadi. Kalau keduanya masih saling mencintai, berarti ia masih memiliki kesempatan untuk kabur dari genggaman Gangga.


Tiba di ruangan yang ditempati calon mertuanya Chika tersenyum cerah ke arah Bu Aini.


“Lama banget!” keluh wanita itu, memasang wajah kesal.


“Iya, Bu … jari Chika soalnya pendek dan kecil jadi susah milihnya." Chika meringis. "mau pulang sekarang?” tawar Chika.


“Boleh.”


Chika menuntun ibu Aini untuk keluar dari kantor WO milik Tiffani. Berjalan menuju trotoar untuk menunggu taksi lewat.


Tiba di rumah Gangga pun Chika langsung izin pulang, karena ini sudah sore. Kalau banyak keluarga besar yang datang, biasanya Aira akan lupa dengannya. Gadi kecilnya itu selalu senang berkumpul dengan mereka. Hingga kehadirannya pun sedikit terlupakan.


Sebelum mengatakan pada sang sopir taksi tentang tujuannya, Chika lebih dulu menghubungi nomor Emil melalui panggilan suara.


“Ya Allah, kenapa nggak datang-datang sih!”


Suara protes terdengar begitu lantang menyapa gendang telinga Chika.


“Maaf. Kak Emil masih di rumah sakit, kan?” tanya Chika.


“Tuh, kan? Pesanku saja nggak kamu baca!”


“O, ya? aku baru pegang hape. Sorry aku sibuk hari ini.” Chika mengusap hidungnya yang mendadak gatal, ia masih harus berbohong lagi. Mungkin setelah bertemu Emil ia akan menceritakan semuanya. “Jadi kakak sekarang di mana?”


“Aku sudah di rumah.”


Chika tersenyum lega, itu artinya Sheva sudah baik-baik saja. “Mau dibawain apa?” tawarnya.


“Buat aku apa Sheva?” tanya Emil dengan nada menggoda.


“Dua-duanya.”


“Bawain cinta yang banyak saja untuk kami!”


"Belinya di mana?"


"Mungut di pinggir jalan!"


Chika tertawa tanpa suara, pipinya pun ikut merona, entah reaksi tubuhnya begitu aneh saat ini. Padahal hanya mendengar suara Emil yang terdengar centil sambil tertawa. “Aku perjalanan ke rumahmu.”


“Rumahku yang akan menjadi rumah kita.”

__ADS_1


"Ya." Setelah itu Chika menutup panggilannya, lalu menyuruh sopir taksi itu untuk segera menjalankan mobilnya. Ia khawatir Airin akan melihatnya dan mencegahnya pergi.


Di perjalanan, Chika sengaja mampir ke beberapa toko, mencari buah tangan untuk Sheva serta papanya. Rasanya begitu antusias menyiapkan hadiah spesial untuk Sheva.


__ADS_2