
Sesuai dengan janji yang Emil ucapkan semalam kepada Sheva. Pagi ini, adalah waktu dia menuruti putranya untuk pergi ke warung makan Bu Jamal. Tujuannya cuma satu, yaitu sarapan soto bersama.
Namun, ketika mobilnya berhenti di halaman warung makan itu. Suasana warung tampak sepi, tidak ada seorang pun di sana karena hari Minggu yang jatuh di Minggu ke empat warung makan Bu Jamal akan tutup.
Bu Jamal sengaja meliburkan diri, mengistirahatkan tubuhnya setelah 30 hari bekerja keras. Dia juga membebaskan kedua putrinya bersama Ika untuk beristirahat atau pergi berlibur.
“Yah tutup, deh!” wajah Sheva tampak kecewa mendapati pintu warung makan yang tertutup rapat. Dia menatap Papa Emil dengan mata berair.
“Kita cari soto di dekat depok aja, yuk!” bujuk Sheva.
“Papa mau Sheva pingsan di jalan?! Perjalanan Purwodadi- Solo itu dua jam lebih, bagaimana bisa papa membiarkan anakmu ini kelaparan!” omel Sheva.
“Ya, sudah kita cari soto sepanjang jalan purwodadi-Solo. Pasti ada yang jualan soto.” Emil berusaha membujuk karena tidak mungkin mereka berdua kembali ke rumah pak Aiman untuk makan pagi. Sedangkan tadi … mereka sudah pamitan hendak pulang ke Solo.
Sheva berdecak pelan, tidak ada kesempatan lagi untuk bertemu Ibun. Dia kemarin lupa meminta nomor ponsel jadi, tidak bisa bertukar kabar pada Chika. Secercah harapan muncul saat terdengar suara pintu terbuka lebar.
“Hei Sheva!” seru seseorang yang baru saja keluar dari dalam rumah. Wanita itu adalah bu Jamal yang kebetulan ditinggal mereka semua untuk liburan.
“Apa mbak Rini ada, Ibu?” tanya Sheva, dia ngotot ingin bertemu dengan Rini. Padahal sejujurnya ia ingin bertemu Ibun. Tentu saja, Emil yang berdiri di sampingnya, bisa merasakan kejanggalan.
“Rini? Pagi-pagi tadi mereka pada liburan ke candi Joglo.”
“Mbak Ika juga ikut?” tanya Sheva, berusaha memahami apa yang diketahui. Kalau dia menyebut nama ibun Chika pasti bu Jamal akan bingung, lebih parah lagi sang papa. Pasti akan langsung menyeretnya pulang.
“Iya, tapi deket aja. Kok! Paling nggak sampai jam dua belas sudah pulang.” Bu jamal berusaha, menjelaskan.
“Papa, kita ke candi ya! kita nyari sarapan di sana, gimana?” tawar Sheva, tiba-tiba muncul ide tersebut.
__ADS_1
“Nak …”
Sheva membuang napas jengah. “Pah ….”
Emil kesal dengan Sheva karena lagi-lagi dia harus mengalah dengan putranya. Bocah itu semakin pintar melontarkan kalimat cibiran jika dia menolak permintaanya. “Ya, sudah naik!” minta Emil.
Sheva tampak riang, dia berpamitan pada bu Jamal, kemudian berlari masuk ke mobil. Belum juga Emil duduk di balik kemudi, Sheva sudah sibuk dengan ponselnya. Meminta petunjuk arah ke candi Joglo.
“Cuma lima kilo, Pah! Deket kok,” ucapnya ketika Emil duduk di balik kemudi.
Kaki Emil mulai menginjak pedal gas-mobilnya. Berusaha mengikuti petunjuk ke mana ponsel Sheva memberi petunjuk.
Jarak lima kilo tidaklah jauh jika ditempuh dengan mobil milik Emil. Tapi dengan medan jalanan di dusun Siluman seperti ini, mereka memakan waktu 20 menit lebih untuk tiba di lokasi.
Tiba di candi Joglo, matahari terasa menyengat mengenai kulit Sheva. Hiruk-pikuk orang yang berkunjung membuat jalan pintu masuk terlihat padat. Mereka masuk mencari tempat ternyaman.
“Hari ini pokoknya papa nurut sama Sheva!” ucap Sheva. “Papa harus memenuhi keinginan Sheva. Okay!”
“Terserah, deh! Yang penting, kita cari makan dulu. papa sudah lapar,” ucap Emil, menuntun Sheva ke arah pedagang yang berjajar rapi di sisi kiri.
Saat Emil membawanya duduk di salah satu kursi. Sheva mulai memutar otak. Memikirkan cara bagaimana bisa menemukan ibun Chika di tengah keramaian seperti ini, dia tidak mungkin menatap wajah mereka satu persatu.
Hingga akhirnya, Sheva menemukan ide cemerlang. Yang risiko kegagalannya nyaris tidak ada. Sarapan kini sudah tersaji di atas meja, mereka berdua mulai sarapan, tanpa peduli dengan keadaan sekitar.
“Sotonya enak ya, Pah!” puji Sheva, setelah beberapa suap makanan masuk ke mulutnya. Dia begitu menikmati setiap suapan soto kwali itu.
“Biasa saja,” balas Emil, lirih. Sungkan kalau didengar penjual. Rasanya tak lebih enak, dari soto yang dimakan Chika malam-malam itu.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit mereka duduk di sana. Sebelum sang papa membawanya pergi Sheva meminta izin untuk pergi ke toilet. Dia sengaja meninggalkan ponselnya di atas meja. Supaya bisa melancarkan rencana yang sudah dia susun. “Pa, Sheva kebelet pipis!”
Emil yang tengah fokus ke arah layar melirik ke arah Sheva. “Kebiasaan kamu!” cibirnya. “Ayo papa antarin.”
“Nggak usah, Pa!” tolak Sheva. “Sheva mau pup! Pasti lama, lagian toiletnya cuma di situ!” Sheva menunjuk bilik toilet yang masih terlihat dari posisinya mereka saat ini.
“Ya sudah papa tunggu sini, ya!” pesan Emil.
Sheva mengangguk pelan. Dia melesat jauh setelah mendapatkan izin dari Emil. Tujuannya bukan ke toilet, melainkan ke tempat pengaduan.
Setelah tiba di depan pos pengaduan, Sheva menunggu sesaat, supaya sang papa tidak curiga jika ini rencananya. Dia duduk di bawah pohon rimbun, sambil mencari-cari keberadaan Ibun Chika.
Memasuki menit ke dua puluh, Sheva beranjak dari posisi duduknya. Dia mendekat ke arah pria yang saat ini mengenakan seragam security. “Bapak mau bantu saya?” tanya Sheva. Membuat pria tegap itu menatapnya bingung.
“Adik kenapa? Mana orang tuamu?” tanya petugas ke amanan.
“Saya nggak tahu keberadaan orang tua saya.” Mata Sheva berkaca-kaca, bibirnya dibuat bergetar, seperti anak kecil yang hendak menangis. “Bisa tolong antar. Tolong buat pengumunan! Kalau ada anak bernama Sheva Elyan, berusia 11 tahun, tersesat di gedung teather. Apa bisa bapak bantu saya!” air mata palsu Sheva jatuh membasahi pipi. Sebenarnya dia tidak pandai berbohong. Tapi cuma cara ini yang bisa membuat ibun dan Papa ketemu lagi. Dia tidak tahu keberadaan Ibunnya, dia hanya bisa melakukan itu sebelum kembali ke kota Solo. Supaya dia tidak kehilangan jejak Ibun lagi.
“Please, Pak!”
“Orang kamu di sini! Kenapa harus bilang di gedung teather.” Pria itu mengambil mic. Tapi lekas di tahan oleh tangan Sheva. “Udah kamu tunggu sini saja!” pria itu sedikit tegas kepada Sheva.
“Nggak, Pak! Di sana saja … kebetulan saya mau ke kembali ke sana untuk mengambil tas saya yang tertinggal.” Tangan Sheva bergetar, karena terlalu banyak berbohong. Beruntung penjaga keamanan itu tidak menyadari apa yang dilakukan Sheva. Dia langsung menuruti apa yang diperintahkan Sheva.
“Perhatian! Perhatian! Mohon perhatiannya sebentar! Bagi pengunjung yang memiliki anak laki-laki berusia 11 tahun. Bernama Sheva Elyan, mohon datang ke gedung teather. Karena bocah itu, sedang menunggu orang tuanya di sana. Dia lepas dari rombongan. Perhatian! Mohon perhatian, bagi yang kehilangan anak bernama Sheva - ….
Suara itu terus mengudara, sedangkan Sheva buru-buru berlari menuju gedung teather. Menunggu kedatangan papa dan Ibun.
__ADS_1