Begin Again

Begin Again
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Saat ini Emil tidak datang sendiri ke tempat lokasi. Seorang pria berkaus biru duduk di belakang tubuhnya. Dia sengaja membawa tukang tambal ban ke lokasi untuk membantu memperbaiki ban-nya yang kempes.


Sebenarnya, dia mampu mengganti ban tersebut. Tapi, dia dikejar waktu pertemuannya dengan pengusaha kayu. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu.


Kemacetan cukup panjang terjadi saat motor yang dikemudikan Emil hampir tiba di mana Kania berada. Jalanan itu cukup sempit, jadi harus bergantian untuk bisa melewatinya.


"Itu Pak mobil saya!" Emil menunjuk saat motor yang ia kendarai hampir tiba di lokasi. Setelah berhasil memarkirkan motornya di tepi jalan, Emil lekas menghampiri mobilnya.


"Di dalam sudah ada dongkrak, Pak. Ban serepnya ada juga, tapi kalau saya menunggu Bapak, saya sendiri akan terlambat. Jadi minta tolong ya, Pak!" minta Emil.


"Baik, Pak. Mobilnya mau diantar ke mana?" tanya pria itu.


"Nanti biar saya yang ngambil sendiri ke bengkel, Pak." Emil menjawab sembari mendekati Sheva. "Ayo biar aku yang mengantar kalian ke yayasan, mobilnya sudah aku titipkan ke montir. Biar dia yang bawa. Kalian naik motor ya?" tawar Emil.


"Pak Emil bawa helm?" Kania berusaha mencaritahu.


"Ada sih tadi pinjam satu punya tukang tambal ban. Kalau kamu nggak mau biar aku yang Makai. Kamu pakai punyaku!" Emil menyadari arti tatapan Kania yang bingung.


Setelah wanita itu menyetujui, Emil lekas meminta Sheva untuk segera naik motor. Sheva kini diminta untuk berdiri di depan sedangkan Kania duduk di bagian belakang, menggantikan posisi tukang ban tadi. 


Di atas motor yang sudah melaju pelan, Kania terus mengajak ngobrol Emil, membicarakan tentang niat pertemuan hari ini dengan kepala yayasan Surya Mentari. Banyak hal yang dibicarakan, soal keputusan yang akan ia ambil nanti.


"Terserah kamu saja, Nia. Aku tahu pilihanmu selalu tepat," ungkap Emil saat Kania meminta persetujuan darinya. Motor Emil terus melaju, hingga lima menit berlalu mereka bertiga sudah tiba di gedung yayasan Surya Mentari. Emil menurunkan mereka tepat di depan pintu gerbang yayasan.

__ADS_1


"Nanti biar saya dan Sheva naik taksi, Pak."


"Nggak perlu, kamu bisa menungguku di sini dulu. Aku ada pertemuan dengan temanku, sebentar saja kok, mungkin nggak akan sampai pukul sepuluh. Kamu bisa kan ajak Sheva main dulu, sekalian nunggu aku datang," minta Emil.


Kania mengangguk, pelan. "Bisa kok, Pak."


"Ya, sudah kalau begitu, helmnya kamu bawa, ya!" Emil menatap Sheva yang sudah tidak sabaran ingin segera masuk. "Sheva, Sheva, Sheva!" panggil Emil berulangkali saat anaknya tidak mau fokus ke arahnya. "Nurut sama kak Nia ya!" minta Emil, tidak peduli meski suaranya tidak direspon oleh Sheva.


"Kalian masuk dulu, aku akan menelepon nanti kalau sudah tiba di sini," pesan Emil.


"Baik, Pak!" Kania menggandeng tangan mungil anak asuhnya. Sheva berlari kecil sambil menatap ke arah taman bermain, dia seolah tak sabar ingin bermain di tempat tersebut.


"Sheva, kita akan main sepuasnya hari ini. Tapi … kita temui kepala yayasan dulu, okey! Biar nanti Sheva juga bisa sekolah di sini. Okey?" Melihat Sheva mengangguk, Kania lekas menuntun anak asuhnya itu untuk menemui pemilik yayasan.


Saat tiba di depan ruang kepala yayasan, Kania segera mengetuk pintu di depannya. Setelah mendapatkan sahutan, tangannya mendorong pintu kayu tersebut. Kania menatap pria jangkung yang tengah sibuk dengan kertas dan pena.


"Selamat pagi, Pak." Dengan berat hati Kania menyapa terlebih dahulu. "Maaf saya sudah membuat janji dengan kepala yayasan untuk bertemu hari ini. Apa Anda melihat kepala yayasan di sini?" tanya Kania. 


"Kamu mau apa?" Pria itu justru balik tanya, mengunci pandangan Kania dengan pandangan dingin.


"Saya sudah membuat janji, hendak memasukan anak asuh saya." 


Pria di balik meja itu menatap ke arah Sheva, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. 

__ADS_1


"Hallo, kamu di mana?" tanya Gangga, saat mendengar sapaan wanita di ujung panggilan. 


"Ada masalah, Pak?"


"Apa kamu yang membalas pesan email yang masuk."


"Apa mereka sudah datang?"


"Jadi benar? Aku, kan suda—


Gerutuan Gangga terputus, semakin kesal. Ia butuh waktu sejenak untuk meminta Kania duduk di bangku yang ada di depannya. 


"Jadi, siapa dia? Bisa tolong kenalkan dulu!" perintah Gangga tidak lepas menatap Sheva.


Saat Kania hendak menjawab pertanyaan Gangga, pintu ruangan didorong kasat dari arah luar. Sosok wanita yang tadi di telepon Gangga, berdiri tegap di ambang pintu.


Tak lama wanita itu berjalan memasuki ruang kepala yayasa, lalu berdiri di samping meja yang Gangga tempati. 


"Ma—aaf …." Wanita itu mengucapkan maaf dengan tulus saat mendapati tatapan Kania.


"Lanjutkan!" perintah Gangga pada Kania.


"Dia Sheva, Pak, Bu. Sheva Elyan Handoko, usianya baru 6 tahun 2 bulan. Dia pintar, punya banyak prestasi tapi dia juga punya kekurangan, karena sampai detik ini dia hanya bisa mengucapkan satu kata …. Mam. Mohon berkenan menerimanya untuk belajar di tempat ini."

__ADS_1


Chika yang berdiri di samping Gangga membeku, tatapannya tertuju ke arah Sheva yang tengah menunduk dalam, seakan takut kalau pria kecil itu tidak diterima di yayasan.


__ADS_2