Begin Again

Begin Again
Angin Segar


__ADS_3

Satu bulan berada di Solo, kehidupan Emil perlahan kembali normal. Toko furniture yang ditinggalkan kakeknya masih berproses untuk bangkit. Berusaha memenuhi permintaan konsumen masa kini.


Untuk bahan baku, Emil memutuskan bekerja sama dengan salah satu supplier jati belanda yang ada di Solo. Kebetulan dia mengenal baik dengan wanita yang menjadi owner-nya.


Dua orang yang masih setia padanya mulai berproduksi. Membuat produk sampel untuk dipajang di galeri, berusaha menarik pembeli. Meski belum banyak yang datang, tapi setiap orang yang berhenti di lampu merah di depan rukonya, kebanyakan menoleh ke arah kanan, seakan memerhatikan apa yang dijualnya saat ini.


Saat Emil sedang asyik ngobrol dengan tetangga ruko. Sebuah nada dering panggilan, menarik perhatiannya. Membaca nama Nia Kania, Emil lekas menerima panggilan tersebut.


“Ada apa, Nia?” tanyanya pertama kali.


“Pak, saya tidak bisa jemput Sheva. Saya habis kepleset di kamar mandi. Kaki saya terkilir. Rasanya sakit banget buat jalan.” Kania menjelaskan alasan dia menelepon pria itu.


Emil menatap jam di tangannya, masih 30 menit lagi jam kepulangan Sheva. “Kok bisa kamu terkilir? Sekarang gimana kondisi kakimu? Aku panggilkan tukang urut ya? kamu ini ada-ada aja deh, Nia!” cecar Emil.


“Pak, udah ya! Saya cuma mau lapor itu! Kasihan Sheva kalau Pak Emik telat jemput. Udah ada bu Suti yang kebetulan bisa urut kaki saya, jadi please jangan memaki saya lagi!”


Emil berdecak sebal saat mendengar suara Kania yang meninggi. “makanya lain kali itu hati-hati, Nia. Kamu pasti lupa nyikat lantai kamar mandi kamarmu, kan?” Emil yang sekarang berubah jadi lebih cerewet. Sikap yang dulu beku mulai mencair. Dan itu semua, efek dari pertemuannya dengan konsumen.


“Siap, Pak!”


“Sekarang, di mana bu Suti? Berikan ponselmu padanya!” perintah Emil yang langsung dilaksanakan oleh Kania.

__ADS_1


Emil kini berganti berbicara pada Bu Suti. Dia terus mewanti-wanti bu Suti, supaya hati-hati dalam mengurut kaki Kania. Takutnya dia salah urut malah jadi masalah. Setelah memberi pesan itu pada bu Suti, Emil menutup panggilannya. Bersiap menjemput Sheva.


Jarak antara sekolah dan ruko, memang sedikit jauh. Jadi Emil memilih berangkat sekarang dan menunggu di sana. Dia tidak mau membuat Sheva menunggu sendirian di depan kelas.


“Pak, saya jemput anak saya dulu, ya! nanti kalau masih sempat saya akan mampir lagi.” pamit Emil, yang sudah berada di dalam rukonya.


“Baik, Mas Emil.”


Jalanan yang biasa dilewati Emil terasa lenggang. Tidak sampai lima belas menit, ia sudah berada di area sekolah Sheva. Emil turun dari mobil, ingin berkumpul dengan ibu-ibu yang tengah menunggu anak-anaknya di depan pagar. Niatnya bukan mengajak mereka ngobrol. Tapi dia hanya ingin menunggu putranya di depan pagar.


Telinga Emil terlalu sering mendengar celotehan tentang Sheva dari kanan-kiri. Tapi kali ini, suaranya begitu menganggu pendengarannya.


“Kok betah yo Mbak? Duda loh, seumuran anake wedhok.” (Kok tahan ya, Kak? Duda loh, usianya sama dengan anak perempuannya) wanita itu mulai antusias membicarakan kepala sekolah yang baru saja memasuki area sekolahan.


“Sek, sek bocahe kuwi umur piro toh?” (tunggu-tunggu, anaknya itu usia berapa, sih?) ibu berbaju pink ikut penasaran.


“Yo, barengane Marsha to, wong yo sekelas kok.” (Ya, sama dengan Marsha, kan satu kelas.)


“Owalah, aku gak pernah menangi rupane ibuke sih.” (Ow, aku belum pernah melihat wajah ibunya sih)


“Ayu yoan! Mirip-mirip bu Chika.” (Cantik juga! Seperti Bu Chika)

__ADS_1


“Ow, tak kiro bu Chika ki ibune, bae dudu, to?” (Ow, aku pikir Bu Chika itu ibunya, ternyata bukan ya?)


“Yen wong rangerti ngirone yo ngono! Jare le kondo bu Putri, bu Chika le gak sreg mbi pak Gangga.” (Kalau orang tidak tahu, mereka akan berpikir begitu! kata Bu Putri, Bu Chika nggak cocok sama pak Gangga) jelasnya semakin dalam lagi mereka membicarakan Chika.


“Lah-lah? gek seng arep dipilih ki modelan kepiye maneh? jan perawan saiki mesti njaluke sing berkelas!” (Hah? yang mau dipilih kaya gimana lagi? Gadis sekarang, mintanya jodoh yang berkelas)


“Mungkin goleke sing duwite akeh!” (Mungkin, nyari yang punya uang banyak)


“Halah, duwit akeh yen gak tresno yo sami mawon!” (Halah, uang banyak kalau nggak cinta yang sama saja!)


“Yen aku yo pilih duwite sing akeh! Ngedep mbendino lakyo tresno. Aku kelingan ngendikane bapakku jarene witing tresno jalaran seko kulino.” (Kalau aku ya pasti pilih yang punya uang banuak. Bertemu terus setiap hari, pasti juga akan cinta. Aku ingat ucapannya bapak, kalau cinta itu datang karena terbiasa. )


“Iku kan, zamane awake dewe. Saiki dompet kosong yo gak tresno, Mbak. Opo-opo Saiki nganggo duwit.” (itu kan, zaman kita. Sekarang kalau dompet kosong ya nggak bisa cinta, Kak! Apa-apa sekarang butuh uang!"


Suara itu masih berlanjut, Emil yang tidak begitu paham bahasa daerah Solo, mulai mencari arti dari kalimat yang mereka katakan, yang saat ini dia tangkap adalah duda dan Gangga. Lalu ada kalimat yang membuat dia terkejut, kalau Chika tidak mau dengan Gangga. Hati Emil yang sebenarnya sudah tertutup, kini mulai mendapat udara segar.


“Pak Emil!” suara itu terdengar memanggilnya. “Bisa ikut ke ruangan saya?” setelah ia mendongak suara itu kembali menyapa indra pendengarannya.


...---...


NB : Di sini adakah yang belum baca Di Ujung Penantian? Sekarang kalian bisa baca di F I Z Z O. Yang sudah baca, boleh kok mampir, dan ngikutin lagi. Ceritanya beda, sama yang di hijau lebih detail dan akan ada lanjutannya! Jadi jangan sampai melewatkan ya! 😍

__ADS_1


__ADS_2