Begin Again

Begin Again
Berita Duka


__ADS_3

“Sheva!” seruan Emil membuat bocah kecil itu menengadah, menatapnya dengan tatapan sendu. Tampak jelas raut kecewa di wajah Sheva. Emil bisa menduga kalau putranya itu tengah merindukan Chika.


Sejak turun dari mobilnya, sore ini. Ia berusaha memanggil Sheva. Tapi sepertinya bocah kecil itu sedang melamun. “Coba lihat papa bawa apa!” pria itu memamerkan sebuah paperbag di tangan kanannya. Berusaha mengusir perasaan tidak nyaman di hati Sheva.


Namun, hal tersebut sama sekali tidak membuat Sheva tertarik. Bocah itu diam tak bergerak, sembari menggenggam erat boneka muppet pemberian Chika. Jemari di dalamnya bergerak-gerak, sangat pelan. Dan itu tak luput dari pandangan Emil, dia memerhatikan gerakan jemari putranya.


Emil yang merasa terabaikan mengeluarkan isi paperbag. Beberapa boneka tangan dengan lima macam karekter ia keluarkan. Sheva sempat tersenyum senang menyambut ke lima anggota baru yang baru saja dibawa sang papa. Tapi, hanya sesaat ketika menyadari dua boneka dari ibun jauh lebih berharga dari pemberian sang papa.


“Ma … mam?” sepasang alis bocah itu terangkat, lipatan di keningnya semakin banyak, dia berusaha bertanya tentang keberadaan wanita yang telah melahirkannya.


Dan sialnya, Emil belum menemukan jawaban yang tepat untuk diberikan pada Sheva. Pertanyaan itu bukan hanya membekukan tulangnya, tapi otaknya pun ikut beku. Dia tidak mampu berpikir jernih untuk menjawab pertanyaan se-simple itu.


Emil memasang boneka dengan karakter bebek di tangannya. Ia ingin mengalihkan perhatian Sheva dengan bermain bersamanya. Sayangnya, hingga mulutnya berbusa pun ia tidak lagi mendapat respon dari Sheva. Bocah itu hanya diam tanpa ekspresi berlebihan. Berbeda ketika Chika yang bercerita.


“Sheva! Ini papa! Papa ada di sini buat kamu!” sentak Emil, mendadak mulai emosi ketika melihat Sheva berjalan pergi meninggalkan teras rumah. Bocah itu benar-benar menunjukan ketidaksukaanya terhadap apa yang sedang ia lakukan saat ini. “Sheva dengarkan papa!” teriak Emil, ketika Sheva tetap saja melangkah. Emil berusaha memejamkan mata, meredam emosi yang kini sedang menyerang dirinya. “Sampai kapanpun Papa nggak akan ngizinin kamu ketemu mama kamu Sheva!” teriaknya, wajahnya kini sudah murka dia tidak kuasa menahan amarah, apalagi saat teringat kejadian kemarin di rumah Chika.


“Bapak!” tegur Kania, yang baru saja meletakan cangkir ke atas meja. Dia berusaha mengingatkan Emil, supaya tidak bertindak kasar pada Sheva, karena itu akan mudah ditiru oleh anak seusia Sheva.

__ADS_1


“Nggak usah ikut campur, Nia! Ini masalahku kamu tidak tahu apa yang terjadi!” ketus Emil sembari berjalan mengejar Sheva yang hendak berlari ke samping rumah.


Belum juga pria itu melangkah jauh. Kedatangan Gangga di rumahnya membuat wajah Emil tampak begitu murka. Tak ada sorot ramah yang ditunjukan Emil saat ini. Dia benar-benar ingin menghajar Gangga yang berlagak sok polos itu.


“Untuk apa kau ke rumahku, hah?!” hardiknya. Bahkan saat Gangga belum tiba sepenuhnya di depan Emil. Pria itu tidak peduli kalau teriakannya menarik perhatian Sheva.


“Bisa nggak kamu menurunkan emosimu dulu!” pesan Gangga dengan nada kasar Melihat amarah Emil masih berapi-api. Ia mengambil selembar kertas edaran dari dalam saku kemejanya. “Aku pikir kamu sudah tahu! Tadinya aku ingin menunggumu kedatangan kalian. Tapi, hingga waktunya tiba aku tidak melihat empati sedikitpun dari kamu!”


Emil menerima kertas putih yang disodorkan Gangga. Dia membukanya kasar, merasa tidak sabaran untuk mengetahui maksud kedatangan pria itu. Sesaat kemudian mata Emil membulat sempurna saat membaca inti surat edaran yang ingin menyampaikan kabar duka.


“Kau bohong, kan? Ini bukan Chika! Kau membohongiku!” teriak Emil dengan otot leher yang begitu tegang.


Kania yang mendengar sampai mendekat ke arah Emil. Dia buru-buru mengambil alih kertas itu. Sesaat berlalu ia menutup mulutnya, dalam hatinya tidak percaya kalau wanita yang kemarin baru saja ditemui olehnya pergi begitu cepat.


“Usia tidak ada yang tahu! Aku pikir semalam kamu juga mendengar suara iring-iringan mobil damkar yang berusaha memadamkan api di rumahnya. Tak tahunya kamu benar-benar tidak menyadari akan hal itu.”


Emil meraih kerah kemeja pria itu, mencengkramnya kuat-kuat, bersiap melayangkan tinjuan demi meluapkan emosinya.

__ADS_1


“Santai, Bung! Bukankah ini yang kamu inginkan. Mengusirnya jauh dari kehidupan kalian! Kenapa setelah dikabulkan kamu berlagak seperti pria yang paling kehilangan?!” Gangga tersenyum sinis. “Kau tidak tahu bagaimana kehidupannya selama ini! kau bahkan pergi begitu saja tanpa mendengarkan apa yang ingin dia jelaskan padamu!” tenggorokan Gangga rasanya tersekat benda besar hingga membuatnya kesulitan untuk melanjutkan ucapannya, dia iba dengan Chika. Karena kehadirannya pagi itu membuat kesalahpahaman antara Emil dan Chika. Lebih parahnya lagi dia tidak bisa membereskan masalah itu. “Aku dan dia tidak ada hubungan apapun. Bahkan, malam itu aku memutuskan untuk tidak menikahinya, kami merencanakan sesuatu untuk kembali pada kehidupan kami masing-masing! Sialnya paginya tiba-tiba kamu datang dan menuduh dia yang enggak-enggak! Chika tidak semurahan yang kamu pikirkan!” Gangga mendorong kuat tubuh Emil, hingga cengkraman di kemejanya terlepas dari pria itu. “Ucapanmu pagi itu terlalu menyakitkan untuknya! Sampai-sampai membuat kondisinya benar-benar lemah dia tidak berdaya untuk sekedar memadamkan api kompor, hingga membuat kebekaran itu melahap habis rumahnya.”


Emil tertunduk lesuh mendengar ucapan Gangga, kalimat yang kemarin dia lontarkan berdengung di samping telinga. Disusul ungkapan seseorang yang menyalahkan dirinya. Bahkan Emil tidak menyadari kalau Gangga mulai beranjak pergi.


“Om!” segala emosi yang tertahan di dalam diri Sheva, membuat bocah itu memiliki kekuatan yang mungkin terlalu mustahil jika di nalar dengan akal manusia. Tapi kata itulah yang berhasil Sheva ucapkan setelah kata mama.


Kania bahkan terpegun mendengar seruan itu. Netranya memandangi Sheva. Bocah itu berlari mengejar Gangga yang sudah hampir tiba di gerbang rumah.


Air mata Sheva sudah berderai membasahi pipi. Dia menatap Gangga dengan tatapan penuh permohonan. Seolah-olah dia butuh penjelasan tentang semua yang tadi ditangkap pendengarannya. “Om… om…” panggilnya di tengah isak tangis yang dia tahan. Dada bocah itu naik-turun menahan, sedikit kesulitan untuk bernapas. “Om ….” Sheva ingin bertanya, tapi lagi-lagi lidahnya tidak bisa berucap. “Maa mammaa??” Sheva bertanya lagi, tapi dengan kosa kata yang dia mampu. Dan tanpa diulang pun Gangga paham jika bocah kecil itu sama dengan Airin, dia kehilangan Chika.


Pria itu berjongkok, menyamaratakan tingginya dengan Sheva. “Sheva anak manis,” pujinya sembari membelai rambut Sheva yang sedikit panjang. “Sheva doain mama ya … semoga mama Chika bahagia.” Hanya itu yang bisa Gangga ucapkan. Dia tidak tega melihat raut kesedihan yang lebih mendalam yang ditunjukan Sheva. “Om, pulang ya? Sheva harus bahagia! Sheva harus nurut sama Kania, sama papa Emil juga!”


Air mata Sheva turun semakin deras, tidak ada suara bocah itu hanya bisa menangis dalam diam, seiring langkah Gangga yang berjalan meninggalkannya. Dia ingin berteriak, ingin berseru sekeras-kerasnya meminta mamanya supaya pulang. Dia belum siap untuk kehilangan mamanya lagi.


“Maa … maaammmaaaa …” ucapnya lirih, mengiringi mobil Gangga yang berlalu dari rumahnya.


Sheva kecewa, dia putus asa. Ia pun memilih kembali masuk rumah, berjalan menuju kamar. Kemudian dia menutup pintunya pelan lalu menjatuhkan diri di atas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2