Begin Again

Begin Again
Menikah Lagi?


__ADS_3

Seharusnya Emil tidak menawari sesuatu pada Kania, hingga pertemuan seperti ini bisa terhindarkan. Belum lagi Sheva, yang meminta mampir untuk membeli pensil warna. Jadilah ia kembali berhadapan dengan Chika, mengantri dalam satu barisan yang sama.


“Dunia begitu sempit ya? atau kita memang ditakdirkan untuk kembali bersama.” Emil membuka suara, berusaha mengajak Chika ngobrol. Salahkan penjual rujak yang hanya satu dan membuat antrian pembeli begitu panjang.


“Kamu aja yang ngikutin aku!” sahut Chika dengan nada pelan. Khawatir wanita di depannya akan mendengar obrolan mereka. “Kita sudah sama-sama bahagia dengan kehidupan kita yang baru. Jangan pernah membahas masa lalu. Itu hanya akan membuka luka yang sebenarnya sudah mengering.”


“Mengering?” Emil mendengkus, tak mengerti apa arti ucapan Chika.


“Jelas. Orang tidak akan menikah lagi sebelum lupa dengan lukanya.” Chika berusaha tenang, ketika mengatakan kalimat itu. Meski dia tahu, sebesar apa lukanya saat ini.


“Tahu apa sih, kamu soal luka! Dan siapa yang menikah lagi?” tanya Emil, dia masih bingung dengan ucapan yang tiba-tiba membahas pernikahan.


Chika sudah memutar tubuhnya menghadap Emil. Di sekolah dia bisa saja bersikap lembut, tapi tidak di sini.


“Mbak mau pakai rujak nggak?” penjual rujak es krim itu bertanya pada Chika, membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk membalas ucapan Emil.


“Nggak usah. Ini buat Airin, kok,” jawab Chika, lalu maju satu langkah, sebelum pembeli di belakangnya protes dengan sikapnya.


“Iya, tahu, Mbak. Airinnya mana? Tumben nggak ikut?” pria berusia 25 tahun itu bertanya pada Chika.

__ADS_1


“Masih di sekolah sama papinya.” Chika menjawab ramah, lalu menyerahkan kotak makan untuk wadah es krim kepada penjual.


“Banyakin potongan nangkanya ya, Mas Dani.” Chika mengulurkan selembar uang lima puluh ribuan pada penjual rujak es krim.


“Mbak, es gempolnya lagi sepi nggak mampir dulu? ibunya kangen katanya mbak Chika sudah lama tidak datang.”


Sekejap Chika terdiam, berharap pria di balik tubuhnya tidak mendengar apa yang dikatakan pria di depannya saat ini. Dia pasti akan malu karena masih sering mendatangi ibu-ibu penjual es itu.


“Enggak, Mas. Saya buru-buru, papinya Airin keburu cemas mencariku. Titip salam aja sama ibu!” balas Chika.


“Siap, nanti kalau ngobrol bareng lagi, pasti aku sampaikan.” penjual itu menyerahkan kembali box es krim pada Chika, sekaligus memberikan uang kembaliannya.


“Monggo, Mas!” (Silakan, Kak!) minta penjual pada Emil ketika Chika sudah pergi meninggalkan lokasi.


“Rujak es krim-nya satu!” minta Emil.


“Komplit ya?” tanya pria itu lagi, sambil fokus memarut buah-buahan yang sudah dikupas istrinya.


“Iya.” Emil mengamati tangan penjual es krim yang bergerak begitu cekatan. Ada rasa ingin bertanya, tapi setengah hatinya mengatakan untuk jangan.

__ADS_1


“Mas kenal sama mbak Chika ya? dari tadi aku perhatiin Mas bisik-bisik sama mbak Chika.”


Emil hanya tersenyum sembari menganggukan kepala.


“Aku coba menebak, pasti Mas juga fans-nya mbak Chika, kan?” tanya pria itu lagi. Dia terlihat ramah, ciri khas orang Solo.


Lagi-lagi Emil hanya tersenyum kini kian lebar menanggapi kalimat pria itu.


“Sulit ya, Mas deketin mbak Chika? Pak Gangga yang duren mateng aja nggak diterima. Ya, sapa yang mau coba; perawan ketemu duda. Kalau aku jadi perawannya, milih yang lebih mapan.” pria itu tertawa kecil.


Ada rasa tidak terima dengan status yang tersemat pada diri Chika. Memang kenyataanya begitu, mungkin orang akan mengira wanita itu masih perawan tanpa beban. Padahal dulu, ia pergi seorang diri meninggalkan putra dan suaminya.


“Mas, lihat saja. Atau ... Mas, mau jadi saksi tidak lebih dari satu bulan Chika akan sama aku,” kata Emil penuh keyakinan.


“Mas ih, terlalu PD! Tapi bolehlah aku akan menunggumu datang, Mas!” pria itu sibuk menutup cup lalu menyerahkannya pada Emil.


“Sepuluh ribu, Mas!” pria itu memberikan cup rujak es krim pada Emil.


Selembar uang kertas bewarna hijau Emil serahkan pada penjual. lalu berlalu begitu saja meninggalkan barisan. “Mas kembaliannya!” teriak pria itu.

__ADS_1


“Ambil saja,” kata Emil kemudian berjalan menuju parkir mobilnya. Beruntung saat tiba di dalam mobil, Sheva masih terlelap di bangku samping kemudi. Ia pun lekas melajukan mobilnya menuju rumah.


__ADS_2