
Niat Emil untuk melanjutkan berbelanja sirna usai pertemuannya dengan Chika. Ia lekas berjalan menuju kasir, membayar barang-barang yang tadi dia beli. Berusaha mengusir keinginan hatinya, untuk menoleh ke arah Chika. Dia ingin melupakan semuanya. Toh, wanita itu sudah menjadi milik pria lain.
Oke, aku akan baik-baik saja setelah ini. Batin Emil, berharap kebahagiaan akan segera menjemputnya.
“Berapa, Mbak?” tanya Emil saat seorang wanita sudah selesai mengemasi barang belanjaannya ke kantong plastik.
“Delapan ratus empat puluh lima ribu rupiah, Pak.”
Emil mengeluarkan uang delapan ratus lima puluh ribu. Lalu menyerahkan uangnya pada penjaga kasir. Setelah menerima uang kembalian, dengan iseng Emil bertanya pada wanita berpakaian kuning biru itu.
“Mbak, jujur deh! Kalau disuruh milih. Mbak sendiri pilih mana, aku sama pria itu?” tanya Emil menunjuk dengan dagu ke arah sepasang manusia yang masih berada di tempat yang sama.
Penjaga kasir mengikuti arah yang ditunjuk Emil, sepasang matanya membulat sempurna mendapati pasangan yang berada di lorong tersebut. Mereka tampak bahagia, bersama gadis kecil yang begitu menggemaskan. Kemudian beralih menatap Emil. “Bapak ganteng, sih! Tapi sayang masih jomblo! Kalau dia kan sudah ada yang gandeng tangannya. Bobo juga sudah ada yang ngangetin,” jawab wanita itu, tanpa beban. Bahkan tergelak ketika Emil ikut menatap ke arah obyek yang tadi ditunjuk.
__ADS_1
“Besok-besok kalau aku datang ke tempat ini. Aku akan membawa pasanganku. Aku pamerin ke kamu, Mbak!” Emil mengangkat tiga kantong plastik besar dari meja kasir, wajahnya berubah dingin usai mengatakan kalimat itu. Dia berlalu begitu saja, tanpa menoleh kembali ke arah wanita penjaga kasir.
“Pak, aku juga jomblo, loh. Kita jadian aja gimana?!” seru wanita itu.
Rupanya bukan hanya Emil yang mampu mendengar teriakannya. Chika dan Gangga yang masih berada di dalam supermarket, mereka saling pandang saat suara itu nyampe di gendang telinga mereka berdua.
Sayangnya, sekeras apapun teriakan penjaga kasir, Emil tetap melangkah keluar. Dia merasa sudah melakukan kesalahan besar dengan bertanya pada wanita itu.
Sedangkan layar selebar empat puluh inch itu masih menyala dengan jelas, menayangkan acara kartun Spongebob. Emil hanya geleng-geleng kepala melihat dua orang itu. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Andai bu Suti mau tinggal di sini selama 24 jam mungkin dia tidak perlu repot-repot berbelanja seperti ini. Wanita paruh baya itu sudah menjelaskan padanya, kalau tidak bisa berada di sana 24 jam, dengan alasan menjaga rumahnya sendiri. Tapi bu Suti berjanji, akan datang setiap hari untuk membersihkan rumah dan memasak.
Tiba di dalam kamar Emil mulai sibuk dengan ponselnya. Hal pertama yang dia lakukan adalah membuka room chat atas nama Chika. Begitu lama ia menatap pesan-pesan yang sudah berhasil ia kirimkan. Terlintas dalam benaknya tentang imbas pesan itu di kehidupan Chika yang sekarang. Gimana jadinya kalau suatu hari, Chika menemukan pesan-pesan ini. Pasti Chika akan menertawakan dirinya yang sulit sekali melupakan wanita itu. Mungkin tawanya sulit dihentikan! Melihat kemalangan yang sudah menimpa dirinya.
__ADS_1
Tangan Emil, mulai menyentuh tanda mikrofon yang ada di sudut layar. Dia mengambil jeda waktu sebelum mengucapkan kalimat pertamanya.
“Chika ….” panggilnya dengan suara lembut, lalu tertawa sumbang sambil menggeleng kepala, masih tidak percaya dirinya berada di titik ini. Mencintai dengan sangat, tapi yang dicintai justru sudah bahagia bersama orang lain.
“Terima kasih sudah pernah hadir di hidupku, mengajarkanku banyak hal. Meski setelahnya kamu harus terlepas dariku. Terima kasih, sudah pernah membuatku tertawa, menghabiskan waktu bersama denganmu. Meski pada akhirnya, kini hanya penyesalan yang tersisa. Dan terakhir ... aku ucapkan terima kasihku padamu yang begitu besar, karena sudah menghadirkan Sheva di dunia ini, untukku." Emil menarik napas dalam, untuk mampu melanjutkan kalimatnya lagi. Dia merasa udara di paru-parunya kian menipis, seiring kata demi kata yang keluar dari mulutnya.
"Chika ... aku minta maaf … kalau selama kita menikah, kamu belum cukup merasa bahagia. Dan hari ini. Aku melihatmu dengannya. Aku semakin menyesal karena dulu tidak memberimu kebahagian yang sesungguhnya. Aku gagal menjadi suami yang baik untukmu. Maaf Chika."
"Aku janji, ini adalah pesan terakhir yang aku kirimkan untukmu. Meski aku tahu kamu tidak pernah membaca atau bahkan mendengarkan pesanku, tapi asal kamu tahu ... setiap aku menyampaikan ini, aku merasa lega." Emil tak kuasa lagi untuk mengutarakan isi hatinya. Dia merasa sudah cukup untuk tenggelam dalam lingkaran masa lalunya.
"Selamat berbahagia dengan kehidupanmu yang baru Chika. Aku janji, setelah ini aku juga akan bahagia. Selamat tinggal wanita yang pernah menjadi milikku.” ujarnya dengan suara berat.
Emil masih menahan mikrofon di sudut layar. Tapi Enggan mengatakan apapun. Dia masih ragu untuk menjauhkan jempol kanannya, karena sedikit saja dia mengangkat, pesan suara yang baru saja diucapkan akan langsung terkirim ke nomor Chika. Dalam hati yang paling dalam dia belum rela melakukan itu, dia masih menginginkan Chika sekalipun wanita itu sudah menjadi milik orang lain.
__ADS_1