
Jantung Chika seperti diremas begitu erat oleh tangan tak kasat mata. Ucapan Emil benar-benar menikam jantungnya. Terlebih saat pria itu terus berlalu tanpa mendengar penjelasan darinya.
Apa aku sejahat itu pada Sheva? Aku berusaha memberikan yang terbaik untuk Airin. Tapi ... bagaimana bisa aku gagal menjadi ibu yang baik untuk anak kandungku sendiri? Maafkan, mama Sheva ....
Air mata Chika tumpah begitu deras, seiring suara mesin motor yang dikemudian Emil melaju meninggalkan rumahnya. Chika tergugu di tempatnya, berulangkali mengusap air mata dengan gerakan kasar tapi tetap saja, air mata baru menetes semakin deras.
Hingga sesaat kemudian, sebuah dekapan dari Gangga membantu menenangkannya. Sayangnya pelukan itu tak mampu menenangkan jiwanya yang sedang kacau. Hati seorang ibu akan tetap sensitif jika itu menyangkut anaknya.
“Sebenarnya, apa yang kamu inginkan, Chika?” Gangga yang masih berdiri di sana menuntun tubuh Chika memasuki rumah. “Aku tahu kamu masih mencintainya? Jadi apa masalahnya? apa yang membuatmu enggan untuk kembali?”
“Ma—mas Gangga tahu siapa pria itu?” Chika tergagap, ia tidak paham dari mana Gangga bisa tahu soal Emil.
__ADS_1
Gangga mengangguk ragu. “Aku tahu siapa dia.” Pria itu mempertegas jawabannya.
“Maaf kalau kesannya aku memanfaatkan kehadiranmu, Mas. Aku cuma tidak ingin menjadi pengganggu rumah tangga mantan suamiku. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu.” Chika berusaha menjelaskan pada Gangga, supaya kedepannya tidak terjadi salah paham di antara mereka berdua.
Tiba di ruang tamu, Gangga mendudukan tubuh Chika di sofa. Kali ini ia duduk berseberangan dengan Chika, berharap bisa mengawasi membaca apa yang Chika inginkan.
“Bukannya aku sudah terlalu sering menawarkan pernikahan padamu. Aku pikir tadi itu bukan gurauan! Kita bisa benar-benar menikah, Chika. Aku bisa melindungi kamu dari pak Emil, dan Airin juga bisa mendapatkan Mommy-nya.”
“Kita sama-sama sudah dewasa Chika. Tidak ada waktu lagi untuk berpacaran. lagi pula, kita kenal sudah cukup lama. Kamu tahu aku, begitupun sebaliknya.” Gangga berusaha membujuk wanita yang duduk di sampingnya.
“Aku khawatir tidak bisa memberikan cinta untuk Mas Gangga.” Chika mengutarakan ketakutannya.
__ADS_1
“Setidaknya kamu bisa memberi cinta untuk Airin. Dia butuh kamu sebagai Mommy nya,” sahut Gangga dengan nada tegas. “Dengan begitu, Emil dan kamu tidak akan bersama lagi, dia tidak akan berani mendekatimu karena tahu kamu sudah menjadi milikku.”
Haruskah Chika mementingkan egonya demi Airin dan Gangga? Pria yang sudah banyak membantunya hingga detik ini? tapi dia juga harus ingat Sheva itu anak kandungnya? Bolehkah dia mengambilnya dan membawa Sheva tinggal bersamanya saja. Apa Emil akan mengizinkan itu?
“Aku akan menyiapkan pernikahan kita kalau kamu mau.” Gangga menjeda ucapannya. “Bulan depan? Mumpung musim liburan tiba. Kalau kamu mau, aku bisa menyiapkan pernikahan untuk kita.”
Cukup lama Chika terdiam dan berpikir, sampai akhirnya dia menganggukan kepala tanda menyetujui ucapan Gangga. "kalau hanya itu jalan keluarnya. Maaf kalau aku harus merepotkanmu lagi, Mas."
Pria itu tersenyum cerah, ada rasa lega karena dia tidak jadi kehilangan Chika. Bukan! tepatnya Airin akan selamanya bersama Chika.
“Aku akan memberi kabar keluargaku di Salatiga. Pasti mereka akan bahagia, mendengar kamu mau menikah denganku.”
__ADS_1
Chika kembali mengangguk, semoga langkah yang ia ambil ini tidak salah. Berharap Emil akan mengizinkan Sheva tinggal bersamanya. Dan mereka bisa hidup bahagia di kehidupannya yang baru.