
Chika pikir; sepertinya tidak salah kalau dia memanfaatkan kehadiran Gangga saat ini. Ia ingin menunjukan pada Emil, kalau dia juga sudah bahagia bersama pasangannya yang baru. Seperti yang terjadi pada kehidupan pria itu. Sepertinya kepergiannya tidak ada dampak buruk di kehidupan Emil.
Merasakan hangat telapak tangan Gangga yang di pinggangnya, membuat Chika menoleh ke arah pria itu. Pandangan mereka bertemu, Gangga menampilkan senyum yang selalu ditunjukan padanya.
“Biar saja, nggak papa kan dia makan satu? Nggak setiap hari juga kok,” kata Gangga, lalu menunduk menatap Airin. “boleh, Sayang… tapi satu saja ya,” ujarnya dengan nada lembut.
Chika sesekali melirik ke arah pria yang berdiri tiga meter darinya. Rasanya sungguh menyakitkan saat melihat senyum pria itu begitu lebar. Seolah menunjukkan jika ucapan Gangga tidak berefek sedikitpun pada perasaan pria itu.
Andai dia bisa bersikap seperti itu saat Emil bersama wanita lain, ia pasti akan sangat bahagia. Sayangnya, hanya dia yang menangisi keputusan itu.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Apa kamu tidak ingin mengenalkanku, padanya?” kata Emil.
__ADS_1
Chika tampak gelagapan saat mendengar permintaan Emil. Terlebih pandangan Gangga begitu lekat mengamati Emil. Chika justru was-was kalau adegan kemesraan mereka berakhir dan membuat Emil sadar kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa.
“Siapa dia?” Gangga mulai bertanya. Padahal yang sebenarnya terjadi dia cukup tahu sosok Emil. Itu hanya alibinya saja. “Kenalin saya Gangga, papa-nya Airin.” Gangga mengulurkan tangannya di depan Emil.
Fakta, kan … kalau dia papa dari Airin? Tidak salah kan kalau dia bicara begitu. Meski berharap besar Chika mau menjadi istrinya, sekaligus menjadi ibu pengganti buat Airin. Tapi dia tidak mau dengan lancang mengakui kalau dia calon suami atau bahkan suami Chika. Akan timbul masalah baru kalau dia sampai berkata seperti itu.
“Saya Emil.” Pria itu melirik ke arah Chika. Seolah meminta pendapat untuk mengatakan statusnya atau tidak. “Saya ….” ucapan Emil menggantung lagi, sembari menerima uluran tangan Gangga. Lidahnya seakan kehilangan kekuatan, untuk mengatakan kata ‘mantan’ kepada pria itu. Dia masih berharap Chika mau mengakui kalau dia masih menjadi suami sahnya. Tapi, dia tidak setega itu untuk mengulang kesalahan di masa lalunya. “Saya … mantan suami dari Chika.”
Sebagai pelaku yang sudah mengatakan itu, tidak ada kelegaan sama sekali, karena dia masih berharap Chika tetap menjadi miliknya. Sedangkan Chika, dadanya seperti tersayat, saat mendengar kata mantan di saat hatinya masih berharap banyak akan status pernikahan mereka dulu.
“Ya. Sudah cukup lama kami berpisah. Dan ini pertemuan kita pertama kali usai kejadian itu.” sebisa mungkin Emil tersenyum, seakan-akan dia sedang merasakan bahagia akan status barunya.
__ADS_1
“Iya, sudah lama. Masa lalu, rapatnya enam tahun lamanya.” Chika memperjelas ucapan Emil. Dia tidak tahu saja, kalau Gangga sudah tahu status mereka sebelum pertemuan ini.
“Mommy, atu au dua yah?” suara bujukkan itu seolah menyadarkan Emil. Dia menatap gadis kecil yang lebih rendah darinya. Dia tidak akan tega merebut Chika lagi. Ada gadis cantik yang membutuhkan kasih sayang Chika. Dia tidak mau Airin bernasib sama seperti Sheva yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
Dia tidak tahu apa jadinya kalau Sheva tahu mamanya sudah menjadi milik gadis lain. Mama yang selalu ditunggunya pulang, ternyata sudah menemukan penggantinya dari pria lain.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Emil kembali mendorong troli, meninggalkan Chika yang semakin menundukan kepala mengiringi kepergiannya.
“Kita lanjutkan berbelanja atau mau pulang saja?” tawar Gangga.
“Kita nurut saja sama Airin, dia tuan putri kita hari ini,” jawab Chika.
__ADS_1
Dia melanjutkan langkahnya untuk menemani Airin berbelanja snack. Di sisa waktunya di supermarket itu, dia hanya bungkam. Perasaannya benar-benar sulit ditebak, padahal dia berharap hatinya akan baik-baik saja, ternyata masih sakitnya justru semakin parah saat bertemu kembali dengan Emil.
Andai dulu ia tidak main kabur, pasti dia bisa membesarkan putranya. Itu lebih baik daripada seperti ini. Masih cinta tapi harus melihat dia bahagia dengan yang lain.