Begin Again

Begin Again
Akan Menikah


__ADS_3

Selesai makan malam dengan Kania dan putranya. Emil mengambil duduk di area teras rumah untuk menyalakan sebatang rokok. Bagi seorang perokok aktiv seperti Emil, menikmati sebatang rokok selesai makan itu memiliki rasa yang berbeda.


Suasana malam ini begitu cerah, bulan di langit tampak berbinar dikelilingi oleh bintang yang berpijar terang. Usia Emil memang sudah tidak muda lagi. Tapi saat kepalanya mendongak menikmati keindahan Sang Pencipta, ia seperti mendapat hiburan tersendiri. Dia begitu betah hanya dengan menatap nya saja.


Meski jarinya sudah gatal ingin membuka room chat milik Chika. Tapi hatinya berkata untuk jangan. Padahal dia tahu kalau status Chika saat ini masih sendiri. Hanya saja, muncul gengsi yang lebih tinggi dari perasaan ingin memiliki. Emil terlalu percaya diri. Berprasangka kalau Chika akan segera kembali padanya.


Batang rokok yang terselip di jemarinya, nyaris tandas. Emil melemparnya ke rumput hijau halaman rumahnya. Saat dirinya beranjak dari kursi hendak masuk rumah, sebuah taksi yang baru saja meninggalkan rumahnya memunculkan rasa curiga di hatinya.


Emil lekas berlari ke arah garasi. Mengambil motor bebek yang terparkir manis di sana. Dia harus memastikan siapa yang sudah berani mengintai rumahnya malam-malam begini. Dia khawatir, tersangka adalah orang suruhan mamanya yang hendak mencelakai Sheva.


Tak butuh waktu lama, Emil sudah keluar dari halaman rumah. Membuntuti taksi yang melaju lebih dulu darinya.


Setelah melewati dua tikungan dengan jarak yang tidak begitu jauh. Akhirnya taksi itu berhenti di depan rumah sederhana bercat biru. Rumah dengan taman kecil di depannya, dari kejauhan Emil bisa melihat rumah itu tampak asri.


“Terima kasih ya, Mas.”


Emil tersenyum miring mendengar suara dari seorang wanita yang baru saja turun dari taksi. Bukannya mendekat, tapi dia sibuk mengamati gerakan tangan Chika yang membuka gerbang. Dalam pikirannya terus bertanya, masuk atau pulang? sampai akhirnya melihat pintu kayu warna coklat itu tertutup rapat, Emil memutuskan untuk memasuki area rumah Chika.

__ADS_1


Bak maling yang hendak mencuri, Emil berusaha menyamarkan langkah kakinya supaya tidak terdengar oleh tetangga maupun pemilik rumah itu sendiri.


Tiba di depan pintu, ia kembali berpikir untuk masuk atau pulang. Karena lama berpikir itu pula, ia begitu terkejut saat pintu utama tiba-tiba terbuka lebar. Sosok wanita bertumbuh ramping berdiri tepat di depannya.


Mata Emil yang tampak sipit membulat di balik bingkai kaca matanya. Ia berusaha menjelaskan, meski lidahnya kehilangan kekuatan. “Ak—


“Kamu ngikutin aku?!” protes Chika lebih dulu memotong ucapan Emil. Jujur saja, dia juga shock melihat Emil berdiri di depan rumahnya. “Please, kita udah punya kehidupan baru. Aku nggak mau mengulangi kesalahanku di masa lalu dengan merebutmu dari orang lain.” suara Chika terdengar memohon.


Ia melangkah melewati tubuh Emil, berjalan menuju gerbang rumahnya. Niat hati ingin membuang sampah, tapi ia justru mendapati tamu tak diundang.


“Maksudmu apa ngomong kaya gitu?!” selidik Emil, tak kuasa untuk memikirkan apa yang dikatakan Chika. “Aku tahu, kamu belum menikah. Dia bukan suamimu! Jadi apa salahnya—


“Chika, kamu tidak mencintainya. Enam tahun kamu selalu dengannya, kalau kamu cinta, pasti akan menikah dari dulu, bukan sekarang!” Emil mulai protes, sayangnya ucapan itu tidak diindahkan oleh Chika.


Wanita itu justru menyambut kehadiran Gangga yang sudah berdiri di sampingnya. “Kenapa, Mas?” tanyanya pada pria itu.


“Ponselmu tertinggal di kamar Airin.”

__ADS_1


“Astaga, aku melupakannya lagi?”


Gangga mengangguk sembari menyerahkan ponsel Chika, mengakhirinya dengan mengacak rambut Chika. Mereka berdua tidak peduli kalau di depan sana, seorang pria sedang terbakar api cemburu.


“O, ya, Mas. Besok kita jadi ke butik mama Citra, kan? Dia berpesan supaya membawamu ke butiknya,” kata Chika, semakin menjadi memainkan perannya.


Berbeda dengan Gangga, pria justru semakin bingung. Tapi tidak butuh waktu lama dia mampu membaca situasi yang telah tercipta antara Emil dan Chika. Netranya melirik ke arah mereka berdua secara bergantian.


“Oh … boleh. Jam berapa biar aku meluangkan waktuku.”


“Pukul satu saja, setelah dari sekolah,” jawab Chika lembut.


Mata Emil memerah, dia tidak bisa lagi memendam amarahnya. Ia memutuskan untuk melangkah pergi usai mendengar obrolan mereka berdua.


Baru saja tadi pagi dia mendapat angin segar untuk membawa Chika kembali pulang tapi malamnya, dia harus memupus keinginanya itu.


Tapi mengingat setiap pertanyaan yang ditulis Sheva, bisakah dia memiliki kesempatan untuk memulai lagi hubungannya dengan Chika?

__ADS_1


Saat langkah Emil tiba di depan gerbang, pria itu kembali berbalik, matanya menatap Chika dengan tatapan dalam. Menunjukan luka yang selama ini dirasa.


“Kamu tidak ingin pulang? Aku sudah kebingungan menjawab pertanyaan Sheva yang terus bertanya; kapan mama menemuinya? Apa aku harus menjawab kalau kamu membencinya, hingga dia tidak akan menantimu lagi?”


__ADS_2