
Emil menghentikan mobilnya di depan ruko kecil yang ada di tepi jalan Solo-Purwodadi. Emil sendiri enggan menyebutnya showroom karena barang dan kondisi tokonya jauh dari kata layak.
Sebenarnya ruko itu berada di tempat strategis. Sayangnya, produk yang ditawarkan sudah ketinggalan zaman. Barang yang ada di toko Emil tidak mampu memenuhi keinginan pembeli. Jadi toko itu selalu sepi pengunjung, sejak beberapa tahun ini.
Padahal kalau ditelaah lagi, untuk menciptakan inovasi baru perlu keberanian dan mental berani gagal, dan sejauh ini ... di keluarga Emil belum ada yang berani mengambil risiko itu. Mereka terlalu cinta dengan uang, seolah akan mati jika kehilangan harta benda.
Melambungnya harga kayu jati memang akan sedikit menyulitkan Emil untuk menjual barang jadi. Apalagi dengan munculnya jati belanda, seakan memadamkan penjualan furnitur jati asli. Mungkin ada beberapa orang yang membeli, tapi tak sebanyak dulu. Kerena sebagian pengguna memilih furnitur dengan harga ekonomis.
Saat Emil turun dari mobil, seorang pria bertopi hitam serta tubuh yang penuh dengan debu datang menghampirinya.
“Mas Emil?” seru pria itu, sedikit menatap lekat ke arah Emil, seolah sedang meyakinkan diri, bahwa yang dilihat itu benar Emil atau bukan.
“Iya, Pak ini saya, Emil.” Emil berniat menjabat tangan pria itu tetapi dia justru menjauhkan tangannya.
“Maaf, Mas Emil, tangan saya kotor. Nggak pantas buat menjabat tangan Mas Emil.” tuturnya sambil menunduk sopan.
Emil justru menahan tawa, kemudian meraih tangan pria itu untuk lekas dijabat erat. “Saya juga belum mencuci tangan, Pak!” ungkapnya, kemudian menyisir setiap penjuru ruangan. “Gimana kondisi galeri, Pak? Penjualannya, apakah lancar?”
Pria itu membuang napas kasar, lalu membawa Emil memasuki ruko yang dijadikan galeri untuk produk yang sudah jadi. “Sehari ini belum ada yang laku, Mas?” Pria itu mengelap bangku yang hendak diduduki Emil, ia tetap nekad meski Emil sempat melarang kebiasaanya itu.
__ADS_1
“Biasanya, kalau hari kerja begini, kita bisa menjual satu atau dua barang. Dan hari ini belum ada sama sekali yang keluar, saya sampai ngantuk nungguin pembeli datang.” pria itu sedikit sedih saat menceritakan itu pada Emil.
Emil memaksakan senyumnya ke arah pria yang hampir berusia 50 tahun itu. “Belum rezeki, Pak. Rezeki kan nggak akan salah alamat, apalagi mampir dulu. Hasilnya akan sesuai dengan apa yang kita usahakan.” Kata Emil kemudian beranjak dari kursinya, dia berkeliling dengan langkah tegas, menyentuh beberapa barang siap pakai yang dipajang di galerinya. Yah, dia menyadari jika produknya memang sangat ketinggalan zaman. Mungkin, toko miliknya kalah saing dengan toko lain.
“Pak Tedi, apa Bapak pernah mendengar kayu palet atau jati belanda? Kebetulan saya punya teman dia stok banyak jati belanda. Misal kita ganti produk kita dengan bahan itu. Apa pak Tedi bisa membuatnya?”
Pria bernama Tedi itu menggaruk tengkuknya. “Kalau saya asal ada gambarnya, mungkin bisa, Mas Emil.”
“Iya, saya akan kasih gambarnya nanti, Pak."
"Siap, Mas Emil, saya selaku mendukung juragan."
“Tahu, Mas. Itu dekat dengan rumah menantu saya.”
“Ow, oke kapan-kapan kalau ada waktu kita main ke sana. Saya akan buat janji dulu dengan teman saya, Pak!"
Sesaat suasana hening tercipta di tengah mereka. Emil terus melangkah pelan, sambil memikirkan cara bagaimana membangkitkan toko yang hampir mati ini.
"Setelah saya pikir-pikir, benar juga ya, Pak, Kalau kita ngambilnya jati murni selain kita nyarinya susah. Kita juga harus kembali modal. Kalau bukan kolektor, jarang mereka mau. Kalau jati belanda kita bisa ambil perbatang dulu. Kita bikin saja produk lalu kita jual pelan-pelan. Di jual online pun sepertinya tidak akan mahal di ongkos kirim. Karena jati belanda itu lebih ringan.”
__ADS_1
“Boleh dicoba tu, Mas! Anda memang pintar, ya!” puji pak Tedi, begitu semangat dengan inspirasi Emil.
“Pak Tedi bisa, saja! Saya bukan pria pintar, Pak.” tuturnya, menolak pujian pak Tedi karena dia merasa begitu bodoh hingga membuat istrinya sendiri menjauh dariny.
“Tapi, Mas Emil masalahnya, di sini itu cuma ada dua tenaganya.” Pak Tedi menunjuk ke arah gudang. “Dua saja kita sering nganggur.” sambungnya.
“Gitu ya, Pak?”
Pak Tedi mengangguk.
“Saya akan mencoba belajar, Pak! Mungkin Pak Tedi bisa mengajari saya.” Emil tertawa jenaka, lalu kembali melangkah mendatangi gudang belakang yang dijadikan tempat produksi.
Tempat itu memang tidak layak untuk digunakan produksi meski alat perkayuan di sana tampak nyata dan lengkap.
Pikiran Emil menerawang jauh di masa lalu. Toko ini memang tidak menjadi prioritas kedua orang tuanya. Mereka lebih mementingkan usahanya di Jakarta. Toko ini juga peninggalan sang kakek. Jadi mereka enggan untuk mengurusinya.
Sebenarnya Emil tidak sering datang ke tempat ini karena kesibukannya di Jakarta. Tapi setiap ia datang, pak Tedi lah yang selalu menyambutnya. Terakhir kali dia datang saat bersama perempuan itu. Beberapa tahun yang lalu, saat mereka berdua sedang liburan bersama.
Emil lekas kembali ke mejanya, saat teringat akan sosok Chika. Dia sengaja ingin menyibukkan diri, berharap setiap momen yang ia lewati bersama Chika bisa musnah seiring berjalannya waktu.
__ADS_1