Begin Again

Begin Again
Penolakan Gangga


__ADS_3

"Aku turun dulu, Kak."


"Hm, kabari aku kalau ada apa-apa."


Chika menghentikan gerakan tangannya saat mendengar balasan dari Emil. Mengamati Emil lamat-lamat.


"Kenapa menatapku begitu? Mau nyium tanganku?" Emil kian gencar menggoda Chika, mengulurkan punggung tangannya sendiri di depan wajah wanita itu.


Chika masih terdiam, entah apa maksud wanita itu yang jelas pandangannya kian menilai ke arah Emil.


"Minta cium kaya tadi pagi? Hm ... nanti malam ya, di sini banyak anak-anak!" katanya disusul kekehan lirih.


Chika menggeleng, "Jangan mengulangi kesalahan di masa lalu! Lebih baik Kak Emil segera ke rumah sakit. Kabari aku kalau terjadi sesuatu dengan Sheva!"


"Cuma mau bilang begitu?!" Emil tidak mengira, tatapan intens dari Chika hanya bermaksud mengatakan hal yang tidak penting untuk dibahas.


"Aku keluar dulu, terima kasih tumpangannya!" Chika tersenyum cerah. "lain kali pakai baju yang bewarna jangan putih terus!"


"Karena itu ... aku butuh kamu untuk mengatur penampilanku!"


Chika hanya mengulas senyum dia belum bisa merespon ucapan Emil, takut tidak bisa menepati. Tapi dalam hatinya berjanji akan memulai kehidupan baru bersama Emil.


Netra Emil masih setia mengamati setiap langkah yang diayunkan Chika. Hingga pandangannya menemukan Chika disambut hangat oleh gadis mungil, yang dia ketahui itu adalah Airin, gadis cantik yang memberi lollipop Sheva.


Emil ikut tertular kebahagian mereka berdua. Interaksi antara Chika dan Airin begitu cair. Bahkan, Airin bisa tertawa lepas saat Chika memperbaiki ikatan rambutnya. Entah apa yang dibicarakan mereka berdua, tak lama Airin menunjuk ke arah pria yang baru saja datang, Gangga. Tatapan Chika langsung berubah, senyum yang tadi terpancar indah perlahan meredup.


Fokus Emil teralihkan saat mendengar ponselnya berdering nyaring. Melihat nama Nia Kania tertera di layar, ia langsung menerima panggilan tersebut.


"Apa ada masalah?" tanya Emil, menyapa lebih dulu pengasuh Sheva.


"Bapak di mana?"


Emil berdecak, bisa-bisanya seorang babysitter ditanya justru balik bertanya. Sepertinya wanita itu sudah terlalu nyaman ikut bersamanya. "Di depan sekolah Sheva."


"Apa? Ngapain bapak ke sana!!"


Suara Kania melengking, membuat Emil menjauhkan ponselnya.

__ADS_1


"Bukan urusanmu, Nia! katakan ada apa?" Emil bertanya dengan nada lembut. Seolah menyinggung wanita di sebrang panggilang.


"Nia lapar, Pak! Sejak malam belum makan."


Emil melirik jam digital di dashboard, ini masih pagi, belum ada jam tujuh. Tapi wanita sudah protes. "Kamu mau sarapan pakai apa?! Biar aku belikan untukmu."


"Saya mau nasi liwet ya, Pak." tanpa sungkan Kania menyebutkan apa yang ia inginkan. Bahkan Emil sempat mengerutkan kening, mendengar permintaan Kania.


"Beli di mana? Aku nggak tahu nasi liwet itu seperti apa?"


"Bapak lurus saja dari sekolah Sheva. Lalu nanti ada perempatan Bapak bisa ambil kanan. Nanti keliatan kok banyak antrian di sana!"


"Jadi ... kamu memintaku untuk mengantre?"


Kekehan di ujung panggilan membuat Emil berdecak kesal. "Sekali-kali, Pak! Saya udah jagain Sheva loh, bahkan saya rela jagain Sheva seumur hidup saya. Masak bapak suruh beliin nasi liwet saja nggak mau sih!"


"Ya sudah iya. Mau berapa?" Emil mengalah, menuruti Kania tidak ada salahnya juga.


"Satu saja, Pak!" jawab Kania.


"Hm. Jaga anakku baik-baik!" pesan Emil.


Emil mematikan telepon tersebut, matanya masih berusaha mencari bayangan Chika. Mendapati wanita itu sudah tidak berada di halaman. Ia lekas meninggalkan lingkungan yayasan, membelikan pesanan Kania terlebih dahulu lalu kembali ke rumah sakit.


Sedangkan di dalam ruangan Gangga, pria itu meminta Chika untuk duduk di depan kursi kerjanya. Pria itu menatap lekat Chika, seolah sedang membaca arti senyuman yang dipancarkan Chika pagi ini.


"Sudah sarapan, ini buat kamu?" Pria itu menyodorkan kotak makan ke arah Chika. Seperti rutinitas yang biasa ia lakukan, kalau tidak bisa berangkat bersama.


"Aku sudah sarapan kok, Mas. Buat kamu saja."


Gangga mengernyit, tidak biasanya Chika sarapan tanpa dirinya. Setiap pagi, wanita itu akan sarapan di rumahnya. Kalaupun tidak sempat dia akan membawakan bekal ke sekolah, dan melihat Chika menikmati sarapannya. Tapi pagi ini melihat wanita itu menolak, menimbulkan kecurigaan besar si hatinya. Gangga menarik kembali kotak makan tersebut, menampilkan wajah kecewa.


"O, ya ... Aku mau bilang ke kamu. Kalau nanti siang mama akan datang dari Salatiga. Dia mau bantu kamu buat milih cincin pernikahan kita."


Chika menatap lekat wajah Gangga, pria itu tidak pernah membicarakan kedatangan ibu Aini padanya. "Kenapa Mas Gangga nggak membicarakan ini padaku," protes Chika. Kalau begini jadinya, gimana dia mau membatalkan acara pernikahannya dengan Gangga. Hubungan mereka sudah melibatkan orang tua. Pasti akan rumit kalau dia memutuskan tidak melanjutkan pernikahan ini.


"Apa yang salah, mama sendiri yang ingin menemanimu. Kamu bisa pergi bertiga dengan WO kita."

__ADS_1


Chika semakin bingung, dia ingin sekali menyelesaikan permasalahan ini dengan Gangga, tapi pria itu justru antusias sekali menyusun pernikahan mereka berdua, seakan mereka menikah karena didasari perasaan cinta. "Mas, sebenarnya aku ingin membatalkan acara pernikahan kita."


Melihat ekpresi Gangga yang terdiam, Chika semakin khawatir kalau pria itu tidak akan mau melepasnya.


"Gara-gara masalalumu hadir lagi? Chika, apa yang kamu harapkan dari pria brengsek itu! Di sini ada aku, ada Airin yang selalu ada di saat kamu sendiri."


"Aku tidak mencintaimu, Mas."


Gangga tersenyum miring.


"Aku dan dia punya Sheva," sambung Chika.


"Bodoh kamu Chika! Lalu di mana tanggung jawabku dengan mendiang istriku?! Kamu janji padanya untuk menjaga Airin, dan menjagaku."


"Menjaga bukan berarti menikah, kan?" Chika ngotot dengan keputusannya. Menurutnya dia masih bisa menjaga Airin, walau dia tidak jadi menikah dengan Gangga.


"Bagaimana tidak menikah!? Kamu nggak akan bisa menjagaku dan Airin kalau kita tidak memiliki hubungan sah!?"


"Mas!"


"Aku akan tetap menikahimu!" keputusan Gangga sama sekali tidak goyah. Entah apa yang membuat pria itu menahan Chika pergi.


"Jangan memaksaku."


"Chika!"


"Mas, aku tidak mau meninggalkan mereka untuk ke dua kalinya!"


Wajah Gangga merah padam, seakan tidak terima dengan keputusan Chika. "Kau mau aku membuat mereka yang meninggalkanmu?! Itu mudah untukku Chika!" ancamnya. Membuat Chika menatap lekat ke arah Gangga.


"Bagaimana kalau kita mulai dengan pendidikan Sheva. Kita buat dia dikeluarkan dari yayasan ini! kamu tahu kan, relasiku banyak di sini. Aku bisa meminta mereka untuk menolak dia!"


Chika hanya membuang napas kasar, kesal dengan ancaman Gangga, karena dia juga tidak ingin Sheva menjadi korbannya. "Apa untungnya sih menikah denganku?! Aku nggak punya harta yang bisa kamu gunakan. Aku janda, bahkan sudah dua kali. Masalaluku juga buruk. Lalu alasan apa yang membuatmu sulit untuk melepaskan aku, Mas?!"


"Sudah kubilang Airin butuh pengganti mamanya. Kamu pikir aku mencintaimu? Enggak Chika, sama sekali enggak! Tapi Airin nggak bisa tanpa kamu!"


Rasanya ingin sekali berteriak memaki Gangga. Hampir tujuh tahun mengenal pria itu, baru sekali ini dia menyesali perkenalannya dengan Gangga.

__ADS_1


"Tetap teruskan rencana pernikahan kita. Supaya kamu juga bisa melihat Sheva setiap hari!"


__ADS_2