
...Jangan Lupa Untuk Menekan Like dan Komentar 🤗...
SUARA roda brankar menjadi pengisi suara ketika Emil dan Chika berjalan memasuki gedung rumah sakit. Kedua tangan mereka saling bertautan erat, seolah ingin menunjukan pada dunia, sedekat itulah hubungan keduanya. Padahal untuk memulai kembali saja, itu masih menjadi beban berat di pikiran Chika.
Di waktu sore seperti ini, rumah sakit tampak ribut, banyak pengunjung berlalu lalang untuk menyelesaikan urusannya masing-masing. Berbeda dengan Chika, semakin dekat jarak dengan bangsal yang ditempati Sheva, langkahnya justru semakin berat.
Sampai akhirnya, dia benar-benar menghentikan langkahnya. Sekuat tenaga melepas tangan Emil yang terpaut di jemarinya.
Emil yang merasa hampa, menatap Chika penuh tanya, kerutan tipis perlahan muncul di keningnya. “Kenapa?” suara Emil begitu lirih, ia tidak mau obrolan mereka menarik perhatian pengunjung yang lewat.
“Kakak duluan saja, ya?” Chika sedikit menunduk, menghindari kontak mata dengan Emil. Ia tahu, bertatapan dengan pria itu sama hal-nya menunjukan sisi lemahnya.
“Ada yang salah?” selidik Emil.
“Em, Eng—enggak, kok!” jawabnya terbata. Berulangkali menarik napas dalam, berusaha mengatur detak jantung yang sulit terkendali. Ayo Chika! Yang akan lo temui ini darah daging, lo sendiri! le-toy amat! Sisi lain Chika seakan berbisik menyemangatinya. Tapi lagi-lagi rasa takut tidak diterima mulai menghantuinya.
“Ibun … why? Wajah mu merah loh? Kamu sedang ketakutan?” Emil tak membiarkan Chika lepas begitu saja. Hari ini ia wajib membawa Chika bertemu Sheva.
Chika menggeleng. “Aku gugup, bagaimana kalau—Sheva … tidak menerimaku? Aku ibu yang buruk, aku sudah meninggalkan kalian, aku bahkan dengan tega meninggalkan dia dalam kondisi haus, Kak.” Mata Chika mulai berkilauan, rasa bersalah meliputi dirinya saat mengingat kejadian malam itu. Kejadian yang begitu sulit untuk dilupakan.
“Sheva akan suka sekali kalau kamu datang, Ibun ....” Emil melirik ke arah totebag di tangan Chika. “Aku nggak mau, loh, kamu titipin benda ini! kamu harus menyerahkan sendiri pada Sheva. Hadiah pertama darimu, pasti dia akan suka sekali!” rayu Emil. Sejak dulu pria itu paling ahli dalam rayu merayu.
Chika menjatuhkan tubuhnya di kursi besi yang ada di sisi kiri Emil. “Apa aku masih pantas disebut Ibu oleh Sheva? Aku sudah ninggalin dia, Kak?!” mendadak dia semakin ketakutan; bagaimana kalau mama dari Emil mengetahui apa yang ia lakukan saat ini? dan akan berujung Sheva-lah yang menjadi korban.
“Terus kapan lagi kamu akan temui dia? Sheva tidak seperti anak lain. Dia istimewa, dia akan tetap menerimamu! Dia anak penurut dan tidak pendendam.” Emil membuang napas kasar lalu, berjongkok di depan Chika. “Bukan salah Ibun kalau malam itu kamu memutuskan untuk pergi! Siapapun yang menjadi pasanganku pasti akan melakukan hal yang sama.” Anggukan kepala yang dibuat Emil seakan menegaskan lagi kalimat yang baru saja terlontar. “Aku yakin itu.”
__ADS_1
Emil menarik tangan Chika, lalu membawanya berdiri dari kursi. “Apapun alasan kamu pergi. Tak perlulah kamu mengingatnya lagi! lebih baik kita memperbaiki diri supaya anak kita bisa bahagia.”
Chika memutuskan untuk kembali melangkah bersama Emil. Menempuh jarak ruangan Sheva yang menyisakan beberapa langkah lagi. Saat langkah mereka tiba di depan pintu bangsal, Emil sengaja meminta Chika untuk menunggunya di depan pintu.
Emil masuk terlebih dahulu, berdiri di balik pintu. Pandangannya langsung bertemu dengan Sheva yang kebetulan menatap ke arah pintu. Sepertinya anak itu sedang memastikan siapa yang hadir saat ini.
“Wih, anak papa rajin sekali. Belajar apa?” tanya Emil.
“Astaga, Pak! Masa saya suruh ngajarin bahasa Mandarin.” Kania mengeluh, menatap Emil dengan tatapan mengiba.
Sedangkan Emil sendiri masih berdiri tegap di dekat pintu, dengan tangan menggenggam tangan Chika yang bersembunyi di balik pintu. Bibir pria itu tersenyum cerah, menanggapi aduan yang baru saja dilontarkan Kania.
“Coba tebak papa bawa, apa?” Emil berusaha memberi pertanyaan pada Sheva. Tapi sepertinya putra kecilnya itu tidak tertarik dengan apa yang telah diucapkan. Sheva masih sibuk dengan buku kecil di tangannya.
“Oke kalau Sheva tidak mau!” Emil sedikit menarik tangan Chika mengisyaratkan untuk masuk. Saat melihat Sheva mulai memerhatikan senjata apa yang sudah dikeluarkan. Emil lekas memeluk tubuh Chika cukup erat, membuat Chika juga ikut terkejut dengan sikap pria itu. “Ibun-nya … buat papa aja kali ya!” kata Emil.
Kania yang menyadari kehadiran Chika hanya tersenyum paksa. Tampak jelas di wajahnya, kalau dia tidak menyukai Chika berada di tempat yang sama dengannya. Ia khawatir Chika akan lebih dekat dengan Sheva dan mengambil alih perhatian Sheva.
“Sheva enggak mau peluk Ibun, ya? kalau enggak mau ... biar Papa sajalah yang peluk, perwakilan nih!”
“Kak!” peringat Chika dengan suara lirih, ia merasa tidak nyaman saat mengerti arti tatapan Kania. Ia khawatir sikap Emil justru akan memancing orang untuk membenci dirinya.
Emil abai, dia justru semakin posesif memeluk tubuh Chika. Seolah tidak mengizinkan Sheva merebutnya. Sebenarnya niat Emil hanya ingin memancing Sheva supaya mau mendekat dengan Chika. Toh, sekarang infusnya sudah terlepas, karena dokter bilang, besok pagi Sheva sudah diizinkan untuk pulang ke rumah.
Sheva menatap Chika, ragu. Menatapnya semakin dalam, memperlihatkan sorot rindu akan kasih sayang seorang ibu.
__ADS_1
“Sheva, apa mama boleh memeluk, kamu, Sayang ….” Chika mengalah, dia tidak kuat lagi menahan rasa rindunya pada Sheva. Chika melepas paksa pelukan Emil, lalu beranjak dari sofa, dia sudah tidak sabar untuk memeluk tubuh putranya. Membawanya ke pelukan, lalu memeluknya erat.
Sheva mengangkat tangan kanannya, menghentikan langkah Chika yang hendak mendekat. Wajah pria kecil itu begitu serius, mengartikan kalau dia tidak ingin didekati Sheva.
Melihat penolakan Sheva, Chika merasakan sakit hati yang luar biasa saat ini. Putranya sendiri bahkan menolak berpelukan dengannya. Ini seperti bukan Sheva yang ditemuinya tempo hari. Sheva telah berubah.
Emil yang melihatnya pun ikut terkejut dengan sikap Sheva. Tapi gerakan Sheva berikutnya membuat Emil menghela napas lega.
Pria kecil itu turun dari ranjang, lalu berjalan mendekat ke arah Chika. Saat Chika mendongakkan kepala, ia bisa melihat mata Sheva menatapnya dengan tatapan kerinduan.
“Mam—ma …” gumam Sheva dengan nada lirih.
“Iya Sheva ini mama … mama yang sayang banget sama Sheva.”
“Mammmmaaa?” Sheva ingin memastikan, kalau Chika tidak akan kabur lagi darinya. Langkah Sheva melambat, menghampiri keberadaan Chika yang sudah membungkuk bersiap memeluknya. Berulang kali mamanya itu menganggukan kepala. Dan saat ini, ia bisa melihat cairan bening mulai tumpah membasahi wajah cantik mamanya. Benar kata papanya, kalau mama Sheva itu sangat cantik.
Sampai jarak keduanya semakin dekat Chika kembali membuka suara, ia merentangkan tangannya, mempersilakan Sheva masuk dalam pelukan. “Iya, Sayang ini mama.” Suara segukan mulai terdengar, andai putranya itu bisa bersuara ia yakin tangis Sheva jauh lebih keras dari jeritan tangisnya setiap malam. Ia bisa merasakan, bagaimana tangan mungil itu begitu kuat memeluknya.
"Maafkan mama, Sheva! maafkan mama yang sudah meninggalkanmu!" Chika kesulitan menahan tangisnya, tangis bahagia, bercampur penyesalan menumpuk menjadi satu.
Emil yang duduk di sofa, hanya menatapnya keduanya dengan mata yang sudah memerah. Ia harus jadi orang paling kuat di sini, demi melindungi orang yang ia cintai. Tinggal sedikit lagi, dia bisa memberikan kebahagian untuk Sheva.
“Jadi, Bu Chika beneran mama-nya Sheva?”
Pertanyaan itu membuat dua orang yang masih asik berpelukan melepas tautannya. Chika menatap ke arah Kania, lalu mengangguk pelan. Berulangkali kali ia mengusap air matanya, berulangkali pula ia terkejut saat Sheva tiba-tiba mendaratkan kecupan di pipinya. Dia hanya membalas dengan pelukan erat atas tingkah menggemaskan yang dilakukan putranya.
__ADS_1
‘Apapun fisik yang kamu miliki, bukan alasan mama meninggalkanmu, Sheva! Kamu harus tahu, mama bahkan lebih menyayangimu dari pada kehidupan mama sendiri.’
“Terus Papa milik siapa, ini?!” protes Emil, ia merasa terabaikan setelah pertemuan anak dan ibu itu.