Begin Again

Begin Again
Kebahagiaan


__ADS_3

Setelah meminta Sheva untuk berdiri di bagian depan, Emil berganti menyuruh Kania untuk duduk di jok bagian belakang.


"Sini dulu pakai helmnya!"


Kania meringis, karena melupakan sesuatu yang penting.


"Kalau nanti motornya ditilang, kamu yang aku turunin, buat jaminan!"


"Ih, Pak Emil candaannya garing, enggak enak banget didengarnya," balas Kania, sembari menundukan kepala saat Emil hendak membantunya menggunakan helm. Jarak sepersekian detik ... bibir Kania mengeluarkan rintihan.


“Sorry, sorry, aku nggak sengaja.” Emil terkekeh karena sebagian rambut Kania ikut tertarik pada pengait helm.


“Bapak sepertinya kelelahan, ya! butuh asupan gizi seimbang!” cibir Kania, lalu mendekat ke jok bagian belakang.


“Emang kalau aku kelelahan kamu-nya mau mijitin aku?” tanya Emil dengan nada sinis.

__ADS_1


“Mau sih, Pak. Tapi pijitannya pakai palu! Makanya nikah, Pak biar ada yang mijitin.”


Emil sejenak tertawa kecil menyambut jawaban dari Kania. Setelah wanita itu duduk dengan tenang, Emil mulai menarik tuas gas motornya, meninggalkan kawasan Yayasan Surya Mentari.


Mereka semua tidak tahu kalau sedari tadi ada seseorang yang diam-diam memperhatikan mereka. Satu hal yang disyukuri Chika saat ini, ternyata Sheva sudah menemukan pengganti dirinya begitu pun dengan Emil.


Mungkin lebih baik, dia menyembunyikan statusnya. Dia tidak ingin merusak kebahagian Emil dan Kania. .


“Ada hubungan apa kamu sama Sheva?” suara dari balik tubuhnya membuat Chika menoleh ke arah Gangga yang berdiri tepat di samping kursi taman.


“Bukan apa-apa, Pak!” dustanya.


Chika menahan tawa. Putrinya, Airin sudah kembali masuk kelas, karena teman barunya sudah pergi. Jadi, mereka kini hanya tinggal berdua saja, di sudut taman.


“Yakin, nggak mau jujur? Sebenarnya aku hanya ingin memastikan. Tapi, aku juga sedikit khawatir kalau kamu akan ….”

__ADS_1


“Dia hanya murid baru di sini, Pak. Bahkan Kania tidak menerangkan tentang sosok Sheva. Saya sendiri tidak begitu tahu. Kami baru bertemu sekali.” Chika menjelaskan panjang lebar.


“Baiklah. Aku percaya kamu. Yah mudah-mudahan saja mereka bukan bagian dari masa lalumu. Kalau iya, aku bingung harus menjelaskan bagaimana lagi sama Airin."


“Bapak jangan khawatir karena saya tidak akan kemana-mana. Sekalipun saya bertemu dengan masa lalu saya.” Menurut Chika dia tidak akan merusak kebahagian mereka. Biarlah semua berjalan seperti yang sudah-sudah, sebelum kejadian hari-hati ini.


“Kalau begitu kenapa kamu tidak menerima tawaranku? Kita bisa menjalani hubungan dengan kesepakatan. Aku juga bisa melindungimu seutuhnya, Chika.”


Chika termenung, memikirkan tawaran Gangga yang sudah kesekian kali menyapa pendengarannya. Tapi, kali ini Chika tidak langsung menolak tawaran itu.


“Aku akan memikirkannya, Mas.”


Gangga yang mendengar hanya mampu tersenyum tipis. “Almarhumah istriku nggak pernah salah, kan? Dia memintamu menjadi ibu sambung untuk Airin, sekaligus istriku. Sayangnya, hingga detik ini, kamu belum memenuhi permintaanya.”


“Kalau memang mencintai semudah itu, aku akan langsung menerimamu sebagai suamiku, Mas. Tapi sayangnya, aku butuh waktu untuk meyakinkan diri, kalau aku juga bisa mencintaimu. Aku takut pernikahan keduaku justru menjadi hal yang lebih menyeramkan lagi.”

__ADS_1


“Aku tunggu jawabanmu secepatnya, Chika.” Pria itu kemudian meninggalkan taman. Sebenarnya dia cukup paham ada yang janggal dengan pertemuan Chika dan Sheva, oleh sebab itu dia mengorek sedikit informasi tentang anak didik barunya itu melalui Kania.


Dugaanya benar, ternyata Sheva adalah putra Chika. Rasa takut tiba-tiba menyerang, dia khawatir Chika akan kembali ke masa lalunya. Yang dia bingungkan bagaimana airin, anak gadisnya itu menganggap kalau Chika adalah Mommy-nya.


__ADS_2