
...Selamat Membaca ...
Sebenarnya yang dibawa Chika bukanlah hadiah mewah, berharga ratusan ribu. Hanya sebuah boneka muppet dengan dua karakter yang begitu kontras. Tapi saat ia menunjukannya pada Sheva, putranya itu hampir saja melompat sangking girangnya.
Dan sekarang, Chika terlihat begitu lihai memainkan boneka di tangannya. Berbicara dengan dua karakter yang membuat putranya itu tampak begitu bahagia, tertawa tanpa suara. Sesekali menunduk malu karena tawanya terlihat begitu lebar, memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
“ ... dan akhirnya, Ely pun diangkat menjadi raja!” ucap Chika sebagai kalimat penutup dongeng malam ini. Sedari tadi Chika begitu asik bercerita, sampai tidak memerhatikan ponsel di dalam tas yang berulangkali bergetar.
“Sudah malam, loh Sheva, kan, sudah makan. Sheva sudah minum obat. Time to story' sama Ibun juga sudah. Berarti sekarang waktunya Sheva … bobok!” Chika sengaja mengejutkan suaranya di akhir kalimat, tangannya menggelitik pinggang Sheva.
Tapi putranya itu tidak merespon, Sheva justru mengambil kertas dan pulpen yang ada di atas meja.
‘Apa Ibun akan pergi lagi setelah ini?’ Sheva menunjukan tulisan itu ke arah Chika.
“Tidak. Tapi … Ibun harus pulang, kan ini sudah malam,” terang Chika.
Bibir Sheva mengerucut. Siapapun pasti tahu kalau Sheva belum puas melepas rindu pada Chika. Tapi, Chika sendiri juga harus menyelesaikan masalahnya.
“Sheva sayang, kamu tahu sendiri kalau Ibun besok harus mengajar teman-teman Sheva. Jadi, Sheva harus segera sembuh dulu supaya kita bisa berkumpul terus. Nanti kita belajar dan bertemu di sekolah.”
Sheva mengangguk, saat melihat Emil melangkah mendekati brankar. Sepertinya Sheva takut kalau Emil akan memarahinya.
“Besok setelah pulang sekolah Ibun janji, akan datang menemui Sheva. Kalau Ibun nggak datang Sheva bilang ke papa supaya papa Emil jemput Ibun, oke!”
Sheva mengangguk, paham dengan perkataan mamanya. Dalam hatinya berharap kalau Chika tak akan ingkar janji.
“Sheva mau Ibun ci-um sebelah mana?” tawar Chika.
Jawaban Sheva membuat Chika terkekeh, pria kecil itu menunjuk seluruh wajahnya dengan jari telunjuk. Rona bahagia terpancar jelas di wajah Sheva malam ini. Bahkan, Emil pun ikut tersenyum cerah ketika Sheva meminta tambahan kecupan di sebelah pipi kanannya.
"Ibun, pulang dulu ya, Sayang!"
Sheva mengangguk, lalu melambaikan tangannya ke arah Chika.
“Aku akan mengantarmu.”
Chika terkejut, ketika memutar badannya, justru suara Emil yang menyambut pendengarannya. Tanpa ia sadari jarak pria itu juga terlampau dekat dengannya.
“Aku bisa naik taksi, Kak. Kasihan Sheva kalau dia harus ditinggal.” Chika berusaha menolak permintaan Emil.
“Ada Nia di sini!” balas Emil, kali ini ia tidak ingin Chika membantah apa yang diinginkannya.
__ADS_1
Chika mengalihkan pandangan menatap Kania yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Tenang saja, Bu Chika. Sheva sudah biasa sama saya kok! Saya bisa mengatasinya, kok!"
"Terima kasih, Kania." Chika lalu mengikuti langkah Emil yang menariknya keluar bangsal.
Saat mereka tiba di luar, hari sudah berubah gelap. Kilatan petir mulai menyala-nyala. Menghiasi gelapnya langit di atas sana. Emil yang paham hari sebentar lagi akan hujan langsung melajukan mobilnya menuju rumah Chika.
Saat tiba di kediaman Chika, pria itu tidak langsung pulang. Emil justru ikut turun dari mobilnya.
“Kak, Sheva di sana sendirian! Apa nggak sebaiknya Kakak lekas balik ke rumah sakit?” minta Chika, ia mengkhawatirkan kondisi Sheva. Apalagi sebentar lagi hujan akan turun.
“Iya, aku tahu. Aku cuma kebelet ... Ah, aku kebelet, pengen pup!”
Chika terkejut, secepat kilat ia membuka pintu kayu rumahnya. “Astaga!” ia menggeleng, menanggapi sikap Emil.
“Boleh, kan aku menumpang? Dari pada aku harus mampir ke pom bensin dulu!”
“Silakan.” Chika mempersilakan Emil memasuki rumahnya, menunjukan letak kamar mandi sederhana yang ia miliki.
Saat kaki Emil hampir tiba di depan kamar mandi. Chika teringat akan satu hal yang seharusnya tidak boleh ada di sana. Benda keramat bernama B-H miliknya masih menggantung di gantungan baju.
Padahal tanpa ia memindahkan pun Emil tak akan mungkin bisa melihat benda itu. Karena kebetulan lampu di dalam kamar mandi mati, sejak tiga hari yang lalu. Tapi Chika tidak mau kalau sampai Emil menyadari miliknya bergelantungan.
“Silakan, Tuan Emil!” Chika menyembunyikan benda yang tadi diambil. Bersikap ramah menutupi apa yang saat ini disembunyikan.
“Pasti, nih ... masih suka kebiasaan, kan? Nyimpan harta karun sembarangan untung aku bukan tipe kleptomania!”
Chika meringis, saat gerak-geriknya tertangkap basah oleh Emil.
“Lampunya sebelah mana, Ibun?” Emil berusaha menekan saklar lampu yang ada di samping pintu. Sayangnya, kedua saklar itu tidak membuat lampu di kamar mandi menyala.
“Mati, aku belum sempat beli.” Chika menjelaskan.
“Terus kamu ke toiletnya gimana?” selidik Emil, yang terlihat jelas mengkhawatirkan Chika.
“Biasanya lampu sini saja yang aku nyalain, terus pintunya aku buka. Karena, kan, aku tahu di rumah ini tidak ada orang. Jadi aman-aman saja, sih!”
“Astaga, setelah ini aku belikan.” Emil menyanggupi.
“Terus sekarang aku gimana pup-nya? Di buka gitu pintunya?”
__ADS_1
“Ya, ditutup lah, Kak!” sahut Chika dengan nada sewot, kesal saja masa gitu aja harus tanya!
“Gelap banget loh, Ibun!”
“Ya udah di buka pintunya. Aku akan masuk ke kamar dulu!”
“Oke nanti aku susul!” goda Emil.
“Apa!?” Chika pura-pura tak mendengar.
Emil tidak menanggapi lagi, ia melangkah memasuki ruangan sempit nan gelap itu. “Udah kamu disitu saja, biar aku tutup pintunya.” Emil mengalah, tidak ingin memperbesar lagi masalah lampu dan pintu. Lagian ia ingin segera melegakan rasa mulas dalam perutnya.
Sedangkan Chika, kini sibuk membalas pesan dari Gangga. Dia terpaksa berbohong pada pria itu kalau sedang berada di rumah sakit untuk menjaga Sheva yang sedang sakit. Ia hanya khawatir kalau mengatakan sedang di rumah Gangga akan datang.
Sepuluh menit menunggu, Emil akhirnya keluar dari dalam kamar mandi. “Ibun, di sini ada yang jual lampu enggak sih?”
“Toko listrik ada. Tapi ini udah hampir jam 9 malam. Kemungkinan juga sudah pada tutup.”
“Kamu belum makan, kan? Gimana kalau kita jalan-jalan sekalian nyari makanan buat makan malam.”
“Astaga Kak Emil juga belum makan, ya?” Chika beranjak dari kursi kayu yang ia tempati. Lalu segera mengambil dompet dari dalam tas-nya. Setelah itu ia berjalan keluar untuk membelikan makan malam untuk Emil.
Tapi siapa sangka kalau pria itu justru akan mengikuti langkahnya. Berjalan bersisian mengantar nya pergi. Ia pun pasrah, ditolak pun pria itu akan tetap nekad.
“Kak Emil mau makan apa?”
“Terserah saja, yang penting perutku terisi penuh.”
“Di sana ada soto seger, Kak Emil mau? Soto di sini enak. Kuahnya bening, rasanya seger, bikin nagih. Aku jamin kak Emil nggak cukup makan satu mangkuk.”
“Oke. Sepetinya patut dicoba." Mereka berdua melangkah memasuki warung soto yang ada di pinggir jalan. Tapi setelah memastikan Chika duduk di alas tikar. Emil justru pamit hendak keluar.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya? aku beli lampu dulu di seberang sana!” Emil menunjuk sebuah toko yang ada di seberang jalan.
"Hati-hati, Kak!"
Emil tersenyum begitu lebar, lalu mengangguk pelan sembari berjalan meninggalkan Chika.
Note :
Gaes, jangan lupa untuk menge-like tiap bab ya! Dan pastikan setelah ini kalian beri gift lewat tonton iklan. Satu lagi, beri vote dong! Biar Ella bisa salto-salto masuk rangking vote 🤸♂️🤸♂️🤸♂️🤸♂️🤸♂️
__ADS_1