Begin Again

Begin Again
Rencana Sheva


__ADS_3

Di dalam rumah yang Emil tempati saat ini, pria itu terlihat kebingungan mencari keberadaan Sheva. Berulangkali dia keluar, duduk di teras sebentar untuk memantau bayangan Sheva. Tapi bocah sebelas tahun itu tak kunjung menampilkan batang hidungnya. Dia pergi entah ke mana.


Padahal dia sudah berpesan pada Sheva untuk membawa ponsel, kemanapun bocah itu pergi. Nyatanya, Sheva justru sengaja meninggalkan ponselnya di atas meja. Hari ini dia dibuat naik pitam oleh Sheva.


"Ke mana tu anak!" ujarnya, lalu kembali memasuki rumah.


Sebentar lagi matahari akan menghilang dari peredaran. Dari sisi timur tampak awan pekat berarak mendekati rumah yang ditempati Emil. Perasaan kesal yang tadi menumpuk berganti dengan rasa cemas yang kini dirasakan.


Emil kembali keluar rumah. Dia berniat bertanya pada pak Aiman. Tentang keberadaan Sheva saat ini. Padahal tadi dia berniat membawa Sheva pulang ke Solo. Tapi, melihat bocah itu tidak ada di rumah, dia hanya bisa mengurungkan niatnya itu menunggu hingga Sheva kembali.


Emil berjalan menuju rumah samping, keberadaan rumah ibu dari pak Aiman. Dia perlu bertanya tentang siapa saja yang masuk ke rumah sebelah. Karena dia kehilangan putranya.


“Kulo ya, ndak tahu, Mas. Coba tanya ke Arif?” bu Tum menjawab dengan bahasa campuran. Arif adalah anak kecil sepantaran Sheva, yang tinggal tak jauh dari rumah Bu Tum.


“Coba saya tanyakan dulu, Mas Emil.” Pak Aiman yang merasa memiliki tanggungjawab besar atas hilangnya Sheva, berusaha mencari. Dia lekas mengendarai motornya mengelilingi dusun Siluman untuk mencari Sheva.


Sedangkan Emil memilih tidak ikut, tetap di rumah berjaga-jaga kalau Sheva pulang. Namun, sudah lewat waktu Maghrib, bocah kecil itu juga belum tiba di rumah.


“Ke mana kamu, Sheva …” gumam Emil, menatap ponsel Sheva yang ternyata menggunakan password untuk mengaksesnya. Ia bahkan tidak tahu, password apa yang sekarang digunakan putranya.


Tak lama kemudian terdengar suara motor milik pak Aiman. Emil buru-buru melangkah keluar rumah, ingin tahu informasi apa yang pak Aiman dapatkan.


Hal yang membuatnya terkejut sekaligus ingin marah, ketika tangannya menarik handle pintu, Sheva tiba-tiba mendorong pintu dari arah luar, bocah itu menggunakan tenaga penuh membuat kepala Emil berbenturan dari daun pintu. Rasanya ingin sekali mengumpat, saat tubuhnya terjepit di antara daun pintu dan dinding. Tapi melihat Sheva meringis usai melihat terjepit, dia tidak tega untuk memaki putranya.


“Mandi!” titah Emil. Bocah itu menurut, berlari terjingkat-jingkat ke arah kamar mandi. Emil yang masih berada di sana, menghampiri pak Aiman yang berdiri di teras rumah.


“Ketemu di mana, Pak?” tanya Emil.


Pak Aiman tertawa dulu sebelum menjawab pertanyaan Emil. Entah apa yang membuat pria itu terbahak, dia sedikit tidak paham.


“Di warung makan bu Jamal. Dia ngobrol sama Rini.” pak Aiman menjawab pelan, setengah berbisik sambil melirik ke dalam rumah.


“Ow, terima kasih ya, Pak! Setelah ini mungkin kami akan kembali ke Solo. Lagian urusan kita di sini juga sudah selesai.” Emil sekalian berpamitan pada pak Aiman.


“Apa nggak sebaiknya menginap lagi, Mas! Ini mau hujan loh!”


Emil menatap ke atas, langit tampak gelap disertai kilatan petir yang menyambar-nyambar. “Mudah-mudahan nggak hujan, Pak.” Emil kemudian berpamitan kepada pak Aiman, berniat melihat Sheva yang tengah mandi.

__ADS_1


Mendengar suara putranya tengah bernyanyi di dalam kamar mandi, Emil sengaja membereskan pakaian Sheva. Dia akan tetap nekat pulang malam ini. Sungkan kalau menginap terlalu lama di rumah orang.


“Kita akan pulang malam ini, Sheva,” ucap Emil, menyambut Sheva yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Emangnya urusan papa sudah selesai?”


“Sudah.”


“Kenapa enggak besok saja? ini sudah malam, Pa!”


“Sheva … nggak enak kalau harus menginap di sini terlalu lama.” Emil menarik resliting tas, lalu membawa tas itu ke ruang tamu.


Sheva mengalah, dia menurut saja dengan apa yang dikatakan sang papa. Namun, saat Emil sudah bersiap memasukan barang bawaannya ke dalam mobil, mendadak hujan turun begitu deras seolah mencegah Emil supaya tidak pergi. Petir besar pun menyambar-nyambar, suara gemuruhnya begitu keras membuat Sheva memekik ketakutan. Petir itu sepertinya menyambar trafo PLN karena setelahnya, penerangan kini padam.


“Pa ….” Panggil Sheva berusaha mencari keberadaan Emil.


“Iya, papa di sini!” ucap Emil lembut. Berusaha menangkap tangan Sheva yang mencari keberadaanya.


“Sheva takut!” ucap Sheva, setelah mendapat pegangan lengan Emil, dia meminta Emil untuk menuntunnya duduk.


“Ya, sudah kita pulang besok saja!” Emil terpaksa menunda kepulangannya, karena pasti jalanan sangat licin.


“Udah.”


“Tadi ke mana?”


“Ketemu i—ke warung bu Jamal, beli makanan.”


“Kenapa ponselnya tidak dibawa?”


“Lupa, Pa.”


“Sekarang lebih baik kamu tidur! Besok kita harus kembali pulang, supaya pesanan pelanggan yang masuk. Bisa segera diproses oleh tukang.”


Sheva mengangguk, lalu mulai naik ke ranjang, tanpa melepas cekalanya di tangan Emil.


Emil tampak memejamkan mata, tapi pikirannya masih berkeliaran. Sama halnya dengan Sheva, yang masih memikirkan perasaan sang papa yang katanya tidak sayang dengan Ibun. Jadi, Ibun terpaksa harus pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Dia memaklumi keputusan Ibun karena tinggal bersama orang yang tidak sayang dengan kita itu berat. Contohnya, dia pernah tinggal bersama kakek dan neneknya. Mereka selalu menghina Sheva. “Papa ….”


“Kenapa? Papa kira sudah tidur.” Emil menyahut sembari memiringkan tubuhnya menghadap Sheva.


“Gelap, Sheva takut!”


Emil justru terkekeh, lalu menarik tubuh Sheva supaya masuk ke dalam pelukannya. “Papa, di sini … tidurlah! tidak akan terjadi hal buruk padamu selama ada papa di sini.”


“Iya. Sheva juga mau Ibun di sini. Tidur di sebelah Sheva.”


“Dari atas sana, Ibun bahagia melihat kita berdua tidur bersama.” Emil berusaha menghibur Sheva.


Sedangkan Sheva hanya diam, sambil meletakan kepalanya di depan dada Emil. “Papa sayang nggak sama Ibun?”


“Sayang.”


“Cinta?” tanya Sheva lagi.


“Cinta. Karena itu papa memutuskan untuk sendiri. Jadi mohon Sheva mengerti posisi papa, karena sampai kapanpun, papa nggak akan bisa menemukan pengganti Ibun.” Emil menjelaskan dengan suara lembut.


“Ibun juga sayang Papa. Dia sayang banget sama Papa. Tapi Papa selalu jahat sama Ibun! Papa selalu buat Ibun menangis!”


“Iya, papa jahat. Papa selalu menyakiti Ibun. Karena itu juga, setiap papa datang ke makam Ibun, kalimat pertama yang Papa ucapkan selalu permintaan maaf.”


Sheva mengangguk. “Papa … Ibun itu cinta sama papa.”


“Iya, papa juga tahu.”


“Papa bujuk Ibun buat pulang dong!” kata Sheva.


Emil justru tertawa lebar, menertawakan kepolosan Sheva. Ia memeluk tubuh Sheva erat-erat. sambil berbisik, “maafin papa ya, karena tidak bisa menemukan wanita yang sama seperti Ibun. Maafkan papa karena mungkin, di hidup Sheva nanti hanya akan ada papa.”


“Papa!”


“Ya?”


“Besok Sheva ajak Papa bertemu dengan seseorang. Tapi Papa janji sama Sheva jangan buat dia menangis lagi.”

__ADS_1


Maaf ibun, maaf kalau Sheva harus ingkar janji. Kami nggak mau jauh lagi dari Ibun! Ibun harus tahu kalau papa dan Sheva itu sayang sama Ibun.


 


__ADS_2