
Chika tampak menarik napas dalam sebelum mengetuk pintu kayu yang ada di depannya. Urat nadinya bergerak lebih cepat saat tangannya terulur mulai mengetuk pintu tersebut.
Rasa takutnya meningkat drastis. Tapi, saat teringat Sheva membutuhkan kedua orang tuanya. Dia berusaha menyingkirkan segala ego yang membungkus tubuhnya. Mengurainya! Berkata dalam hati jika, kebahagian Sheva di atas segalanya.
“Apa setelah aku masuk ke rumah papa Ibun akan pergi lagi? Apa Ibun juga tidak bisa merawatku seperti papa? Kenapa kalian harus melahirkan aku, jika kalian tidak mau merawatku!” protes Sheva dengan suara lirih. Namun, terdengar jelas di pendengaran Chika. Dia amat tersiksa mendengarnya. Kehadiran Sheva memang tidak terduga. Tapi, sedikit pun dia tidak pernah menyesal karena sudah melahirkan anak itu.
“Kenapa Sheva harus lahir bersama kalian? Kenapa Sheva tidak bisa memilih orang tua mana yang Sheva inginkan.”
Chika menggeleng cepat. “Bukan begitu, Sayang! Maaf, maafin Ibun ya! Ibun yang salah. Ibun yang selalu mementingkan ego. Ibun pikir kamu akan baik-baik saja setelah tinggal bersama Ibun. Tapi Ibun salah! Kebahagian seorang anak adalah tumbuh di antara kasih sayang kedua orang tuanya. Maafin Ibun,” lirih Chika, memeluk erat tubuh Sheva.
“Ibun janji?” bisik Sheva, di sela tangis yang mendadak ingin dia ledakan. “Ibun nggak bakal ninggalin kita lagi. Sheva sayang sekali sama Ibun, jangan pergi lagi!”
Chika menggeleng pelan. “Ibun janji, apapun yang terjadi ibun akan selalu ada buat Sheva dan papa Emil.”
Kesedihan Sheva lenyap, bibirnya kini bisa tersenyum meski tipis. Tangannya kini berusaha mengusap air mata yang turun ke area pipi. “Sheva akan jadi anak paling beruntung jika itu benar-benar terjadi, Ibun!” lirih Sheva, seraya memeluk Chika dari arah samping.
Merasa pintu tak kunjung terbuka Sheva melompat melalui jendela. Dia mengira sang papa masih tidur, buktinya sudah lima menit dia berdiri di depan pintu utama papa Emil belum juga muncul di depannya.
“Papa!” seru Sheva lantang, memasuki kamar Emil. Namun, Sheva tidak mendapati pria itu di sana. Padahal Sheva melihat dengan jelas jika mobil pria itu masih terparkir di garasi, samping rumah. “Papa!” ulangnya, memanggil Emil. Namun, saat tak menemukan apapun dia kembali keluar, berjalan memasuki pintu kamarnya. Pelan-pelan tangan Sheva membuka pintu kamarnya sendiri, dan rupanya benar. Netranya mendapati sang papa masih terlelap di atas ranjang.
Sheva mendekati ranjangnya, merangkak lalu berbisik di samping telinga Emil. “Papa, ada Ibun di depan rumah! mau kah papa menemui Ibun?”
Suara lembut itu mengusik tidur Emil. Pria itu menggeliat, lalu terperanjat saat mendapati Sheva duduk di tepi ranjang. Ini belum jadwal Sheva liburan, jadi mungkin ada hal lain yang ingin disampaikan.
“Sheva?!” Emil menggosok matanya, berusaha melihat keaslian obyek di depannya. “Kamu datang sama siapa, Sayang?” tanyanya, setelah berhasil memeluk tubuh Sheva.
“Sama bidadari, Papah!” jawab Sheva, singkat.
__ADS_1
Emil langsung turun dari ranjang, demi mengetahui sosok yang dimaksud Sheva. Padahal tanpa dia membuka pintu pun dia sudah bisa menebak sosok wanita yang dimaksud putranya itu.
Saat pintu rumah terbuka lebar, ia tidak bisa menemukan sosok yang tadi dimaksud Sheva. Mungkinkah dia sedang bermimpi atau wanita itu kembali menipunya.
Emil menoleh ke sumber suara yang masih bisa ditangkap mendengarannya. Netranya membulat sempurna saat melihat Chika dan Gangga saling berpelukan. Tapi kali ini dia tidak ingin gegabah lagi. Dia bukan pria kemarin sore yang mudah saja marah karena melihat miliknya bersama orang lain.
Bisa saja mereka berdua memang baru saja bertemu sejak lima tahun silam, jadi sedang menghapus rindu. Lagian, Gangga juga tidak akan berani mengkhianati Kania.
Emil berdehem pelan, saat tubuhnya berada tepat di belakang tubuh Chika. Membuat dua orang itu mengurai pelukannya. Gangga menatap sinis ke arah Emil.
“Aku pergi dulu, semoga harimu baik terus, Chika!” ucap Gangga menutup pertemuannya dengan Chika. Pria itu buru-buru memutari mobil, segera beranjak sebelum Emil memukul wajahnya. Dia hanya mampir saat
Setelah mobil itu berlalu, keduanya kini hanya saling pandang. Menatap dengan bingung dan canggung. “Mau masuk dulu?” tawar Emil.
“Ada apa di dalam?”
Chika menggaruk kepalanya, saat dia berdiri di depan pintu. Dia tidak menemukan bunyi apapun dari arah dapur, bisa saja Bu Suti tengah libur hari ini.
Chika menurut saat Emil meraih tangannya, dan membawanya masuk ke dalam rumah. “Sheva sakit selama tiga hari. Dia terus memanggil nama kamu. Aku sudah berpesan pada Bu Suti supaya menyampaikan pesan-pesanku. Tapi sepertinya kamu enggan peduli dengan kondisi Sheva.”
“Maaf.” Emil berucap lirih, menyadari jika dia kesalahannya..
“Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf,” lirih Chika, saat langkah mereka mulai menaiki tangga kecil teras rumah. “Karena kejadian itu aku sadar sepenuhnya. Bahwa yang diinginkan Sheva, bukan materi darimu atau dariku. Tapi kita, dia butuh dampingan kita untuk tubuh jadi pria tegar.”
Emil menghentikan langkahnya tepat di depan pintu utama. “Apa itu artinya. Kamu mau kembali bersamaku?” tanya Emil.
Chika menatap mata abu kelam di depannya. Tampak jelas pria itu, bersungguh-sungguh saat mengatakan itu padanya. “Tuntaskan masalalumu, sebelum membuka kisah yang baru denganku, Kak! Aku tidak ingin kamu mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan di sini, sampai masalalumu itu benar-benar selesai.”
__ADS_1
Emil semakin lekat menatap wanita di sampingnya. “Chika … percayalah, sejak kepergianmu yang pertama. Sejak saat itu aku merasa perlu kamu untuk menemaniku. Aku memang mencintai riella, itu dulu. Tapi, sekarang aku cinta sama kamu. Aku mencintai ibu dari anakku.” Emil menyelipkan rambut Chika yang begitu mengganggu pandangannya. “Aku harap kamu mau mengulang dari awal, semuanya! kita akan membuka kehidupan baru di sini, bersama Sheva.”
Chika mengangguk, membuat kedua sudut bibir Emil tertarik ke samping. Pria itu bahagia, karena Chika berada dalam genggamanya.
Tangan Emil terulur, memeluk tubuh Chika erat sembari memejamkan mata. Pelukan ini, rasanya masih sama, hangat, nyaman, bahkan keduanya saling mendekap erat seperti enggan terpisah.
“Kita sudah pernah melakukan akad nikah. Jadi, aku hanya perlu datang ke KUA untuk membuatkan surat nikah kita.”
Chika mengangguk.
“Tapi …”
“Kenapa?”ta ya Chika.
“Aku ingin mengadakan pesta kecil-kecilan atas kembalinya kamu di hidupku.”
“Ap—
Telunjuk Emil sudah melekat di depan bibir Chika. Meminta wanita itu untuk diam. “Aku yang akan mengatur semuanya. Tugasmu hanya mengurus aku dan Sheva.”
Chika menganggukan kepala. Dia menurut saat Emil membawanya melewati pintu masuk. Dan seketika dia terkejut, karena kedua tangan pria itu berada tepat di samping kepala, Emil mengukung tubuhnya.
Lebih parahnya, Emil tidak hanya melakukan itu. Bibirnya kini mendarat di atas bibir Chika. Memberinya sentuhan lembut yang sudah lama tidak dirasakan oleh Chika.
“Papa ngapain Ibun?!”
Suara itu membuat Emil membentangkan jarak dari Chika. Tubuh wanita itu diambil alih oleh Sheva dengan gerakan kasar. Meminta Chika untuk berada di belakangnya. “Papa!? apa papah ingin Ibun pergi lagi!? Ibun sudah ada bersama kita, jangan digigit, Pa!” ujarnya polos.
__ADS_1
Emil memang sengaja membatasi tontonan Sheva, jadi mungkin pria itu mengira, jika dia dan Chika tengah beradu gigi.