
Dalam perjalanan menuju Yayasan Surya Mentari, dada Chika bergemuruh hebat, entah kenapa bayangan Emil bersama wanita itu kembali terlintas di benaknya.
Dan saat ini hatinya tengah bimbang. Dalam diamnya, dia berpikir untuk menerima tawaran Gangga. ‘Apa aku jahat kalau memanfaatkan kebaikan Gangga dalam hal ini?’ batin Chika. Ia tahu benar hatinya masih berat untuk pindah ke lain hati. Tapi, dia tidak bisa terus berharap pria itu akan mencari dan kembali padanya.
“Mungkin dengan begitu Emil akan mengizinkan Sheva dekat denganku. Karena dia yakin kalau aku tidak akan mengganggu rumah tangga mereka,” gumam Chika, memantapkan lagi keputusannya. Dia tidak mau kesalahannya yang dulu kembali terulang.
Tiba-tiba dia teringat akan sosok Riella. Wanita yang dulu pernah menjadi sahabat karib-nya. Sahabat yang selalu bercerita tentang Emil, mendorong hatinya untuk memiliki kekasih seperti sosok Emil.
Sayangnya, Emil sendiri justru menawarkan kenikmatan padanya. Hingga keduanya menjalin hubungan terlarang. Perbuatannya dulu hanya meninggalkan penyesalan yang teramat dalam. Andai waktu bisa diputar kembali ia akan memperbaiki semuanya.
Di tempat ini, Chika begitu merindukan sahabatnya. Teman yang pernah menjadi bagian cerita dalam hidupnya. Saat ini dia tidak berani untuk sekedar tahu berita tentang Riella. Kenzo, suami Riella berpesan padanya untuk pergi dari kota Jakarta. Dia berhutang besar pada pria itu. Kelak kalau mereka diizinkan untuk bertemu, dia akan mengatakan kata 'terima kasih' untuknya. Dan semoga ketika mereka bertemu, Riella tak lagi menyimpan dendam padanya.
__ADS_1
Taksi yang ditumpangi Chika sudah berhenti di depan Yayasan Surya Mentari. Ia buru-buru turun setelah melakukan pembayaran. Dia khawatir es krim buatan Mas Dani akan mencair.
Saat Chika sudah berada di ruangan Gangga. Gadis berusia 4 tahun itu sudah terlelap di sofa. "aku pasti terlalu lama sampai dia ketiduran seperti ini," ucap Chika, penuh sesal. Dia menatap wajah polos Airin yang tampak tenang.
“Letakan saja di kulkas. Palingan sebentar lagi juga bangun!” perintah Gangga, saat melihat Chika hanya berdiri saja di samping sofa yang ditempati putrinya.
Chika benar-benar meletakan es krim pesanan Airin ke dalam kulkas, lalu beralih duduk di depan Gangga. “Belum selesai pekerjaanmu, Mas?” tanya Chika, mengamati Gangga yang tengah membubuhkan tanda tangan di kertas file.
“Enggak papa kok. Lanjutin dulu, gih! nanti setelah itu kita bicara.”
“Sambil ngomong juga nggak masalah kok, Chika! Katakan ada apa? Kau butuh bantuan apa? aku siap membantumu.”
__ADS_1
Chika tampak grogi saat hendak mengatakannya pada Gangga. Sungkan juga, karena selama ini ia sudah menganggap Gangga adalah sosok kakak yang baik untuknya.
Tapi pesan almarhumah istri dari Gangga, begitu terngiang mengisi hari-harinya. Membuatnya bingung hendak menyetujui atau menolak permintaan mamanya Airin. Sedangkan hatinya masih menjadi milik orang lain.
“Mas, apa kita bisa—
Suara Chika terputus ketika mendengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangan. Ia pun lekas berdiri, membukakan pintu ruangan Gangga. Setelah pintu terbuka lebar, seorang pria berkemeja hitam tersenyum ramah ke arah Chika.
“Pak Gangga ada?” tanya pria itu.
“Ada kok, Pak Bintang mari silakan masuk!” minta Chika, membuka jalan supaya pria bernama Bintang itu memasuki ruangan Gangga.
__ADS_1
Sembari mengikuti langkah Pak Bintang, Chika berusaha menenangkan hatinya. Ada kelegaan yang melandanya saat ini. Tapi dia juga khawatir, kalau kembali mengulangi kesalahannya.